Lembayung yang Pandai Mengaji

lembayung rika jo 100

Lembayung senja turun pelan-pelan, seperti tirai tebal yang sengaja diturunkan agar panggung bisa berganti tanpa tepuk tangan. Jingga menghilang, diganti hitam yang kian pekat, sepekat ingatan yang seharusnya sudah dikubur rapi. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tak lagi membuka peti tua itu. Tapi ingatan, seperti kecoak, selalu tahu celah paling kecil untuk keluar.

Ketika pertama kali aku menempati rumah peninggalan keluarga suamiku, orang-orang kampung berdatangan. Mereka datang berombongan, seperti arisan tanpa undangan resmi. Ada yang membawa senyum, ada yang membawa pisang, dan sebagian besar membawa cerita. Aku menyambut mereka dengan teh hangat dan prasangka baik.

Awalnya hanya basa-basi yang aman: rumah ini akhirnya berpenghuni lagi, halaman jadi hidup, lampu tak lagi gelap pukul tujuh malam. Lalu mereka mulai mengomentari caraku merawat rumah: cat tembok yang kubiarkan pudar, genteng yang belum sempat kuganti. Sampai di situ, semuanya masih terdengar seperti kepedulian.

Namun, cerita punya kebiasaan buruk, ia selalu ingin tumbuh. Dari sekadar komentar, mereka mulai bercerita tentang para penghuni lama rumah itu. Tentang keluarga kandung suamiku, tentang saudara-saudara yang pernah tinggal, tentang masa lalu yang katanya “sayang kalau dilupakan”. Aku mengangguk, menaruh sendok di cangkir, menganggapnya angin lalu.

Angin itu lama-lama berubah jadi badai gosip.

Mereka bercerita bagaimana dulu rumah itu dipakai kumpul-kumpul sambil minum-minum. Bagaimana keluarga yang di luar dikenal alim dan rajin ceramah, ternyata gemar berpakaian mini, padahal hanya berjarak satu kecamatan dari rumah. Bagaimana kalimat suci—tentang biji zarah dan hari pembalasan—dipakai sebagai senjata untuk saling mengutuk sesama darah daging. Aku mendengarnya seperti mendengar radio rusak: berisik, tak bisa dimatikan, dan selalu memutar lagu yang sama.

Aku memilih diam. Diam adalah posisi netral yang sering disalahartikan sebagai persetujuan. Tapi aku tak mau ambil bagian. Aku hanya menunggu waktu berlalu, menunggu rumah itu kembali sunyi.

Waktu memang berlalu. Suamiku meninggal. Aku pindah. Secara hukum, emosional, dan geografis, aku tak lagi punya hubungan apa pun dengan keluarga itu. Kupikir kisah selesai sampai di sana.

Ternyata tidak.

Fitnah datang seperti paket tanpa nama pengirim. Dikirim setelah jarak waktu dan tempat cukup aman untuk melempar batu tanpa terlihat. Namaku ikut terseret, entah sebagai figuran atau kambing hitam tambahan. Aku memilih tak ambil pusing. Sepandai-pandainya tupai melompat, pikirku, ia akan jatuh juga. Tak perlu aku mengejar untuk mendorongnya.

Pesanku sederhana, walau tak pernah kusampaikan langsung: akui saja salahmu, terima dirimu apa adanya. Tak perlu membawa-bawa aku. Dan sungguh, tak perlu mengumumkan bahwa kini ilmu agamamu sudah mahir hanya karena rajin ikut pengajian. Ilmu tak butuh pengeras suara.

Suatu malam, aku bermimpi. Seekor kupu-kupu rama hitam masuk ke kamarku. Katanya, akan ada tamu. Lalu datanglah mereka: perempuan dengan rok mini yang memperlihatkan betis mulus, betis yang selama bertahun-tahun disembunyikan hijab tebal. Mereka turun dari mobil paling keren di awal tahun 2000-an, tertawa sambil membawa gergaji mesin.

Dalam mimpi itu, mereka menumbangkan pohon satu per satu. Mesin dipeluk, direndam air agar suaranya tak terdengar polisi hutan. “Ini kan pohon yang ditanam nenek moyang kita zaman kolonial,” kata mereka santai. “Artinya milik kita. Bebas kita panen.” Dalih selalu terdengar masuk akal jika diucapkan dengan nada yakin.

Aku gemetar. Di meja makan, tubuh-tubuh rebah seperti hidangan. Aku ingin muntah. Ini bukan dongeng yang pernah diceritakan ibu mertuaku tentang keluarga terhormat dan keturunan mulia.

Aku terbangun dengan keringat dingin. Menyadari: itu hanya mimpi, tapi mimpi sering lebih jujur daripada ceramah.

Entah di mana mereka sekarang. Entah di dimensi apa. Aku tak ingin tahu. Biarlah lembayung menutup semuanya. Teruslah kalian menjadi munafik, pikirku. Dunia selalu menyediakan panggung untuk sandiwara semacam itu. Dan penonton—sayangnya—tak pernah sepi.***

DONGENG DI ATAS MEJA
Baca Tulisan Lain

DONGENG DI ATAS MEJA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *