ruang bergeming
warna bulan memucat
bayangan nisan
kapan akan selesai
menghitung detak jantung
2024

TANKA Mataya Sutiragen
(1)
Gerimis malam
Cahaya bulan pudar
Jalan setapak
Meniti punggung bukit
Leluhur keheningan
(2)
musim penghujan
angin kabarkan rindu
ujung usia
kisah sebuah topi
sobekan penanggalan
(3)
Menanti subuh
Mematut matut diri
Menimbang dosa
Tobat memohon ampun
Janji mengubah laku
(4)
Lautan pasir
Bayang pelepah kurma
Sang pengembara
Merawat hening ruku
di ujung perjalanan
(5)
Susuri kebun
harum daun saledri
Hangat mentari
Membangkitkan gairah
Harapan masih ada
(6)
rembulan kuyup
pendar cahaya malam
sungai impian
Luka sepanjang jalan
Tak sampai-sampai jua
(7)
suara hujan
teras belakang rumah
menuju senja
secangkir kopi hitam
larut dihanyut harap
(8)
antara perdu
Berhias kunang-kunang
Mendekap rindu
Temali peristiwa
Terbuai angan angan
(9)
Angin penghujan
Menerpa wajah lelah
Mengais rizki
Bunyi roda gerobak
Meliti gelap malam
(10)
Pagi berkabut
Sepasang anggrek tanah
Tumbuh berjejer
Janji suara hati
Meretas jejak sunyi
(11)
Tak ada angin
Bayang-bayang terdiam
Lalu gerimis
Deru kegelisahan
Gaung di ujung lorong
(12)
Di lengkung bulan
Kilau warna samudra
Deburan ombak
Menghitung jejak langkah
Hidup begitu fana
(13)
Layar terkembang
Dian tak kunjung padam
Salah asuhan
Mekar karena memar
Robohnya surau kami
(14)
Sawah terlelap
Bulan sabit pertama
padi menguning
Merawat pengharapan
Di khusyuknya sajadah
(15)
Padang ilalang
Mentari warna senja
Betapa damai
Angin pengantar pulang
Janji terbit kembali
(16)
Bulan purnama
Ranting benalu patah
Tak ada kabar
Menanti desir angin
Merana di sudut sunyi
(17)
seperti cermin
Jernihkan kolam jiwa
Usia senja
Bayangan matahari
Melintas lalu pergi
2023









