Kitab Arang Laborombonga
(kutukan yang ditanam
di tenggorokan para
penambang tanah moyang)
Malam itu, kami terbangun dari mimpi yang bukan mimpi—tapi rekaman luka yang dililitkan ke batang leher kami oleh tangan raksasa yang tubuhnya menguap dari perut bumi. Si Laborombonga. Laborombonga.
Ia datang. Naik perlahan dari bawah.
Dari kedalaman yang dilubangi alat-alat berat,
dari liang tempat akar-akar tua menjerit dikepras,
dari dasar hutan yang dibenamkan memo-memo korporasi.
Laborombonga tinggi, tak berbentuk seperti dalam imajinasimu. Ia bukan makhluk. Ia adalah kenangan buruk hutan tentang manusia. Matanya– lubang tambang yang dalam, dan dari sana keluar asap yang menyimpan telur-telur kutukan. Rambutnya– belut-belut hitam dari sungai yang menghitam. Tubuhnya–lumpur pekat dari sumur tua yang t’lah disegel dan ditinggalkan.
Ia berjalan pelan. Dan di setiap langkahnya,
tanah memuntahkan sisa-sisa janji reklamasi
yang dilipat menjadi brosur sengketa. “Aku bukan legenda,” katanya.”Aku bukan dongeng anak-anak”. Aku trauma leluhur Tolaki yang kalian timbun dengan penggalian nikel juga emas. Mulutnya terbuka lebar, dari sana terjun ribuan nama kampung yang kini jadi kode wilayah pertambangan. Desa-desa yang dulu punya pohon suci, kini menjadi pos pemeriksaan.
Kuburan nenek moyang diratakan, ditukar dengan tabel keuntungan triwulan.
Kami bertanya—menggigil— ” Apa yang kau mau, Laborombonga?.” Ia menatap kami, dengan suara-suara tetua yang dulu melarang bicara soal tanah menggema dari tenggorokannya:
“Aku mau anakmu bermimpi tentang burung besi yang terbakar. Aku mau kalian mencium bau daging meleleh di setiap subuh. Aku mau ladang di dapurmu tumbuh derita kemarau. Aku mau tangan yang dulu menandatangani ijin eksplorasi, gemetar setiap kali menyuapi cucu-cucunya.”
Sambil menyentuh dahi kami, pohon-pohon tua di hutan Podidaha menjerit dalam kepala. Bukan karena ditebang, tapi karena dikhianati keserakahan. Ia menanam api di ubun-ubun kami. Kami mencoba berdoa. Namun setiap doa terdengar seperti batuk penuh darah. Penuh darah.
Kami mencoba menangis.Mencoba menangis. Namun air mata kami adalah minyak kotor yang tumpah dari kapal takeboat yang menyeret tonkang ke samudra.
Sejak malam itu, tidak ada dari kami yang bisa menatap api tanpa merasa dicekik. Kami melihat wajah Laborombonga dalam puntung rokok,
dalam asap-asap knalpot, dari cerobong peleburan logam, dalam layar ponsel yang menyala saat setiap berita tambang baru dirilis.
Ia berbisik—bukan ke telinga, tapi ke usus dua belas jari kami, seperti cacing-cacing yang menulis ulang sejarah dengan gigitan. “Kalian bisa menutup mulutku dengan tanah. Tapi aku tinggal di paru-parumu sekarang. Dan aku akan meremas jantung di setiap kalian menarik napas di atas tanah yang kalian curi.”
Kini kami tahu. Laborombonga bukan raksasa.
Ia adalah utang yang tidak bisa dibayar dengan uang. Ia akan hidup dalam lendir paru-paru anak-anakmu, dalam batu ginjal ibumu yang tak bisa berobat, dalam suara serangga malam yang mendadak bisu setiap kali truk tambang penuh muatan melintas.
Kau mungkin tidur malam ini. Tapi besok, saat hujan pertama turun ke tanah bekas tambang,
dan kau cium bau besi dan logam, dan terdengar bunyi desis halus dari genangan, jangan bilang aku tak pernah memperingatkanmu.
itu bukan air. Itu napas kutukan Laborombonga.
(huha,2025)







One thought on “PUISI Husni Hamisi”