Titik di Ujung Kalimat

mariyam 1

Maryam menyukai kalimat. Ia suka mendengarnya, menuliskannya, bahkan menebaknya dari gerak bibir orang-orang, tapi ia benci satu hal kecil yang selalu datang di akhir kalimat—titik.

Ia pikir, titik itu seperti palang pintu yang menutup jalan. Seperti peluit yang ditiup Pak Hansip tanda anak-anak harus pulang. Seperti Ibu yang tiba-tiba berkata, “Sudah ya, jangan bahas itu lagi.” Padahal Maryam masih ingin bicara.

Masih ingin tahu. Hari itu di kelas, Bu Lestari mengajar tanda baca.
“Setiap kalimat harus diakhiri titik,” kata Bu Lestari sambil menulis di papan. “Titik menandakan kalimat sudah selesai.”

Maryam mengangkat tangan.
“Bu,” katanya dengan suara yang lebih berani dari biasanya, “kenapa kalimat harus selesai? Kenapa nggak dibiarkan saja mengalir?” []

PERDEBATAN AHLI BAHASA
Baca Tulisan Lain

PERDEBATAN AHLI BAHASA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *