Pagi itu, sebuah map cokelat tergeletak di antara barang-barang yang hendak ia bawa pulang. Sudutnya terlipat, penguncinya sudah longgar. Ia membuka map itu untuk memastikan tak ada dokumen pribadi yang tertinggal. Beberapa lembar kertas terselip di dalamnya. Salah satunya membuat tangannya berhenti. Ia mengenali dokumen itu. Beberapa bulan lalu, lembar tersebut pernah berpindah dari satu tangan ke tangan lain dalam sebuah rapat yang berlangsung hampir dua jam.
“Ini hanya soal administrasi,” kata seseorang waktu itu.
Pendingin ruangan terasa terlalu dingin. Gelas-gelas air mineral di atas meja sebagian besar belum tersentuh. Dokumen di hadapannya terbuka pada halaman yang membutuhkan tanda tangan. Ia membaca lagi daftar kegiatan, tanggal pelaksanaan, dan laporan yang menyatakan semuanya telah selesai. Beberapa kegiatan memang berlangsung. Ia mengenali nama-nama orang yang terlibat. Akan tetapi, ada pula kegiatan yang tercatat selesai, padahal ia tahu pelaksanaannya tidak pernah seperti yang tertulis.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
“Data ini tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya,” katanya.
Seorang pejabat di ujung meja menggeser kacamatanya. “Sudah dibicarakan. Tidak perlu diperpanjang.”
“Tapi kalau saya tanda tangani, saya ikut membenarkan laporan ini.”
“Anda terlalu jauh memikirkan akibatnya.”(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Ia menunduk lagi. Ada beberapa nama yang dikenalnya, beberapa kegiatan yang memang terlaksana, tetapi ada pula bagian yang tak pernah ia saksikan. Ia tahu apa yang sedang diminta darinya. Selama ini, tanda tangan itu bukan sekadar tanda bahwa sebuah berkas telah dibaca. Namanya akan ikut mengesahkan isi laporan. Ia juga tahu, menolak bukan perkara sederhana. Bertahun-tahun ia bekerja di tempat itu. Tidak sedikit urusan pribadi yang dikorbankan demi menyelesaikan tugas. Ia bukan orang yang gemar berdebat. Selama pekerjaan selesai, ia biasanya memilih pulang tanpa membawa persoalan kantor.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
“Bagaimana?” seseorang bertanya.
Pena di tangannya sempat bergerak, lalu berhenti. Ia memandang kolom tanda tangan cukup lama sebelum meletakkannya kembali di atas meja.
“Saya belum bisa menandatangani.”(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Tidak ada yang membanting meja. Tidak ada suara keras. Hanya beberapa pasang mata yang mendadak kehilangan keramahan. Rapat berlanjut ke agenda berikutnya. Seseorang memindahkan gelas, yang lain membuka telepon genggam. Ia duduk sampai rapat selesai, meskipun sejak itu merasa dirinya tidak lagi benar-benar berada di dalam ruangan.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Perubahan tidak datang sekaligus. Pesan-pesan pekerjaan yang biasanya datang langsung mulai melewati dirinya. Beberapa keputusan baru diketahuinya setelah semuanya selesai. Dalam pertemuan, pendapatnya tidak lagi diminta sesering dahulu. Ia masih datang, mengerjakan tugas, mengenakan seragam yang sama. Hanya percakapan yang perlahan menyusut, juga sapaan yang dahulu terasa akrab. Pada awalnya ia menganggap semua itu kebetulan. Lama-lama, ia berhenti mencari alasan.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Pernah suatu sore, seorang rekan menghampirinya di tempat parkir.
“Kalau saya jadi Anda, saya tanda tangani saja. Toh semua orang sudah sepakat.”
Ia sedang memasukkan kunci ke saku. “Kalau semua orang sepakat, apakah itu cukup?”
Rekannya tertawa pendek. “Jangan terlalu idealis. Kita juga punya keluarga.”(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Ia tidak menjawab. Setelah rekannya pergi, ia masih berdiri beberapa saat di samping kendaraan. Kalimat itu mengikutinya sampai ke rumah. Bukan karena ia tidak memikirkan keluarganya, justru karena itulah ia mulai menghitung hal-hal yang selama ini tak pernah benar-benar masuk dalam pertimbangannya.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Malamnya, ia duduk di ruang tengah. Istrinya sedang melipat pakaian, sementara televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Ia bercerita tentang rapat, dokumen, dan perubahan sikap orang-orang di kantor. Tidak semuanya diceritakan. Ada bagian yang bahkan belum sanggup ia susun menjadi kalimat.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
“Jadi, kamu mau bagaimana?” tanya istrinya.
Ia memandangi seragam yang tergantung di belakang pintu. “Saya belum tahu.”
“Kalau bertahan?”
Ia mengusap wajah. “Saya juga belum tahu.”
“Kalau pergi?”
Kali ini ia tidak segera menjawab. Di luar, sepeda motor melintas, disusul gonggongan anjing dari rumah tetangga. Ia melihat ke arah seragam itu lagi.
“Ada banyak yang harus dilepaskan.”
Istrinya kembali melipat pakaian. Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Jangan sampai kamu pergi cuma karena marah.”(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Ia mengangguk, meskipun belum sepenuhnya menerima perkataan itu. Ia memang marah. Ada keinginan untuk mengatakan semuanya di hadapan orang-orang yang belakangan menjauhinya, mengungkap hal-hal yang selama ini ditahannya. Beberapa kali ia membayangkan percakapan itu, lengkap dengan jawaban yang seharusnya ia berikan. Namun, setiap kali bayangan tersebut muncul, ia tahu dirinya belum tentu sedang mencari penyelesaian. Bisa jadi ia hanya ingin orang lain merasakan sesuatu yang selama ini ditanggungnya sendiri.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Hari-hari berjalan seperti biasa. Ia masih menyapa petugas keamanan, menjawab pesan pekerjaan, dan menyelesaikan tanggung jawab yang belum selesai. Sesekali ia tertawa bersama rekan-rekan lama. Hanya saja, percakapan mereka tak lagi sepanjang dahulu. Ia mulai terbiasa makan siang sendiri. Beberapa kali, ketika melewati ruangan tempat rapat itu berlangsung, langkahnya melambat tanpa ia sadari. Ia tidak selalu ingat isi rapat tersebut, tetapi masih ingat letak pena di atas meja dan kolom kosong yang menunggunya.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Surat pengunduran diri sempat diketiknya dua kali. Draf pertama dihapus. Draf kedua dibiarkan beberapa hari di komputer sebelum akhirnya dicetak. Ia tidak segera menandatanganinya. Ada penghasilan yang harus dipikirkan, ada kebutuhan rumah tangga, ada rutinitas yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya. Ia bahkan sempat membayangkan bagaimana rasanya bangun pagi tanpa harus mengenakan seragam dan berangkat ke tempat yang sama. Bayangan itu tidak selalu terasa melegakan. Kadang-kadang justru membuatnya gelisah.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Pada suatu pagi, surat itu akhirnya ia serahkan.
Petugas administrasi membacanya sekilas, lalu menatapnya. “Sudah dipikirkan baik-baik?”
“Sudah.”
“Sayang sekali. Masa kerja Anda masih panjang.”
Ia tersenyum kecil. “Saya juga sempat berpikir begitu.”(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Petugas itu membubuhkan tanda terima, lalu memasukkan surat ke dalam map. Sesederhana itu. Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Ia kembali ke meja kerjanya dan menyelesaikan beberapa urusan yang masih tertunda. Hari itu belum langsung berubah menjadi hari perpisahan. Masih ada pekerjaan yang harus dibereskan, pesan yang perlu dijawab, dan orang-orang yang harus ditemuinya seperti biasa.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Hari terakhirnya tiba tanpa banyak perbedaan. Koridor tetap ramai, telepon berdering, seseorang mengeluhkan pekerjaan yang belum selesai. Ia membereskan meja, mengeluarkan buku catatan, foto keluarga, pena, dan benda-benda kecil yang selama ini memenuhi laci. Sebuah lencana terjatuh ketika ia menarik map dari rak. Ia memungutnya, membersihkan debu dengan ujung lengan baju, lalu memasukkannya ke dalam kardus.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Seorang rekan lama datang ketika ia sedang melipat seragam cadangan.
“Jadi benar-benar selesai?”
Ia mengangguk.
“Kalau boleh tahu, apa yang paling kamu sesali?”
Tangannya berhenti pada lipatan kain. Ia tidak segera menjawab.
“Barangkali terlalu lama mengira keadaan akan berubah sendiri.”
“Dan yang paling kamu syukuri?”
Ia meletakkan seragam itu di atas buku catatan. Matanya sempat tertuju pada lencana yang tadi dibersihkannya.
“Masih sempat memilih.”
Rekannya terdiam. Ia membantu mengangkat kardus, kemudian meletakkannya dekat pintu. Sebelum berpisah, keduanya berjabat tangan. Tidak ada janji untuk sering bertemu. Mereka hanya saling menepuk bahu, lalu rekannya kembali ke ruang kerja.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Di luar gedung, matahari sudah condong. Ia memasukkan kardus ke dalam kendaraan. Sebelum menutup pintu, ia melihat seragam yang terlipat di atas buku-buku catatan. Mendadak muncul keinginan untuk mengambilnya kembali, membawanya masuk, lalu menggantungnya di lemari seperti biasa. Ia duduk di balik kemudi tanpa menyalakan mesin.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Dari tempatnya, gedung itu masih terlihat seperti hari-hari sebelumnya. Beberapa orang berjalan melintasi halaman. Seorang petugas keamanan menyapa pengendara yang baru masuk. Tak ada tanda bahwa seseorang baru saja mengakhiri masa pengabdiannya di sana. Ia menunduk, memperhatikan kedua tangannya di atas kemudi. Tangan yang sama pernah menerima penghargaan, mengisi laporan, menandatangani banyak berkas, dan menolak satu lembar yang sampai sekarang masih disimpannya. Ada bagian dari hidupnya yang tertinggal di gedung itu. Ia belum tahu bagaimana harus membiasakan diri tanpa kehadirannya.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Mesin kendaraan akhirnya menyala. Ia melirik gedung itu melalui kaca spion, kemudian menjalankan mobil perlahan. Di antara orang-orang yang pernah bekerja dengannya, ada yang sungguh-sungguh mengabdi dan ada pula hari-hari yang ingin tetap dikenangnya. Ia tidak ingin seluruh masa kerjanya diringkas oleh satu rapat dan selembar dokumen. Jalan di hadapannya mulai ramai. Ia mengurangi kecepatan ketika sebuah sepeda motor menyeberang, lalu kembali memusatkan pandangan ke depan.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Di rumah, kardus itu diletakkannya di dekat lemari. Istrinya keluar dari kamar dan bertanya apakah semua barang sudah dibawa.
“Sudah,” jawabnya.
Ia membuka kardus, mengambil seragam, lalu melipatnya sekali lagi sebelum meletakkannya di rak paling bawah. Setelah itu, ia mengeluarkan map cokelat yang sejak pagi dibawanya. Dokumen tersebut masih berada di dalamnya. Ia membaca sebentar bagian yang dahulu diberi tanda stabilo, kemudian menutup map itu.(Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)
Di bawah garis tanda tangan, masih ada ruang kosong. [](Source: kosapoin.com/nama-di-bawah-garis)

PERANG DINGIN
Negara: United States (Arizona)
Device: Desktop
OS: Linux, Browser: Chrome


