Kau tahu… aku selalu mengira perang itu soal senjata, peluru, ledakan, pasukan, panji-panji berkibar di langit yang terbakar. Tapi ternyata… perang tak pernah sejauh itu. Perang… dimulai di sini—di tempat paling gelap dalam tubuh manusia: nafsu.
Nafsu untuk lebih, untuk mencengkeram, untuk memiliki yang bukan miliknya. Nafsu yang tak pernah kenyang—dari sekadar melanggar aturan, hingga menguasai manusia lain, tanah, warisan, bahkan bangsa dan sejarah.
Dulu… aku pikir hanya aku yang berperang dengan diriku. Tapi nyatanya, perang itu menular. Ia berpindah dari satu dada ke dada lainnya. Dari satu rumah ke kampung. Dari kampung ke kota. Dari kota ke dunia.
Perang menjadi warisan. Menjadi nama. Menjadi kebanggaan. Menjadi cerita heroik. Katanya: demi kehormatan. Katanya: demi tanah air. Tapi… untuk siapa semua itu? Untuk siapa?
Aku dengar nama-nama besar itu: Caesar, Napoleon, Patton, mereka ditulis dalam buku sejarah, tapi darah siapa yang ditulis bersamanya? Siapa yang mengenang anak kecil yang kehilangan ibunya? Siapa yang ingat seorang ayah yang pulang tinggal tulang
Kini… senjata tak lagi berwujud pedang. Kita bertempur lewat tombol. Rudal bernyanyi, drone berdansa. Semua canggih. Semua mematikan. Dan kita… kita menonton. Di layar kaca. Seolah semua itu jauh. Seolah itu bukan tentang kita.
Tapi lihat… lihat apa yang terjadi hari ini. Di Gaza. Di Teheran. Di tubuh anak-anak yang tak sempat tumbuh. Perang bukan lagi kabar. Ia nyata. Ia ada di sini…
…karena kita belum bisa berdamai dengan satu musuh paling tua: diri sendiri.
Selama nafsu masih bersemayam, selama kita lebih suka kuasa daripada kasih, selama kemenangan lebih indah dari pengampunan… perang akan terus datang. Datang. Dan datang lagi.
Kita selalu menanti pahlawan. Padahal… yang paling kita butuhkan adalah manusia yang tak ingin berperang.
Yoyo C. Durachman lahir di Bandung 21 September 1954. Sejak lahir sampai sekarang tinggal di Kota Bandung dan Cimahi- Jawa Barat, meskipun tahun 1977 pernah tinggal di Jakarta selama enam bulan untuk menimba/mengamati pengalaman menjadi penulis dan aktivis teater.
Tahun 1978 menjadi Mahasiswa angkatan pertama Jurusan Teater ASTI (kini ISBI) Bandung dan sekaligus pada waktu itu juga bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB) dengan kapasitas sebagai Aktor, Asisten Sutradara dan Sutradara, sampai sekarang. Di STB terlibat dalam pementasan pementasan; Lingkaran Kapur Putih, karya: Bertold Brecht; Antigone, karya: Sophokles, Egmont, karya: Goethe; Burung Camar, karya: Anton Chekov dan Impian di Tengah Musim, karya: W. Shakespeare. di STB pun pernah menyutradarai; Nyanyian Angsa, karya: Anton Chekov; Tiga Kehidupan Karya: Yasmina Resa dan Macbeth, karya: W. Shakespeare. Selain di STB aktif dalam pementasan Sanggar Kita Bandung, Jurusan Teater ISBI Bandung dengan kapasitas sebagai Aktor, Sutradara dan Produser.
Dunia kepenulisan meskipun tidak produktif, diakrabinya dengan menulis Cerpen, Puisi, Esai yang dimuat di Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Suara Karya, Gala, Bandung Pos, Prioritas dan Mandala, dan Jurnal Panggung serta dalam buku bunga rampai tulisan.
Sebagai Dosen Teater pernah mengajar di ISBI Bandung (1983-2019), IKIP (kini UPI- 1990-1995) dan IKJ (2002-2014).
Aktivitasnya sebagai penulis diperkaya dengan penelitian yang hasilnya dibukukan dengan Judul; Enam Teater/1996, Teater Tradisi dan Baru/2009, Perkembangan Konsep Penyutradaraan/2008.
Aktif menjadi Jury dan narasumber work shop dan seminar di Perguruan Tinggi dan beberapa Event dan Festival. Selain daripada itu pernah menjadi pengurus Dewan Kesenian Kota Bandung/2019-2023 dan kini menjadi Pengurus Dewan Kesenian Kota Cimahi (DKKC)2016 SD Sekarang.
I Nyoman Nuarta, karya dan keluarga. sumber foto Ig nyoman_nuarta https://www.instagram.com/nyoman_nuarta/. dok tangkapan layar Mohammad Rohamudin I Nyoman Nuarta dan…
(TERDENGAR BUNYI ALAT TENUN BUKAN MESIN (ATBM) UNTUK MEMBUAT LURIK)(TERDENGAR TEMBANGAN)Kecantikan fisik bisa memudar seiring berjalan waktuKecantikan batin semakin bersinar…
(TAMPAK DI TENGAH PANGGUNG SITI JENENG TENGAH KERJA DENGAN LAPTOPNYA)(BERKACAMATA BENING BERKEBAYA DAN BERCELANA JEAN).(PADA PENONTON) Panggil aku Jeneng Sarjeneng,…