Dalam hidup ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul begitu saja. Bukan karena kita sengaja mencarinya tetapi karena sifat dasar kita sebagai manusia. Kita lahir membawa akal budi dan bersama akal budi itu, lahirlah pula pertanyaan yang tak bisa kita tolak.
Pertanyaan-pertanyaan ini unik: ia muncul sebagai keharusan batin, tetapi jawabannya sering kali berada di luar jangkauan pikiran. Kita terperangkap dalam paradoks: dituntut untuk bertanya, namun mustahil mendapatkan jawaban sepenuhnya.
Mengapa ini terjadi? Jawabannya terletak pada keterbatasan kita sendiri. Sebagai manusia kita hanya mampu berpikir sejauh pengalaman yang kita miliki. Kita menanam benih tanya di tanah pengalaman; pohon pengetahuan pun tumbuh, namun buah jawaban sering kali tetap jauh di ujung ranting, sulit diraih.
Banyak orang merasa frustrasi oleh kenyataan ini. Sebagian berhenti bertanya, sebagian memilih pasrah, dan sebagian lagi berpegang erat pada keyakinan yang menenangkan, meski tak selalu menjawab pertanyaan mereka. Padahal, justru di dalam kegelisahan itu tersimpan keindahan mendasar dari kemanusiaan: keberanian untuk tetap bertanya, meskipun tahu jawabnya mungkin tak pernah ditemukan.
Pengalaman sendiri menjadi semacam guru diam-diam. Ia tak selalu menjelaskan secara gamblang, tetapi menanamkan rasa layak dan benar yang sulit dijabarkan dengan kata-kata. Dari pengalaman, kita belajar menimbang, meraba, dan akhirnya memahami sebagian kecil saja dari misteri besar yang mengitari kita.
Akal budi pada akhirnya bukan alat untuk menemukan semua jawaban. Ia adalah cahaya kecil yang menuntun langkah kita menembus kabut ketidaktahuan. Bahkan jika jawabannya tak kunjung tiba, kita tetap harus bertanya karena itulah tanda bahwa kita masih hidup dan masih menjadi manusia.
Dalam dunia yang semakin cepat dan serba instan, kemampuan untuk berhenti sejenak dan merenung sering kali dianggap sebagai kelemahan atau membuang waktu. Namun justru di sanalah letak kekuatan sejati akal budi: mempertahankan ruang sunyi untuk bertanya, meskipun tak ada jaminan jawaban.
Akhirnya, mungkin kita tak pernah tahu segalanya. Tapi selama kita masih berani bertanya, kita masih menjadi makhluk yang merawat akal, rasa, dan nurani. Dan barangkali, itulah jawaban paling manusiawi yang bisa kita punya.***









