Kau bilang begini dan begitu. Mereka berkata begitu dan begini. Aku harus percaya yang mana? Sementara rambat angin tak bisa dibendung dalam menabur bau. Sudah jadi kodratnya pula bahwa angin senantiasa menyimpan ragam rahasia. Meski benar terkadang kita mendengar kabar angin yang sebelas dua belas dengan kabar burung,
Tapi secara makna menyimpan data yang mendekati. Lama-lama aku pusing sendiri. Aku kerja untuk siapa? Apa untuk diriku atau untuk sosial? Jika memang ingin usai, cukup bilang selesai. Jika memang ingin beres cukup kerjakan. Jika memang ingin sinambung cukup berjalan dalam kolektif. Begini dan begitu. Begitu dan begini ini bukanlah judul film jadul atau lebih mendekati judul sebuah essai.
Rasanya terlalu jauh kembara ini pikir. Kembali pada pokok soal tentang kabar angin dan burung yang dikomparasi dari peryataan darimu dan mereka. Sesungguhnya siapa yang sedang membaca siapa? Apa-apa menjadi mengapa. Keselarasan kian bias adanya. Jika diibaratkan sebuah rumah tangga, bobo-boro mawadah warohmah. Sakinah pun tak terjadi.
Sebenarnya apa yang tersembunyi? Adakah bunyi yang siap meletus di kemudian hari? Sebenarnya apa yang dirahasiakan, adakah saling menyimpan kebobrokan? Jika memang demikian adanya; mengapa sandiwara jadi pilihan utama, sementara ketika diajak main drama menolak mentah, katanya tak ada bakat bermain teater, terlebih harus menghafal dialog.
Rumit yang tak rumit sebenarnya. Kunci dunia itu satu: terbuka. Sebagaimana Acintya yang terbuka pada Abul Basyar di Taman: Boleh kembara dan sentuh apa pun asalkan jangan kau sentuh yang itu. Seperti itulah saripati Al Kisahnya. Terbuka bukan semata tentang rasa. Terbuka sadar pada siapa kita yang menggerakkan seluruh raga hingga saling bersapa kenal atas kehendak siapa?
Jika jiwa ketemu jiwa saling menguji dan mengunci, itu inginnya siapa? Benarkah sepenuhnya mutlak inginnya Acintya pemilik segenap jiwa? Atau jangan-jangan hati kita yang tak bersih dari segenap bisikan itu semua? Kembali ke tema: tentang apa yang dikatakan olehmu dan mereka, berbentur sudah dalam renung.
Adakah saling membela dan saling menutupi yang dibingkai dengan alur sandiwara hingga terbukti dalam bela bagi mereka-mereka yang percaya padamu dan mereka itu? Entahlah! Terang dan jelas, di sini: di ruang nyepi aku menepi dari ragam narasi tambahan guna kembali mengkaji pada narasi yang sudah ada. Mengulang-ulang, mendaur bahasamu dan mereka:
Aku tak bisa menerka meski begitu banyak motif dalam baca untuk menunjuk terka sampai ke titik asal atawa pokok masalahnya berada. Pada akhirnya aku hanyalah penyaksi yang pernah terbaca tanpa sengaja sesuai dengan kala ketika aku berada di ruang dan peristiwa itu. Sementara di luar itu semua, dalam perkara dapur dan lainnya, semisal; bukanlah urusanku.
Mengapa dan kenapa? Pantas atau wajibkah seorang bedinde harus tahu secara persis dapur tuannya secara mutlak? Jika memang demikian adanya, lantas di mana sopan santun dan budi pekerti itu wajib diaplikasikan dalam alur laku diri guna bisa menjalankan sewajarnya hidup dan kehidupan ini di muka bumi? Sementara Acintya pun tak pernah menuliskan itu dalam aturan baku yang sampai detik ini kita baca dari segenap pestaka yang diturunkan.
Satu hal yang tidak aku mengerti, kenapa singgah di duli hatiku; apakah Acintya itu tuan atau tuan-tuankah? Jika benar demikian, lantas apa gunanya bertanya padaku? Apakah sekadar menguji keyakinanku atau keyakinan tuan dan tuan-tuan sendirikah yang bermasalah itu? Seperti halnya di ini malam aku pecinta purnama, sebab bagiku cahaya bulan itu ibarat cahaya panutanku sekaligus pembimbing mutlak jiwaku yang akan menuntunku ke Taman, kelak :
Kini aku coba palingkan pandanganku ke arah lain, tetapi hati tak bisa dikebiri. Nurani, sebagai pelikel dari Acintya untuk kita, tetap saja konsekuen dalam laku tugasnya sebagai pemberi peringatan! []









