SAJAK-SAJAK Husni Hamisi

monolog alat alat di bengkel motor

Monolog Alat-Alat di Bengkel Motor

Di ujung gang yang jarang tercatat
kami, para alat bengkel, berkumpul
dalam zikir yang sunyi.
Dari lubang mata obeng
hingga napas terakhir kompresor
kami menghafal ayat-ayat yang
tak tertulis dalam mushaf
tapi terpahat pada dinding
gemetar jiwa yang singgah.

Kunci pas 14-
ia tak hanya mengencangkan baut
yang longgar dari rahmat-Nya.
Setiap putaran adalah zikir
setiap suara “krek” adalah takbir
makhluk-makhluk besi yang kembali
mengingat asal muasalnya
dari debu dan bara.

Tang lancip-
telah menjepit banyak luka
mengangkat duri dari ban dan dada
namun tak pernah mampu
menjangkau lubang rindu paling palung
yang hanya bisa ditambal dengan cahaya.

Rantai motor-
Kami sering iri pada rantai motor
yang terus berputar
meski penuh oli dan luka.
Tak seperti manusia yang sering mogok
di tengah jalan menuju Tuhan
musabab lupa bahwa bensinnya
adalah kesabaran.

Kompresor tua-
yang tak lagi bisa meniup angin
dengan gagah,
masih menyimpan dalam
dengungannya. kisah lelaki yang
jatuh sujud di lantai bengkel
sebab tak tahan lagi dengan sunyi dan hutang.
Ia tiba-tiba—di sela karat dan suara motor tua
ia menyebut nama Tuhan
dengan getar yang tak bisa diservis siapa pun.

Obeng dan palu-
telah berhenti berdiskusi
karena mereka mengerti-
hakekat kerusakan bukan hanya pada gir
atau kampas rem,
tapi pada arah kiblat hati yang sering
melenceng meskipun kompas dunia
terus berdetak.

Dan kami, para perkakas bengkel,
hanya bisa menunggu,
sampai manusia-manusia itu sadar-
bahwa disetiap kerusakan adalah panggilan
dan setiap suara mesin yang batuk
adalah azan yang halus-
mengajak pulang.

Sebab Tuhan
tak hanya berbicara dari mimbar,
kadang Ia bersemayam di dalam tangki
bensin yang kosong
di oli yang tumpah
di baut yang tak bisa dilepas
di lelah yang tak bisa dijelaskan.

-HusniHamisi, 2025

SAJAK-SAJAK Rachman Sabur
Baca Tulisan Lain

SAJAK-SAJAK Rachman Sabur

Yang Menyimpan Kepala
dari Benturan Takdir

Aku adalah helm.
Kandang lembut dari busa dan kaca.

Setiap pagi aku menelan kepalamu
yang dipenuhi rencana, mimpi, juga kecemasan.

Di dalamku, suara dunia meredam,
dan yang terdengar hanya degupmu sendiri
seperti azan dari masjid yang jauh
entah mengajak pulang atau mengingatkan
bahwa setiap perjalanan
punya titik tuk berhenti.

Pada masanya aku retak suatu hari nanti
menjadi pecahan yang terhampar
di jalan menuju surga,
sebab tugasku bukan menahan hidup
selama-lamanya,
tapi menundanya
sampai kau berucap “tawakkaltu alallah”
di tengah laju di sisa usiamu.

-HusniHamisi, 2025

PUISI Yesmil Anwar
Baca Tulisan Lain

PUISI Yesmil Anwar

Dua Lampu Spion: Kesaksian di Padang Mahsyar

Di jalan raya dunia, mereka hanya dua
lingkaran kaca yang setia
menoleh ke belakang.

Namun di jalan raya akhirat
mereka menjelma dua saksi
yang dipanggil maju di hadapan
singgasana Cahaya.

Kiri berkata dengan suara serak:
“Aku memantulkan semua yang ia tinggalkan-
orang tua di beranda
anak kecil yang melambaikan tangan
di pinggir sawah
dan doa-doa yang ia buru-buru tinggalkan
karena takut terlambat ke kantor.”

Kanan menunduk, suaranya bening:
“Aku menyimpan semua yang ia lihat
tapi tak ia balas-
senyum nenek tua
tangan peminta-minta
dan cahaya subuh yang ia pandang
tanpa hati bertafakkur.”

Sang Cahaya bertanya:
“Apakah ia pernah berhenti, sembari
merenung
dan bersyukur?”

Keduanya diam.
Hanya terdengar gema klakson masa lalu
dan deru mesin yang tak pernah ia matikan
meski hatinya sedang kehausan.

Lalu, entah dari mana,
angin yang pernah menampar wajahnya
di turunan tajam
datang membawa bau jalanan basah-
bau yang dulu ia kenal
tapi tak pernah ia terjemahkan menjadi tasbih.

Di hadapan Tuhan, dua spion itu
tak lagi bundar.
Mereka menjadi dua mata
menatap langsung ke lubuk ruhnya,
memantulkan seluruh perjalanan
dari tangisan pertama
hingga detik terakhir di tikungan maut.

Dan ia pun mengerti,
bahwa setiap kilasan di kaca itu
bukan sekadar masa lalu,
tetapi undangan untuk pulang
yang tak pernah ia jawab.

-HusniHamisi, 2025

PUISI Gusjur Mahesa
Baca Tulisan Lain

PUISI Gusjur Mahesa


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *