SAJAK-SAJAK Iwan M. Ridwan

diani rotated

SEHELAI BUNGA ILALANG DI WAJAH AIR

Seperti sehelai bulu dari bunga ilalang
aku terhempas angin. Terseok tanpa arah
dan menapaki satu demi satu persinggahan
Tiada henti, kecuali aku diterjang hujan
atau berhenti di wajah air

Rasa pekat yang menyelimuti keingintahuanku
tentang hari esok; adalah bekal untukku
memilah apa-apa untuk digenggam
Membagi ruang
seakan semuanya dapat ditempati
atau sekadar menginjakan kaki

Luka tak menentu,
merayap dalam helaan napas
setiap yang bernyawa. Menembus bebatuan
dalam hati-hati yang tak pernah tahu
apa itu empati. Mengeras, menghitam
bahkan tumbuh menjadi batu (lagi).

Bandung, 2025

PUISI Ayie S Bukhary
Baca Tulisan Lain

PUISI Ayie S Bukhary

SAJAK MALAM UNTUK DIANI

Jangan kau buat hujan di hatimu, Diani.
Biarkan gerimis hanya menghiasi kesunyian
Jangan pula kau pakai awan-awan
mendung itu sebagai warna senja
pada matamu. Sebab masih banyak hati
yang kan memilihmu sebagai penghuni.
Rinai hujan, senja yang menua
atau fajar yang masih bernama malam
akan tetap sebagai jalan yang mesti
kita lalui, kita lewati.

Suara-suara keheningan akan melindungimu
dari keterjagaan. Mimpi orang-orang lapar
bersama luka orang-orang asing
adalah cermin, saat kau mendandani diri.

Kau bersujud pada keagungan.
Rintih pilu masa lalu, kubur dalam-dalam
sehingga tak tercium lagi baunya.
Kemari! Semayamkan di hamparan dadaku
atau di atas bahu-bahu
orang yang mencintaimu : orang tuamu,
saudara-saudaramu, sahabatmu, malaikat
atau Tuhan Pelindungmu sekalian.

Bendung air matamu
dengan sejuta kenangan manis
atau mimpi tentang masa depan,
sebab esok masih menjanjikan tawa.
Warna pelangi akan selalu hadir
sebagai pangeranmu yang paling setia.
Sedang bayangan-banyangan
yang selalu melukaimu akan kabur
dan terbunuh oleh penyesalannya
sendiri. Kita akan menang, Diani…

Bandung, 2015


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *