BUKAN PEMILIK KATA

amatir penulis

Di suatu malam ditemani secangkir kopi. Si perakit kata amatir itu duduk ditemani kertas, tinta dan pena. Ia termenung memikirkan kata kepala yang bisa memanjat tanpa tangga. Tanganya memegang pena. Tak bersuara, tapi isi kepalanya sangat gaduh; ingin meraih kata yang bila mana dibaca menumbuhkan rasa dan mempunyai makna bagi pembaca.

Malam perlahan menjemput pagi, suara dari jauh via virtual menyapanya dengan cinta; menagih tulisan yang dibumbui rasa dan citra. Ia pun gugup dan tak bisa menjawab, hanya bisa melontarkan beribu alasan, kala suara itu kembali terngiang dalam ingatannya: “Mana setoran tulisan?” ia hanya bisa terdiam dan melontarkan seribu alasan, bahkan mengalihkan pembicaraannya itu jadi ke ranah pertempuran, sampai membahas kelokan jalan menuju perubahan.

“Pertempuran. Kelolan dan perubahan itu ide! Menulis itu yang penting kau punya bahan untuk dituliskan. apa pun itu gagasannya!” desak sebuah suara via virtual yang tak asing lagi dalam pendengarannya. Kembara pikirnya kian menggelandang ke sana-kemari, hingga tanpa sadar tangannya menyentuh benda yang tak jauh darinya.

Secangkir kopi tumpah ruah membasahi kertas tulis tipis, yang tak begitu tebal jika dibandingkan dengan kain Levis. Sedangkan dalam imajinya, pena yang dipegangnya itu jatuh menggelinding ke bawah jurang yang dalam dan gelap gulita, menembus lorong waktu hingga ke bilik hari. Pena itu tidak lagi dicarinya. Kata tidak lagi dituliskannya, tapi disimpan di dalam kepalanya: kepala pemberian Tuhan.

Si perakit kata amatir itu kembali menguap dan tubuhnya perlahan menua: “Kata-kataku bukan milikku, tuan!” Gumamnya. Perlahan ia tertidur bersama doa dan harapannya: Kata-kata yang disimpannya itu bisa dituliskan. []

SLOBODON
Baca Tulisan Lain

SLOBODON


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *