Di era yang serba cepat nan canggih ini, hadir sebuah generasi yang populasinya semakin bertambah banyak di negeri ini, dianggap sebagai harapan bangsa— ialah pemuda–Generasi Muda, yang katanya calon pemimpin masa depan. Namun, apa yang terjadi? Alih-alih menjadi sosok pembawa perubahan, mereka justru terjebak dalam labirin manipulasi, terpesona oleh kilau palsu yang menghiasi kehidupan sehari-hari. Seperti burung yang terbang bebas, mereka berakhir di dalam sangkar emas bernama teknologi dan trendy, lupa pada cita-cita besar yang seharusnya gigih diperjuangkan.
Siapa yang memanipulasi siapa? Dunia, dengan senyum plastik dan janjinya yang manis, mengajarkan pemuda kita untuk mengejar sesuatu yang fana. Media sosial menjadi panggung utama, dimana semua orang tampil sebagai aktor ulung dalam sandiwara kehidupan. Jangan salah sangka, mereka tidak sedang memainkan peran dalam teater Dipowinatan yang penuh makna, melainkan bermain dalam serial komedi realitas yang diisi dengan kebohongan, sumpah palsu, dan manipulasi tingkat tinggi. Di sini, “keberhasilan” diukur bukan dari ilmu atau nilai, tapi dari seberapa banyak likes yang terkumpul dan seberapa viral sebuah konten bisa menjadi suatu hal yang amat didambakan jiwanya. Ironis, bukan?
Tak hanya itu, janji manis kehidupan juga terucap dengan lancar dari berbagai pihak. Orang-orang besar, politikus, dan para pemimpin menyajikan janji-janji yang terlihat gemerlap. “Kami akan membawa perubahan”, “Kami berdiri bersama rakyat”, katanya dengan penuh semangat di atas podium. Telusurilah, di balik kata-kata mereka yang megah, terselip segunung kepentingan pribadi yang jauh dari kesejahteraan rakyat. Sumpah palsu itu, sayangnya, ditelan bulat-bulat oleh mereka yang terlalu percaya atau barangkali terlalu malas untuk berpikir kritis.
Dan, pemuda kita? Mereka terseret dalam arus deras permainan ini. Alih-alih berdiri melawan arus, mereka justru hanyut dalam segala manipulasi yang mengelilingi. Hidup mereka penuh dengan citra yang tak nyata—terlihat bahagia di luar, tapi rapuh di dalam. Mereka diprogram untuk berpikir bahwa kesuksesan adalah soal pencitraan. Terlebih soal pundi pundi kepuasan delusi. Pendidikan? Oh, itu hanyalah formalitas, seremonial yang harus dilalui untuk mendapatkan kertas bersertifikat yang katanya “tiket menuju masa depan cerah.” Padahal, di balik itu, kompetensi tak lebih dari sekadar kata yang terlupa.
Tidak ada lagi semangat memberontak yang dulu menggerakkan revolusi sosial. Jika ada, itu pun ‘mungkin’ hanya sebatas tagar dan postingan daring yang berumur pendek. Perlawanan terhadap ketidakadilan berakhir menjadi tren yang hilang setelah beberapa pekan. Semangat itu tak lebih dari asap yang mengepul, hilang terbawa angin. Pemuda yang dulu digambarkan sebagai agen perubahan kini berubah menjadi agen konsumen—membeli, meniru, dan menikmati kebohongan yang mereka anggap kebenaran. Bahkan menjadi Calo calo gincu para penikmat kebohongan.
Di tengah kondisi ini, kita harus bertanya : siapa yang sebenarnya diuntungkan dari semua sumpah palsu dan manipulasi ini? Tentu saja, orang orang yang duduk di puncak piramida, yang mengendalikan semua tombol, menertawakan kita dari balik layar kaca. Sedangkan pemuda—yang seharusnya menjadi harapan—terjebak dalam permainan tanpa sadar, menjadi pion dalam catur besar kehidupan yang dikendalikan oleh tangan-tangan tak terlihat.
Para pemuda, akhirnya bukan hanya korban, tapi juga bagian dari sistem yang semakin menjerat. Tidak ada waktu untuk berpikir, apalagi untuk refleksi diri. Yang ada hanyalah deretan target semu yang harus dicapai: menjadi terkenal, menjadi kaya, dan meraih kesuksesan versi dunia palsu ini. Kalau tak bisa? Ah, tak mengapa. Selalu ada filter, caption, atau motivasi palsu yang bisa disisipkan di antara selfie dan foto-foto liburan yang entah nyata atau sekadar tipuan kamera.
Di balik semua manipulasi ini, tersisa satu pertanyaan besar : apa arti kebahagiaan sejati bagi pemuda saat ini? Apakah itu adalah angka followers di Instagram? Apakah itu pekerjaan di perusahaan multinasional yang memberikan gaji besar tapi mengerdilkan kejernihan akal? Atau mungkin kebahagiaan itu sebenarnya sudah lama terkubur di bawah tumpukan janji palsu dan harapan semu yang terus mereka kejar tanpa tahu arah?
Satu hal yang sedang terjadi, pemuda kita sedang hidup dalam dunia yang menjual kebohongan, dan dengan suka rela mereka membelinya. Seperti orang yang berlari tanpa tujuan, mereka terus bergerak cepat, tak pernah berhenti sejenak untuk bertanya : apakah jalan yang mereka tempuh benar-benar akan membawa mereka menuju kebahagiaan atau hanya pada kekosongan yang lebih dalam?
Ya, kita hidup di zaman dimana manipulasi dan sumpah palsu menjadi mata uang yang paling berharga. Dan pemuda, sayangnya, menjadi konsumen terbesar dari produk-produk ilusi ini. Buktinya yang kita produksi dan nikmati adalah kesempitan, instan dan pengakuan!
Tsm Gudpas, 28 Oktober 2024









