Foto karya Ahmad Mualif. dok. foto Iwan M. Ridwan
Bandung (21-12) | Dalam kesusastraan Sunda sepertinya nama Aam Amilia selalu menjadi perbincangan baik dalam ranah akademik maupun sastra itu sendiri. Aam Amilia dikenal sebagai soko guru bahkan ibu dari para sastawan Sunda terutama dalam bidang prosa modern berbahasa Sunda. Teknik mengolah cerita yang sederhana bertemakan kehidupan romansa cinta dan rumah tangga menjadi cerita yang apik dan menarik, membuat pembaca larut dalam nuansa setiap ceritanya.
Dalam cerita-cerita Aam Amilia, hidup manusia itu tidak pernah dicitrakan hitam putih sebab menurutnya tidak semua orang selalu ada dalam kebenaran atau selalu dalam gelimangan dosa, tetapi manusia punya kedua sisi itu yang kadang tidak stabil. Setiap orang punya sisi baiknya dan sisi buruknya, dan itu akan muncul dalam kondisi-kondisi tertentu. Itulah yang dikupas oleh Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Bandung Prof. Dr. Chye Retty Isnendes pada didskusi Membaca Romantika dalam Sastra Sunda Aam Amilia yang diselenggarakan Minggu pagi di Perpustakaan Ajip Rosidi Jl. Garut kota Bandung.
Bukan hanya sekedar diskusi, kegiatan tersebut merupakan perayaan ulang tahun sang maestro Sastra Sunda Aam Amilia pada usia 78 tahun. Diselenggarakan oleh Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) yang merupakan salah satu komunitas Sastra Sunda terbesar di Kota Bandung dan diketuai oleh Cecep Burdansyah. Dalam sambutannya Cecep menjelaskan kebanggaannya terhadap tokoh Aam Amillia dan juga suaminya Abdullah Mustappa. Ketika dirinya berkata tentang ulangtahun kedua tokoh tersebut para sastrawan di PPSS antusias untuk merayakannya dengan cara mengupas karya-karyanya maupun kiprahnya dalam kesusastraan Sunda.
Pembicara lain yakni Sastrawan Sunda Ai Koraliati berbicara tentang teknik mengolah cerita dalam karya-karya Aam Amilia dan juga seorang sastrawan, surtadara film dan teater serta wartawan Rosyid E. Abby menceritakan dedikasi Aam Amilia dalam kiprahnya melahirkan para sastrawan baik Sunda maupun Indonesia.

Menurut Ai, Aam Amilia memiliki keunggulan dalam mengolah cerita yang sederhana menjadi luar biasa. Terlihat dalam beberapa novelnya yang menceritakan kehidupan rumah tangga mau pun cinta tetapi dalam menceritakannya pembaca dibuat terbawa suasana. Seperti dirinya yang begit emosional ketika menjelaskan tentang salah satu novel Aam Amilia berjudul Puputon. Senada dengan Prof. Retty yang mejelaskan bahwa Aam Amilia lebih mengedepankan sisi humanisme dalam setiap cerita yang dihadrikan.
Sementara Rosyi E. Abby menceritakan bagaimana hebatnya perjuangan Aam Amilia dalam meregenerasi para sastrawan termasuk dirinya. Dalam ceritanya Rosyid menjelaskan bahwa dirinya dan kawan-kawan sastrawan kala itu bukan hanya dididik sebagai penulis tetapi sekaligus belajar hidup. Bahkan Aam Amilia sempat menyediakan rumah kontrakan untuk anak-anak didiknya itu dan juga menyediakan bekal sehari-hari.
Masih menurut Rosyid, selain dirinya ada banyak generasi yang Aam Amilia lahirkan, mulai dari komuntas Caraka Sundanologi, Paterm, Nurani, hingga yang terakhir yang hari ini masih berjalan yakni Panglawungan 13 sebuah kelompok belajar yang diasuh Aam Amilia.

Dalam kesempatan itu Aam Amilia sendiri berbicara bahwa dirinya menulis karena punya perhatian pada khazanah sastra Sunda yang dulu hanya berbicara tentang kehidupan desa. Aam Amilia yang pada waktu itu berusia 16 tahun mengeritik fenomena sastra Sunda yang berbicara tentang kehidupan desa itu, maka dirinya menulis sastra (cerpen) yang bertemakan kehidupan kota yang menceritakan tentang olahraga basket. Dari sana kemudian Aam Amilia meneruskan kiprahnya hingga saat ini di usia yang sudah menginjak 78 tahun. Aam berpesan kepada hadirin yang merupakan para pegiat sastra dan aktivis sastra Sunda untuk banyak membaca, menulis, jangan sombong dan jangan minder, karena kalau bukan kita yang menghidupkan sastra daerah mau siapa lagi.
Selain diskusi kegiatan tersebut dimeriahkan oleh pertunjukan dari beberapa seniman yang membawakan penggalan-penggalan cerita dari novel Aam Amilia, seperti pertunjukan teater karya sutradara Rosyid E. Abby, pembacaan penggalan novel dari Rinrin Candraresmi dan juga ditutup oleh penampilan musisi Fery Curtis yang membawakan beberapa musikaliasi puisi.





