Nenek Sri Mulyani yang Pura–Pura
Guoblok;
“Apakah semua harus dari negara?
Ataukah ada partisipasi dari masyarakat?”
katamu, nenek Menteri.
Seperti hujan
yang menanyakan airnya sendiri.
Nenek si maha lucu.
Seakan ribuan sekolah swasta
lahir dari kantong APBN
padahal kau pura-pura tak tahu
banyak bapak hujan-hujanan sebagai ojol
untuk membeli seragam olahraga anaknya,
dan banyak ibu
menjadi lilin di pasar malam
agar anaknya bisa menyalin rumus matematika.
Ribuan guru honorer tersenyum difoto
sedang dompet mereka penuh kapur
perut mereka penuh kosong.
“Apakah kami ini pocong, Nek ?
Mengajar tanpa kau sebut,
membayar tanpa kau dengar?”
Triliun-triliun angka di meja rapatmu
seperti kelereng dalam saku anak kecil
bergemerincing indah,
tapi tak pernah sampai ke kantin sekolah.
Angka-angka itu bisa tepat,
namun pertanyaanmu, Nenek,
melayang di atas mistar
seperti layangan putus benang
tak pernah kau sadari.
Sudah sejak lama
Kami menjawab pertanyaanmu
dengan dompet yang sobek,
dengan peluh yang garam,
dengan diam yang lebih keras
dari pidato siapapun.
Tapi kau melupakannya.
Atau pura-pura lupa, pura-pura goblok
Menjadi pejabat yang menutup mata
saat rakyat berubah jadi sapi perahan.
-HusniHamisi, 2025






