Di ranjang sunyi, tubuh lemah merintih. Di balik mata sayu, ada cahaya yang bersilih. Seperti gelombang samudra yang tak henti berbisik, saya bertahan, meski rasa sakit ini tak tertandingi.
Hari berganti, malam pun menyapa,. Dalam dinginnya waktu, saya terus terjaga, dengan hati penuh harap, dalam doa yang panjang; saya titipkan pada Tuhan, segala keluh kesah yang bimbang.
Tak ada daya pada tangan yang menggenggam,. Namun jiwa terasa kuat, pada janjiNya saya terbenam. Setiap butir air mata yang jatuh di pelukan malam, adalah saksi bisu, bahwa saya tak pernah tenggelam.
Doa-doa mengalir, bagai aliran sungai yang tenang; membawa harapan yang perlahan mulai terang. Dalam setiap lirih sujud, saya sampaikan rindu, guna kesembuhan datang, bersama fajar yang baru.
Tuhan, meski tubuh ini tak selalu kuat. Namun jiwa ini yakin, Engkau tak pernah terlambat. Dalam setiap sakit, saya temukan kekuatan baru. Dan di ujung luka, saya temui cintaMu yang tak pernah layu.
Kini, di batas antara sakit dan harapan; saya berjuang, dalam pelukan iman yang tak tertahan. Dengan kekuatan doa yang terus mengalir, saya yakin, esok kan datang kesembuhan yang hadir.
Ah, apakah doa itu kata-kata yang tertulis di setiap lembaran kenyataan? Sedangkan saya masih bermesraan dengan lamunan. Ya, apakah doa itu kata-kata yang bersembunyi di lekukan tirai keadaan?Sedangkan saya masih asyik menggauli kegelisahan. Benar, apakah doa itu kata-kata yang tercecer di dalam semak belukar peradaban? Sedangkan saya masih menikmati kepuasan hidup dalam khayalan.
Mana kata-kataMu, yang katanya tidak lekang oleh waktu. Mana kata-kataMu, yang katanya tidak pernah habis digali ilmu. Mana kata-kataMu, yang katanya setia abadi mengisi hati. Saya yang kehilangan jati diri; terlempar jauh dari kata-kataMu. Terhempas dari belaian tanganMu. Tercerai-berai dari kehadiran diriMu
Aku tak tahu mana saya. Saya tak tahu mana kata-katamu. Aku sibuk mencari diri saya hingga lupa kehadiranMu. Aku denganmu belum menyatu; masih saling mencari. Aku ada, Engkau tiada. Saya tiada. Engkau selalu Ada. Aku siapa? Siapa saya? Engkau dimana?
**
Menjadi nyata jadinya, diwaktu itu, di ranjang putih; riuh-riuh keluh menjauh. Meninggalkan jiwa yang teguh. Ruh menepi jiwa merdeka. Menjadi nyata jadinya. Diwaktu itu, di tepi semenanjung ingatan, gemuruh ombak menyibak jalan buntu. Membuka hati bergerak. Menepi raga yang fana. Menjadi nyata jadinya. Diwaktu itu, dini hari yang sunyi memintal sepi. Melepas nafas diri. Menuju pangkuan Sang Maha.
Gandhi pulang ke tempat asal, yang sejati yang kekal. Hati mendulang ke langit ajal, yang bersaksi penuhnya bekal amal. Kami yang ditinggalkan pulang; bersama doa’ yang tak pernah hilang oleh waktu dan tembok penghalang temani ia menuju Tuhan.
**
Jangankan menuju rumahMu. Mengetuk pintuMu atau dikenali penjaga rumahMu; kekasihMu, Muhammad, hancurlah muka. Pasalnya adalah koneksi dengan para leluhur saja pun saya belum mampu.
Terserah Kau, saya mau dijadikan apa. Ibu pasti ridho. Saya hanya menjalankan apa yang Kau suguhkan disetiap detak dan detikMu saja. Meski saya sadar, detak dan detikMu pada saya ini, selalu saya lupakan untuk mendetoksifikasinya kembali. Namun saya masih ada, dengan detakMu yang tak mampu terbayarkan oleh kanji. Meski pun begitu, saya masih ada dengan detikMu yang setia membersamai detak hidup.
Sungguh kufur saya terhadap detak dan detikMu itu, saya masih saja lupa untuk merawat, memelihara dan mengoptimalkan mutu pengabdian padaMu. Ya, koneksi syukur hanya berpatok pada hamdallah saja. Sedangkan detok terhadap detak dan detikMu itu yang sejati. Syahadat, sholat, puasa, syukur, sabarku belum sampai pada detok ruh.
DetakMu perlu detoksifikasi. DetikMu mestinya terus bisa mendetoksifikasi diri. Benar, seperti kekasihMu, Muhammad yang senantiasa setia mendetok detak detiknya dengan perjuangan yang tak mampu manusia lain menanggungnya. Maka, detak detik yang Kau titipkan, bila masih lupa saya mendetoksifikasinya; saya memohon tamparanMu. Lewat apapun, siapapun yang dikehendakiMu.
Detoklah saya yang banyak tertidur ini. Ah saya ini siapa? Namun, tak ingin saya dikehendaki keberadaannya bukan dari kehendakMu, keridhoanMu.
**
Kepala saya hampir pecah, menyaksikan para pepatah; menyebarkan wabah fitnah dengan wajah-wajah sumringah
Kepala saya bisa pecah diguyur hujan amarah. Basahi jiwa yang lemah, membanjiri ruang gelisah. Wah, kamu sangat gagah; berani tampil dengan gegabah. Ah, saya sangat lemah dan hanya bisa mengalah.
Jika saya dengan kamu, adakah tanya dihatimu? Jika tanya dihatimu ada, adakah saya juga kamu? Jika saya dengan dia, adakah luka dihatimu? Jika dia dengan kamu, adakah duka di jiwa? Tak perlu gusar dan geram. Semua hari dalam kalender bebas kau genggam. Bulan-bulannya boleh kau atur semau mu, saya tak butuh itu!
Silahkan Tuan. Sungguh! Jatah makanmu dijamin aman. Ukuran lingkar perutmu tetap sesuai pesanan. Asupan gizimu lengkap sebagaimana proyek tahunan. Percayalah Tuan. Stempel solihin sudah kau lekatkan di dada kiri. Yatim dan kaum papa menciumi tanganmu berkali-kali. Tuan tak perlu takut umatmu saya curi. Sungguh, saya tak butuh, sebab kelak saya pulang hanya sendiri.
Tenanglah Tuan! Tak ada satu pemikir pun yang berani melawanmu. Pada tafsiran-tafsiran kebenaran yang menjadi sesembahanmu. Apalagi semua cakrawala sudah ada dalam etalasemu. Jelas tak ada apapun yang lebih unggul darimu. Semua beres Tuan!
Ah, lebih baik simpan saja energimu. Gimik-gimikmu yang tak perlu. Sebab, tak ada yang lebih mengancammu, selain usiamu. Tenang saja Tuan! [ihfa]









