Menanggapi tulisan Ganjar Kurnia “Ketika Akal Sehat Mendapat Kursi”(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Tulisan Ganjar Kurnia tentang “akal sehat” yang akhirnya memperoleh kursi kekuasaan sesungguhnya bukan hanya kisah tentang perpindahan seseorang dari luar pagar ke dalam rumah kekuasaan. Ia adalah kisah yang lebih dalam: tentang bagaimana manusia diuji ketika kritik berubah menjadi kewenangan, suara menjadi posisi, dan gagasan berhadapan langsung dengan kenyamanan kekuasaan. Dalam perspektif budaya Sunda, persoalannya dapat dibaca melalui filosofi Paramalenyep: perjalanan manusia menuju kejernihan batin, kemampuan menempatkan diri, membaca tanda kehidupan, serta menjaga keseimbangan antara pikiran, rasa, tindakan, alam, dan sesama. Karena itu, pertanyaan terpenting bukan lagi: Apakah ia berubah setelah mendapatkan kursi? Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: Apakah kursi itu mengubah kesadarannya? Sebab manusia dapat berpindah tempat tanpa berpindah prinsip. Tetapi manusia juga dapat mempertahankan kata-kata yang sama sementara diam-diam mengubah arah jiwanya.(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Di luar pagar, kritik memang mudah terdengar. Seseorang dapat melihat kebocoran genting, fondasi yang miring, atau dinding kekuasaan yang mulai retak. Namun ketika ia masuk ke dalam rumah, ia tidak lagi hanya melihat bangunan dari luar. Ia harus ikut memikul atap, memperbaiki fondasi, dan bertanggung jawab atas keputusan penghuni rumah. sinilah Paramalenyep menjadi penting. Kesadaran tidak berhenti pada kemampuan berpikir benar, tetapi bergerak menuju kemampuan merasakan yang benar dan melakukan yang benar. Dalam jiwa budaya Sunda, manusia tidak cukup hanya pinter. Ia harus menjadi manusia yang cageur, bageur, bener, pinter. Kepandaian tanpa kebenaran dapat menjadi alat pembenaran. Kebenaran tanpa kebaikan dapat menjadi kekerasan moral. Sementara kebaikan tanpa kecerdasan dapat kehilangan daya untuk menyelesaikan persoalan. Maka “akal sehat” sesungguhnya baru lengkap apabila ia bertemu dengan rasa.(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Di sinilah saya melihat hubungan dengan tiga nilai: Aub, Guyang, dan Talitian. Aub adalah “kesanggupan membuka diri terhadap yang lain” —merasakan keadaan orang lain, memahami penderitaan masyarakat, dan tidak menjadikan rakyat sekadar angka dalam laporan. Akal sehat yang tidak memiliki aub akan mudah menjadi dingin. Ia dapat benar secara logika, tetapi jauh dari denyut kehidupan. Guyang adalah “kesadaran bahwa kehidupan tidak pernah dibangun sendirian”. Ada kebersamaan, gotong royong, saling menghidupi, dan saling menguatkan. Kekuasaan bukan panggung seorang individu. Ia adalah ruang bersama. Karena itu, orang yang memperoleh kursi seharusnya tidak merasa lebih tinggi daripada mereka yang berdiri di luar pagar.(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Sedangkan Talitian adalah “ikatan tanggung jawab”. Inilah ujian terbesar seseorang setelah memasuki kekuasaan. Ketika berada di luar, seseorang bebas mengatakan apa saja. Ketika berada di dalam, setiap kata dan keputusan mempunyai akibat. Karena itu, semakin besar kursi yang diduduki, semakin kuat pula talitian yang mengikatnya kepada rakyat. Paramalenyep mengajarkan bahwa perjalanan manusia bukan perjalanan menuju kursi, tetapi perjalanan menuju kesadaran. Kursi hanyalah “benda”. Kekuasaan hanyalah “ruang”. Jabatan hanyalah “amanah”. Yang menentukan martabat seseorang adalah bagaimana ia menggunakan semua itu.(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Karena itu, saya tidak ingin tergesa-gesa menuduh orang yang masuk ke dalam kekuasaan sebagai orang yang telah kehilangan akal sehat. Bisa jadi ia memang masuk untuk membawa udara segar ke ruangan yang terlalu lama penuh dengan anggukan. Kritik dari dalam pun tetap mungkin, bahkan mungkin lebih berarti, karena kritik tersebut disertai tanggung jawab untuk menawarkan jalan keluar. Tetapi di sinilah jebakannya: kursi tidak selalu membuat manusia berubah dengan tiba-tiba. Kursi sering mengubah manusia secara perlahan. Hari pertama mungkin masih kritis. Bulan berikutnya mulai berhati-hati. Tahun berikutnya mulai memahami “situasi”. Setelah itu mulai menggunakan bahasa kekuasaan. Dan akhirnya, seseorang mungkin tidak lagi menyadari bahwa ia telah menjadi bagian dari sesuatu yang dahulu ia kritik.(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Karena itu, pertanyaan publik terhadap seorang intelektual yang masuk ke kekuasaan bukanlah sekadar: “Apakah Anda berubah?” Tetapi: “Apakah Anda masih mampu mengatakan tidak ketika semua orang di sekitar Anda mengatakan ya?” Inilah makna Paramalenyep yang sesungguhnya: tetap eling ketika memiliki kekuasaan, tetap waspada ketika dipuji, tetap sederhana ketika memperoleh fasilitas, dan tetap mampu mendengar suara yang tidak terdengar di ruang rapat. Aub mengajarkan untuk merasakan. Guyang mengajarkan untuk bersama. Talitian mengajarkan untuk bertanggung jawab. Ketiganya harus menjadi jiwa dari akal sehat. Sebab akal sehat tanpa rasa dapat menjadi kalkulasi. Akal sehat tanpa kebersamaan dapat menjadi individualisme. Akal sehat tanpa tanggung jawab dapat menjadi sekadar retorika.(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Maka, ketika seseorang yang dahulu berdiri di luar pagar akhirnya memperoleh kursi di dalam, jangan buru-buru merayakan dan jangan pula buru-buru menghakimi. Biarkan waktu menguji. Apakah ia membawa suara rakyat ke dalam ruang kekuasaan, atau justru membawa bahasa kekuasaan keluar kepada rakyat? Apakah ia menjadi jembatan, atau berubah menjadi pagar? Apakah kursi menjadi alat untuk mengabdi, atau menjadi tempat untuk berlindung?(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Pada akhirnya, manusia tidak diuji ketika ia tidak memiliki kekuasaan. Manusia justru diuji ketika ia memiliki kesempatan untuk menggunakan kekuasaan bagi dirinya sendiri, tetapi memilih menggunakannya bagi kehidupan bersama. Dalam kesadaran Paramalenyep, kursi bukan tempat untuk meninggikan diri. Kursi adalah tempat untuk merendahkan ego, karena semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin luas pula tanggung jawabnya terhadap sesama dan alam. Maka akal sehat yang sejati bukan hanya akal yang mampu mengkritik dari luar pagar. Akal sehat sejati adalah akal yang tetap waras ketika sudah berada di dalam pagar. Dan lebih jauh lagi, ia harus mampu membuka pagar itu kembali.(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Sebab dalam jiwa budaya Sunda, kehidupan bukan milik “orang dalam” dan bukan pula milik “orang luar”. Kita semua berada dalam satu talitian kehidupan. Yang membedakan hanyalah posisi sementara. Kursi akan berpindah. Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berganti. Tetapi rasa, tanggung jawab, dan jejak perbuatan akan tinggal dalam ingatan zaman. Di situlah Paramalenyep bekerja: menjaga manusia agar tidak kehilangan dirinya ketika dunia memberinya tempat yang lebih tinggi.(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Bandung Heurin Ku Tangtung, 05.10.2026(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)
Rahayu Wassalam(Source: kosapoin.com/ketika-akal-sehat-duduk-di-kursi-paramalenyep-aub-guyang-dan-talitian)

Negara: United States (Ohio)
Device: Desktop
OS: Unknown, Browser: Unknown








