— Ada yang datang di kepala, memilih menjadi puisi, saat pengumuman amnesti dan abolisi diumumkan orang-orang itu, seraya mereka berjabat tangan dan bibir yang mengenakan senyum kepuasan — :
Tanda Tanya di Ujung Pabrik
Kami berdiri
Di gerbang pabrik yang tak lagi bernama,
Menunggu daftar baru,
Tapi yang datang hanya angin
Membawa kertas lamaran
Yang pernah kami tulis
Dengan tinta utang dan air doa terakhir.
(huha_2025)

PUISI Galih M. Rosyadi
Gaji yang Turun Bersama Hujan
Sore tadi, gaji turun,
Tapi juga hujan—
Kami tak sempat menadah
Keduanya.
Yang satu habis untuk sewa kamar,
Yang lain membasahi sepatu
Dan membuat kami demam
Sepanjang bulan depan.
(huha_2025)

SAJAK-SAJAK Ayie S. Bukhary
Manekin Tanpa Kepala
Di toko-toko mewah
Ada manekin tanpa kepala—
Aku berdiri di hadapannya
Dan merasa disapa.
Mungkin karena kami berdua
Tak pernah tahu
Siapa yang memutuskan
Kami hanya dipajang,
Kemudian dilakbankan.
(huha_2025)

PUISI Harris Priade Bah
Upah Harian
Kami digaji dengan jam dinding
Yang setiap detiknya mencuri napas,
Dan disuruh bersyukur
Karena masih bisa batuk
Tanpa potong gaji.
Upah kami bukan angka
Melainkan cerita anak
Yang menolak sarapan
Karena tahu besok
Tak ada minyak goreng.
(huha_2025)

PUISI Yesmil Anwar
Dapur yang Tidak Tahu Siapa
Menteri Tenaga Kerja
Pengangguran punya cara sendiri
Menyanyikan lagu kebangsaan:
Dengan perut kosong,
Kompor padam,
Dan istri yang diam-diam
Menjajakan mimpinya
Ke toko kelontong terdekat.
(huha_2025)

PUISI Agung Maulana
Refleksi di Kaca Etalase
Kami yang berdiri di luar toko
Melihat boneka-boneka manekin
Dengan baju kantor
Dan sepatu pantofel.
Kami mengenali tubuh kami
Di balik pakaian itu,
Tapi tak punya kunci
Untuk masuk ke kaca.
(huha_2025)

PUISI Yoyo C. Durachman
Pengumuman di Balik Tembok Bata
Di dinding itu tertempel lowongan
Bertahun-tahun lamanya.
Tapi yang menempelkan
Sudah meninggal,
Yang mencetak brosurnya
Sudah jadi tukang parkir,
Dan yang membaca
Cuma kami—
Yang tak lagi bisa membaca apa pun
Selain tanda tanya
Di wajah anak kami.
(huha_2025)






