Sekadar berkisah tentang sepenggal hidupku masa lalu, yang sangat indah berjumpa dengan TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta. 1974 aku mengunjungi TIM yang merupakan tempat ‘ngongkrong’ para seniman; ada Tardji, Leon Agusta, Hamid Jabbar, Abdul Hadi, Slamet Abdul Sukur, Jose Rizal Manua dll., yang panjang sekali jika disebut satu persatu…
Mereka berbincang sampai tengah malam, aku asik menyimak dan kadang mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum aku pahami sebagai pemuda 19 tahun, yang jatuh cinta pada Sastra dan Teater.
Kadang aku ikut makan di Warung Tegal di depan TIM.
Aku ikut kursus / pelatihan Seni Peran yang dengan instruktur Ibu Tatiek Malyati, Pak Wahyu Sihombing, Pak Pramana, Pak Jayakusuma dan beberapa yang lain aku lupa namanya. Mereka semua guru-guru yang mumpuni di LPKJ sebelum bernama IKJ sempai sekarang.
Aku juga selalu menikmati Teater Mandiri — Putu Wijaya dan Teater Ketjil berlatih dengan sutradara Mas Ariffin C. Noer., kakaknya Mas Embie C. Noer., dan tidak pernah absen nonton pementasan Mas Willy (WS Rendra) jika pentas di TIM.
Ya… Selama ikut mangkal tak ada yang aku lewatkan pementasan para dramawan dan penyair yang pentas di TIM, tentu selalu menyimak diskusi yang sangat menarik buatku usai pementasan … TIM benar-benar jadi ajang aku menimba ilmu yang aku bawa ke Bandung untuk aku sampaikan di Sanggar Teaterku_Teater GeEr yang sekarang bernama Teater Bel, yang kami kelola bersama Erry Anwar, Tatang RBQ, Urip Purwono, Gatot, Yusef Muldiyana, Agus Safari, Suzy, Reny Hasanah Ninit dll.
Aku bergabung dengan Group Teater Remaja Jakarta Timur, bersama Dorman Borisman, Syarifuddin Ach, Ivone, Mas Haryo Sungkono, Mas Sigit dll., yang sangat banyak memberikan ilmu teater dalam latihan rutin_waktu itu aku mondok di Kebon Nanas tidak jauh dari Gelanggang Remaja Timur tempat kami latihan dan bersanggar…
Aku juga sering meminta naskah drama karya penulis lakon dalam maupun luar negeri, serta kumpulan puisi para penyair yang pernah membacakan puisinya di TIM pada Mas Warso (mohon maaf kalau namanya keliru) dengan mengganti ongkos stensil.
Tahun 1978 untuk pertama kalinya aku manggung di Teater Tertutup TIM dengan sutradara Kang Suyatna Anirun (Studiklub Teater Bandung) dalam pagelaran “JAYAPRANA” karya Jeft B berperan sebagai Jayaprana …
TIM sunggguh ‘rumah’ dan kawah Candradimuka tempat aku menikmati kesenian…
Ketika aku terpilih sebagai Sutradara dan Aktor terbaik Festival Teater Jawa Barat tahun 1979 betapa aku merasa begitu besarnya jasa TIM ketika aku ‘nyantri’ disana…
Sudah lama sekali aku tidak ke TIM_aku kangen suasananya yang bagai rumah candu buatku… Aku dengar kini TIM sudah jauh berubah_bahkan menurut saudaraku Tatang Ramadhan Bouqie, kata ‘TAMAN’ di depan Ismail Marzuki sudah tidak tepat lagi…
#Yesmil Anwar (Yessi Anwar panggilanku sehari hari)









