Bau Hukaea–Laea masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu: bau daun dan rawa gambut yang tipis. Pagi jam enam, kabut menutup halaman. Dari rumah-rumah, orang kampung bergerak menuju kebun: motor dinyalakan pelan, langkah kaki menyusuri tanah basah, ternak digiring ke belakang rumah. Di sini, halaman belakang bukan sisa ruang, melainkan kebun yang luas.

Lelaki paruh baya itu berjalan lebih dulu. Langkahnya tidak tergesa, tapi tahu arah. Ia paham ondo: mana yang kuning tipis, mana yang putih. Tangannya cekatan menggali tanah basah, menyingkirkan akar kecil, mengangkat umbi tanpa ragu. Ia jarang menoleh, seolah hutan ini sudah ia baca berulang kali.
Ia tahu tata cara mengupas, tahu bagaimana racun bekerja di kulit, tahu waktu yang harus dilewati agar ondo bisa dimakan. Tetapi ketika sampai pada kayu penawar racun, ia berhenti. Langkahnya terputus.
“Wilalo,” katanya pelan.
“Hanya waktu kecil saya tahu. Sekarang saya sulit membedakannya.”

Katanya, pohon wilalo tidak besar, tidak kecil, kira-kira sebesar lengan. Kulitnya dikupas seluruhnya. Pohonnya mati. Cara ia mengatakannya datar, seolah kematian pohon adalah harga yang tak perlu dipikirkan. Saya bertanya pelan, apakah pohon itu akan mati.
“Iya,” katanya singkat.
Kami berjalan ke belakang rumah sepasang orang tua. Tanah di sana lebih lembap. Wilalo tumbuh berdampingan dengan gamal dan pohon lain. Batangnya tidak telanjang. Ada bekas kupasan lama di satu sisi, mengering seperti parut.
“Kita kupas di sisi lain,” kata lelaki tua itu, menunjuk bagian batang yang masih utuh.
“Agar dia tetap hidup.”
Lelaki paruh baya itu mendekat. Ia memegang batang wilalo, menelusuri bekas kupasan dengan jarinya. Lama.
“Oh,” katanya pelan. “Saya lupa.”
Ia tersenyum kecil ke arah saya. “Iya, benar yang ini.”
Di rumah perempuan tua itu, benda-benda tidak disimpan sebagai kenangan. Semua masih dipakai. Tiga kompe dari daun agel tergantung di kayu memanjang di bawah rumah, berdampingan dengan pakaian yang dijemur. Ukurannya berbeda, seolah kebutuhan memang tumbuh bertahap. Kompe itulah yang dijunjung di kepala, lalu ditenggelamkan di air mengalir untuk merendam ondo. Olite—wadah besar dari daun agel—dipakai menyimpan ondo di air tergenang. Sementara tolimbu, wadah kukusan ondo, juga terbuat dari daun agel.

Kami duduk di tikar anyaman tua. Tikar itu bukan dari daun agel, melainkan dari daun pandan hutan, pandan rawa yang berduri. Katanya, tikar ini lebih lembut pada tubuh, menyerap panas dan dingin. Warnanya hitam, merah, kuning. Hitamnya dari daun yang direndam dua hari di lumpur. Warna lain dari kesumba.
“Pewarna buatan akan luntur,” katanya.
“Yang ini kembali ke asalnya.”
Kompe selalu dijunjung di kepala. Tidak dipanggul, tidak diseret. Setiap kali ia mengangkatnya, tubuhnya sedikit condong ke depan.
Segala yang masuk ke perut diperlakukan seperti mahkota.
Hari pertama kami masuk hutan lebih jauh. Motor ditinggalkan di tepi jalan setapak selebar ban. Ilalang menutup jalur, tetapi bekas lintasan masih jelas. Ondo kuning tipis tumbuh di dalam hutan, bukan di kebun. Ia menjalar di antara batang-batang pohon dan bambu tua yang dibiarkan tumbuh terlalu banyak. Sebagian bambu patah karena usia, warnanya kecoklatan, tidak ditebang. Ondo melilit seperti kawat berduri hijau, mencari celah di antara yang roboh dan yang masih berdiri, hidup di sela kelimpahan yang dibiarkan.
Di sisi lain, ondo putih tumbuh dengan cara yang sama, tetapi tanah di sekitarnya penuh jejak babi dan anoa. Rumputnya rusak. Umbinya sering digali. Pada ondo kuning tipis, tanah tetap utuh. Tidak ada jejak. Tidak ada bekas congkelan. Warga tahu, racunnya terlalu keras, bahkan untuk babi dan anoa. Karena itulah ondo ini dibiarkan tumbuh, dijaga oleh ketiadaannya sendiri.
Di banyak tempat, umbi hutan diambil ketika beras tidak ada. Di Hukaea–Laea tidak begitu. Ondo justru disimpan agar beras tidak perlu ditunggu habis. Ia bukan pangan darurat, melainkan cadangan yang dijaga.
Hari kedua, seluruh ondo dikupas. Tidak ada yang bicara. Kulit umbi menumpuk di tanah. Tangan-tangan bekerja, lalu berhenti, lalu bekerja lagi.
Hari ketiga, ondo direndam di air tergenang. Kulit wilalo dicacah dan dimasukkan. Air rendamannya tidak berbau tajam, hanya bau kayu. Saya mencelupkan satu jari, lalu memasukkannya ke mulut. Rasanya biasa, tetapi ada licin halus yang tertinggal di lidah.
Hari-hari berikutnya, ondo dipindah ke kali Laea. Kami menuruni tanah licin. Airnya segar, mengalir tenang. Kali ini dipakai mandi pagi. Mereka tidak minum dari situ. Setiap rumah punya sumur gali. Di tepinya, rumput halus tumbuh di tanah hitam. Air sumurnya sangat jernih. Di sana, laba-laba air bergerak pelan, seolah menjaga.
Yang paling menentukan hidup mati ondo adalah perempuan tua itu. Dialah yang mengupas. Katanya, telapak tangan akan terasa tipis, seolah getah menyerap seluruh kulit.
“Kamu seperti bisa melihat darahmu mengalir di telapak tangan,” katanya.
“Tapi wilalo bisa membuat tanganmu kembali semula. Cucilah tangan dengan wilalo.”

Ondo kering ditumbuk di lesung satu lubang hingga menjadi bubuk halus. Perempuan tua itu diam, memegang bubuk ondo di telapak tangannya. Ia tidak segera berbicara.
“Racun telah menjadi bubuk yang siap dikukus,” katanya.
“Ondo tak boleh habis.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti aturan. Lebih seperti sesuatu yang disimpan lama. Jika tetangga meminta, ia lebih memilih memberi ondo daripada beras. Ondo butuh delapan hari. Beras hanya butuh satu kali mesin bekerja. Ondo adalah makanan yang tidak boleh kosong di dalam rumah.
Hutan di sekitar rumah basah. Rawa gambut masih hidup. Wilalo tumbuh dekat, di kebun, seperti pagar hidup. Ondo dicari lebih jauh, di hutan yang tidak dibersihkan. Setiap tengah malam hingga subuh, suara “uwuk uwuk” terdengar dari arah rawa. Pagi hari, suara itu lenyap. Di hutan, suara kumbang besar berdengung berat. Burung tanah melintas di depan kaki. Seekor elang berwarna oranye dengan paruh hitam terbang rendah, cukup dekat untuk dikenali warnanya, tidak cukup untuk diberi nama.
Terakhir saya datang ke kampung ini pada tahun 2016, dan kembali lagi tahun ini. Jalannya tetap sulit. Sinyalnya tetap lemah. Saya melewati jalan yang sama, lumpur yang sama.
Pertanyaan saya tidak berubah: bagaimana mereka bisa bertahan di tempat sesusah ini dan tetap menyimpan pengetahuan yang tidak habis?
Ondo tak boleh habis. Sebab di situlah ingatan disimpan agar tetap hidup.***
Kampung Hukaea–Laea, Januari 2026.









