Sumpah Palsu dan Pemuda yang Banyak Gaya.
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin gemerlap, pemuda sering kali menjadi simbol dinamika dan perubahan. Mereka adalah generasi yang membawa obor masa depan, dimana harapan dan impian bertaut dalam perjuangan membentuk jati diri. Namun, di balik semangat dan keberanian yang membara, ada fenomena lain yang menghantui : “sumpah palsu” dan perilaku “banyak gaya”. Dua hal ini, meski tampak sepele, memiliki dampak besar pada makna kehidupan dan integritas pribadi.
Sumpah Palsu ; Pengkhianatan pada Diri dan Orang Lain
Sumpah, dalam esensinya, adalah janji yang sakral. Ketika seseorang mengucapkan sumpah, ia mengikat dirinya pada sebuah komitmen moral yang lebih tinggi. Namun, ketika sumpah itu berubah menjadi dusta, maka yang tersisa adalah kehancuran nilai diri dan kepercayaan orang lain. Sumpah palsu bukan hanya sebuah kebohongan, tetapi pengkhianatan terhadap kata bahkan suara hati dan integritas. Pemuda yang berjanji setinggi langit namun tak mampu menepati, pada akhirnya tidak hanya menghancurkan dirinya, tetapi juga meruntuhkan fondasi kepercayaan yang telah dibangun.
Dalam masyarakat kita, sumpah palsu kerap dipandang sebelah mata, seolah-olah itu adalah kebohongan kecil yang tak berarti. Padahal, di balik setiap janji yang diingkari, ada luka yang tak terlihat, ada harapan yang hancur. Dalam skala yang lebih besar, sumpah palsu mencerminkan hilangnya tanggung jawab moral dan etika yang pada gilirannya merusak tatanan sosial. Sebuah masyarakat yang dipenuhi sumpah palsu akan kehilangan arah, karena tak ada lagi yang bisa dipercaya—semua tampak rapuh dan mudah pecah.
Pemuda yang Banyak Gaya : Kehilangan Makna di Balik Penampilan
Di sisi lain, ada fenomena pemuda yang banyak gaya. Mereka tampil dengan percaya diri, penuh dengan ekspresi diri yang terkadang berlebihan, seolah-olah kehidupan hanyalah tentang bagaimana tampak di mata orang lain. Mereka terjebak dalam ilusi gaya, seolah penampilanlah yang menentukan nilai diri. Dalam era media sosial, fenomena ini semakin diperparah oleh kebutuhan untuk selalu terlihat hebat, selalu terlihat sukses, bahkan jika itu hanya permukaan yang rapuh.
Namun, di balik gaya yang mencolok, sering kali ada kekosongan makna. Pemuda yang terjebak dalam gaya hidup pamer dan penuh basa-basi cenderung kehilangan esensi dari pencarian jati diri yang sejati. Mereka mungkin terlihat gemilang di luar, tetapi di dalam jiwa mereka haus akan keaslian dan makna yang lebih mendalam. Gaya tanpa substansi adalah seperti hiasan kosong; indah di permukaan, tetapi rapuh di dalam.
Lebih jauh lagi, pemuda yang lebih mementingkan gaya daripada substansi sering kali terjebak dalam sikap dangkal dan apatis. Mereka mungkin menghindari tantangan yang membutuhkan pemikiran mendalam atau pengorbanan, karena yang penting bagi mereka adalah penampilan, bukan perjuangan. Pada akhirnya, gaya tanpa isi hanya akan membawa kekecewaan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Mengembalikan Makna Hidup
Kehidupan tidak semata-mata tentang penampilan atau janji kosong. Hidup adalah tentang keberanian menepati janji, dan mengisi setiap momen dengan nilai yang tulus. Pemuda, sebagai agen perubahan, harusnya menjadikan mereka yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga berani bertindak. Mereka yang berani meleburkan ke-aku-an diri, untuk belajar dan tumbuh, saling menguatkan dan menumbuhkan kesadaran inti, bukan pelaku gaya dan festivalisasi wacana, itulah yang seharusnya diaktifkan.
Sumpah palsu dan gaya hidup yang kosong hanya akan membawa kebohongan kepada diri sendiri dan orang lain. Namun, ketika pemuda mampu memadukan gaya dengan substansi, janji dengan tanggung jawab, mereka akan menjadi cahaya harapan bagi masa depan. Dunia membutuhkan pemuda yang tidak hanya banyak gaya, tetapi juga banyak aksi nyata—mereka yang dapat menepati janji dan memberi makna di balik setiap tindakan.
Pada akhirnya, hidup adalah perjalanan untuk menemukan keseimbangan antara keinginan untuk tampil dan kebutuhan untuk bermakna. Sumpah yang ditepati, dan gaya yang didasari integritas, adalah kunci untuk menjalani hidup yang penuh arti dan memberi dampak positif bagi sesama.
Ihfa_09_Tsm_GudPas, 28 Oktober 2024









