– untuk Subhan, untuk Hani
Rika namaku. Pagi itu aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Ada sesuatu yang bergerak tumbuh di bagian tubuh tersebut. Aku bisa merasakan sesuatu yang bergerak dan membesar dengan suara krek krek krek yang konstan. Dan aku bisa melihatnya tanpa mata. Sebuah bangunan bertembok putih bersih terus tumbuh. Menyamain seluruh ruangan di sekelilingku, yang berwarna putih. Ruang dan furniture juga seprai dan piyama yang ku kenakan semuanya berwarna putih. Tapi rasa berat yang tumbuh dikepala tak lantas membuat aku kesakitan, justru aku merasa kosong.
Sebuah suara dari dalam kepala ku memanggil-manggil. “Rika.. Rika… Hei, lihat sini!” Lalu aku masuk kedalam bangunan yang ada di kepalaku. Sebuah bangunan dengan fasad sederhana, bertembok putih, serba putih. Aku menjadi liliput dalam kepalaku.
“Rika…Rika…Hei, lihat sini!” suara itu terdengar lagi. Jauh. Suara seorang wanita di luar pagar. Dan seorang anak kecil perempuan, berusia 3 tahun sedang merapihkan batu-batu kali yang dibiarkan berserakan menutupi seluruh permukaan tanah di halaman rumah itu.
“Rika… Rika.. Hei, lihat sini!” Perempuan itu memanggil, kali ini terisak. Tapi anak itu tak bergeming, ia tetap cuek, dan menyusun bebatuan tersebut. Bangunan itu terus tumbuh menjadi rumah utuh. Dengan landscape tanah dan ruang yang sempurna. Di kelilingi oleh pepohonan rindang. Petak-petak kolam ikan. Ikannya tampak berlompatan. Riang gembira. Ada ikan mas berwarna merah dan kuning yang besar. Ada ikan mujair yang lincah. Lalu bunga-bunga yang wangi bermekaran di sekeliling rumah. Aku bisa mencium wangi melati, kenanga, sedap malam, dan kacapiring yang berwarna putih cantik.
Lalu terdengar suara toke berbunyi tiga kali. Ia bersembunyi di balik kipas lipat besar yang digantung pada dinding. Anak kecil itu tampak berlari, masuk ke rumah. Terus berlari dengan riang ke dalam rumah tak habis-habis. Seolah rumah itu tak punya ujung. Aku pun mencoba masuk, megikuti anak itu dari belakang .Tapi aku justru tersesat, karena rumah itu tak habis-habis. Selalu ada ruang-ruang selanjutnya yang menarik untuk dimasuki. Dan aku putuskan untuk berhenti menjelajahinya.
Rumah itu tidak asing. Aku kenal siapa pemiliknya. Dan aku tahu kenapa rumah itu akan dijual. Tidak benar-benar dijual sebenarnya. Karena setiap kali ada calon pembeli yang tertarik dan menanyakan harga, selalu dinaikan. Sementara spanduk dengan tulisan “Rumah ini dijual” sudah terpasang di depan pagar.
Perkara mudah untuk mengetahui kenapa rumah itu dijual oleh pemilik sebelumnya. Berita dengan cepat menyebar di tetangga. Apalagi buat mereka yang senang bergunjing: dilengkapi bumbu penyedap yang harganya jauh lebih mahal dari bahan utama. Tapi aku tak pernah tahu berapa luas tanah dan bangunan rumah tersebut. Aku tak bisa mengukurnya. Butuh alat yang valid dari sekedar imajinasi.
Aku berjalan menyelidiki rumah tersebut. Ku hitung jendelanya. Ku taksir panjang alasnya dengan menghitung jumlah lantai. Tapi setiap kali selesai menghitung, rumah itu berubah bentuk. Seperti puisi yang tak mau dipahami.
Bentuk- bentuk baru rumah itu seperti ingatan yang berloncatan. Aku mengenal semuanya. Seperti rumah-rumah masa kecil yang pernah aku singgahi: Rumah Nenek di Banjar, Rumah Kontrakan waktu aku kecil di Bandung, Rumah Bambu yang menjanjikan ketenangan tapi angin selalu masuk di malam hari, Rumah Jendral Nasution yang masuk dalam alam pikirku karena menyaksikan kisahnya setiap bulan September.
Aku ingin mengukur kemungkinan agar tahu luas bangunan yang ku pijak. Meski barangkali rumah itu hanya emosi dan interpretasi. Tapi jika rumah itu hanya sebuah ide, mengapa aku bisa melihat kolam dan ikannya, juga bunga-bunga yang mekar seperti benda yang memiliki masa?
Aku pernah mencari rumah seseorang ketika remaja. Rumahnya terletak di sebuah perbukitan. Jalannya berkelok. Di kiri kanan jalan ada banyak sekali kolam ikan. Aku pergi ke sana bersama seorang teman yang lahir di rumah seorang bidan bernama Wiranti. Nama itu lalu disematkan pada dirinya oleh sang ayah. Kami berdua mengendari motor melalui jalan yang berliku dan kecil. Menyusuri desa untuk menemuka rumah Raden Pupu Subhan. Guru Kimiaku.
Kami mencari rumahnya untuk menyelesaikan sebuah misi: mengurai sampah menjadi metana. Dan mencatat semua teori yang berkaitan untuk dilaporkan dalam sebuah jurnal. Tapi yang paling aku ingat saat ia menjelaskan hukum Avogadro:
“Bayangkan kamu sedang berada di Pasar Molekul, tempat para ilmuwan, makhluk imajinatif, dan partikel-partikel gas berkumpul setiap hari. Di sana, ada sebuah toko balon ajaib milik Tuan Avogadro, seorang ilmuwan eksentrik yang suka eksperimen aneh-aneh.” Guruku yang dipanggil dengan nama Subhan tersebut menjelaskan, satu hari di dalam kelas.
“Di toko itu, Tuan Avogadro menjual balon-balon gas yang semuanya berukuran sama — misalnya balon biru, merah, dan kuning. Balon biru berisi oksigen, balon merah berisi hidrogen, dan balon kuning berisi karbon dioksida.” Ia terus bercerita seperti pendongeng.
“Tapi ada satu keanehan yang membuat semua orang tercengang: Setiap balon — meskipun isinya beda-beda — ternyata punya jumlah molekul gas yang sama persis!
Seorang anak kecil di pasar bertanya, “Tuan Avogadro, kenapa bisa begitu? Bukankah molekul-molekul itu berbeda?” Pak Subhan menjawab sambil bermain peran.
“Dengan janggutnya yang mengembang karena angin helium, Tuan Avogadro menjawab:
“Selama suhu dan tekanan udara di pasar ini tetap, maka semua balon dengan volume yang sama selalu berisi jumlah molekul yang sama juga! Tak peduli itu O₂, H₂, atau CO₂.”
Dia lalu mengambil tiga balon berukuran 1 liter, mengikat benang padanya, dan menunjukkannya ke langit pasar.
“Lihat ini,” katanya sambil menunjuk, “masing-masing balon berisi sekitar 6,022 × 10²³ molekul gas jika massanya sesuai 1 mol. Itu hukum yang tak bisa ditawar.”
Tuan Avogadro menambahkan, jika anak itu mengisi lebih banyak gas ke dalam balon dengan suhu dan tekanan yang sama, maka balon itu akan mengembang lebih besar, karena volume berbanding lurus dengan jumlah mol gas di dalamnya.
Akhirnya, anak kecil itu pulang membawa satu balon besar dan satu balon kecil — keduanya ia isi dengan gas berbeda, tapi dengan mol gas yang sama.
Dan di pintu keluar pasar, ada papan besar yang berbunyi:
“Volume sama, suhu dan tekanan sama, jumlah molekul pasti sama!”
Pada ruang-ruang kelas dengan kursi-kursi kayu, di kepala siswa hanya ada balon berwarna merah, kuning, dan biru, sama sekali tak ada Tuan Avogadro yang mengukur mol. Sebab semuanya menjadi gas yang menguap.
Sementara rumah Guru Subhan yang aku cari itu hilang. Seperti berpindah tempat karena ditarik oleh balon gas berjumlah banyak, seperti film Up. Yang tersisa adalah tanah kosong. Tempat rumah tersebut harusnya ada. Ah, tapi aku tak bisa menerka berapa luas tanah yang ditinggalkan itu. Diperlukan alat yang ukurannya memiliki standar internasional. Kalau aku bilang luasnya adalah sepuluh langkah kakiku, Wiranti bisa bilang 12 langkah kakinya.
Jadi ku biarkan saja tanpa data. Seperti rumah yang tumbuh di kepalaku saat ini. Ada, tapi tak bisa dipetakan.
“Rumah, mengapa kau tak punya luas? Padahal ada petak-petak kolam dengan ikan yang berlompatan, juga halaman dengan batu kali menghampar. Fasad-fasad sederhana di mukamu juga bunga yang tumbuh berkeliling. Tapi kamu berubah-ubah.” Kataku pada kepala yang ditumbuhi rumah.
Tapi jangan-jangan, bukan rumah yang berubah, tapi aku yang berpindah. Seperti menatap jendela kereta api saat perjalanan menuju Yogyakarta: sawah, sungai, desa, jembatan Progo. Pemandangannya tidak berubah, tapi keretanya yang bergerak.
Dan barangkali luas menjadi tidak penting. Apalagi jika kita tahu untuk apa rumah itu berdiri: melindungi. Mengapa aku harus mengukur luasnya. Jika sempit saja sudah bisa membuat aku berlindung di naungannya.
“Tapi tidak. Aku ingin mati di sana,” kataku pada isi kepalaku. “Apakah kau menyisakan tanah yang tak kau bangun untuk pemakamanku kelak? Biar anak-anakku bisa mengenang jalan salibku di sana!”
“Rika… Rika… Hei, sini lihat Mama!” perempuan di luar pagar itu menangis. Isakannya menarik aku masuk kembali kedalam rumah di kepalaku yang terus berbunyi krek…krek.. krek…
Gadis kecil itu muncul di jendela. Ia melambaikan tangannya. Dadah – dadah. “Mama, rumah ini tidak bisa dibangun lagi, ia hanya bisa dirindukan,” katanya sembari tertawa manis.
Rumah ini tak perlu luas. Aku tak perlu mengotretnya pada kertas untuk membuat denah dan desain. Karena Rika tak pernah mengetahui jumlah data yang akurat tentang berapa luas kehilangan, kasih sayang, dan kenangan. Ia tak pernah mencatatnya. Apalagi memahaminya.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Rika kecil di baliknya. Tersenyum. Ia menggenggam balon berwarna biru, merah, dan kuning dengan sejumlah molekul yang membawanya terbang. Meninggalkan rumah dengan kolam ikan dan bunga-bunga di sekelilingnya. Aku jadi berada di sebuah ruang tamu sederhana. Serba putih. Raden Pupu Subhan tiba-tiba duduk berhadapan denganku.
“Bagaimana Rika, kamu sudah dapat rumus mengubah sampah menjadi metana?” tanyanya. “Wiranti menunggu kamu di laboratorium selanjutnya,” katanya tersenyum. Aku tidak menjawab. Hanya menulis sebuah alamat pada secarik kertas:
Jalan Rancakendal, Sayap Cigadung, perbukitan Dago, Bandung, rumah lama tapi terurus, 4 kamar tidur, 2 kamar mandi, dapur, 2 lahan parkir, udara sejuk, bukan barang sitaan. DIJUAL. Barang elektronik dan furniture lengkap, kecuali Televisi tabung yang pecah karena dibanting pemiliknya yang kemudian memutus nadi tangan kirinya, anaknya berada di Banjar Patroman. Luas tanah dan bangunan tidak diketahui. ***
Batalengsar, 19 Juli 2025









