Roh Ilmu Sastra dalam Karya Ronggowarsito

roh ilmu sastra dalam karya Ronggowarsito kosapoin.com

Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802–1873) adalah pujangga besar terakhir dari Kasunanan Surakarta yang menghasilkan banyak karya sastra Jawa fenomenal. Ronggowarsito, pujangga besar dari Surakarta yang warisannya tak lekang oleh waktu. Sosok visioner yang karyanya menembus batas zaman. Diabadikan oleh Bung Karno pada 11 November 1953, kini namanya tetap harum sebagai penjaga nilai-nilai budaya Jawa.

Ronggowarsito berasal dari keluarga bangsawan keraton Surakarta. Dari garis ayahnya, ia adalah keturunan ke -10 dari Sultan Hadiwijoyo, pendiri kerajaan Pajang. Ronggowarsito dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di desa Tegalsari (Ponorogo).

Sumber inti ilmu sastra dari Raden Ngabehi Ronggowarsito secara krusial berakar pada perpaduan antara estetika bahasa, etika moral, dan kedalaman spiritual (mistik). Sebagai “Pujangga Penutup,” inti pemikirannya mencakup: Filsafat Zaman (Zaman Edan), yang tertuang dalam Serat Kalatidha, ia menekankan pentingnya kesadaran kritis terhadap kemerosotan moral masyarakat dan anjuran untuk tetap “ingat dan waspada” (eling lan waspada) sebagai benteng spiritual.

Ronggowarsito mengintegrasi Mistik dan Agama, melalui Serat Wirid Hidayat Jati, kemudian sumber sastra dikembangkan sebagai sarana mencapai ma’rifat (pengenalan mendalam akan Tuhan). Ia mensinergikan ajaran tasawuf Islam dengan tradisi kebatinan Jawa guna mencapai kesempurnaan hidup.

Filsafat Sejarah dan Takdir, Karyanya yang ini seperti Pamarayoga menjadi sumber ilmu yang menggali asal-usul manusia dan perjalanan zaman melalui perspektif teologis dan legendaris.

Ronggowarsito juga menyusun tentang prinsip Pendidikan Etika dan Guru, dan ilmu Sastra baginya bukan sekadar seni, melainkan media instruksional untuk membentuk karakter manusia yang bijaksana melalui syarat-syarat kematangan spiritual.

Karya-karyanya dari Ronggowarsito seperti Serat Kalatidha dan Serat Wirid Hidayat Jati tetap menjadi referensi utama dalam studi sastra dan filsafat Jawa hingga tahun 2026, karena relevansinya terhadap dinamika sosial dan spiritualitas manusia.

Karya Sastra Ronggowarsito tentang zaman edan

Sumber inti ilmu sastra dari Raden Ngabehi Ronggowarsito mengenai konsep Zaman Edan secara krusial tertuang dalam Serat Kalatidha. Karya ini bukan sekadar puisi, melainkan bentuk kritik sosial dan filsafat sejarah yang menggambarkan kondisi masyarakat yang penuh ketidakpastian dan kemerosotan moral. Poin-poin krusial dari pemikiran tersebut, Kalatidha berasal dari kata kala (zaman/waktu) dan tidha (ragu-ragu/tidak pasti). Secara harfiah, ini merujuk pada masa kekacauan di mana nilai-nilai kebenaran menjadi kabur.

Mengungkap Karakteristik Zaman Edan, juga digambarkan sebagai masa di mana orang yang jujur justru tertindas, sementara mereka yang mengikuti arus “kegilaan” (korupsi, keserakahan, dan ketidakadilan) terlihat lebih beruntung.

Ajaran sastra tentang “Eling lan Waspada” adalah inti wejangan spiritual Ronggowarsito sebagai solusi menghadapi Zaman Edan. Manusia diharapkan tetap eling (ingat kepada Tuhan dan nilai kebenaran) serta waspada (waspada terhadap godaan zaman dan mawas diri) agar tidak terseret arus. Dalam Serat ini juga ditulis tentang kritik sosial dan moral juga politik sebagai refleksi atas kondisi keraton dan pemerintahan pada masa Paku Buwono IX yang dianggap penuh intrik serta kemerosotan etika kepemimpinan.

Inti Ajaran (Eling lan Waspada) dari Ronggowarsito sangat menekankan,. bahwa meski lingkungan sekitar berada dalam kegilaan, manusia harus tetap memiliki kesadaran diri. Jadi Kalimat paling ikonik dalam karya ini adalah “Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi. Milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasane. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lan waspada.”

Prinsip makna Filsafat Sejarah, Ronggowarsito membagi waktu ke dalam siklus tertentu, di mana Zaman Edan (Kalabendu) merupakan fase transisi menuju zaman keindahan atau kebaikan (Kalasuba). Karya ini terus relevan hingga tahun 2026 sebagai referensi dalam mengkaji fenomena krisis moral dan ketidakadilan dalam berbagai konteks sosial kontemporer.

Ronggowarsito tentang Serat Sabdatama

Sumber inti ilmu sastra dalam Serat Sabdatama karya Raden Ngabehi Ronggowarsito secara krusial berpusat pada etika kepemimpinan (moralitas) dan ketajaman batin (intelektualitas spiritual) dalam menghadapi dinamika zaman.

Poin-poin inti serat

Ajaran Keutamaan (Sabdatama), secara etimologis, Sabda berarti kata-kata dan Tama berarti utama. Inti sastranya adalah memberikan panduan praktis bagi individu agar tetap berbudi luhur meskipun berada di era yang penuh ketidakpastian atau krisis moral. Kearifan dalam Membaca Zaman juga diungkapkan dalam Serat ini, yang menekankan pentingnya memiliki kepekaan nalar untuk menangkap tanda-tanda zaman, sebuah kemampuan yang dianggap krusial bagi seorang “pujangga” atau cendekiawan.

Tentang Falsafah Moral bagi Pemimpin dalam Serat Sabdatama ini, memuat tata nilai bagi para pemimpin dan masyarakat umum agar menjalankan perannya dengan penuh integritas, ketaatan kepada Tuhan, dan menjauhi perilaku menyimpang.

Prinsip inti Sangkan Paraning Dumadi yang meskipun fokus pada etika, landasan sastranya tetap berakar pada konsep filosofis tentang asal-usul dan tujuan hidup manusia (manunggalnya makhluk dengan Pencipta), yang menjadi kunci kebijaksanaan dalam bertindak.

Karya Serat Sabdatama ini selalu juga dikaitkan dengan konsep Zaman Edan (era kegilaan), di mana inti sastra Ronggowarsito berfungsi sebagai “obat” atau pengingat agar manusia tidak terhanyut oleh arus materialisme dan kebobrokan moral.

Serat Sastra “Wirid Hidayat Jati”

Sumber inti ilmu sastra dalam Serat Wirid Hidayat Jati karya Raden Ngabehi Ronggowarsito berfokus pada sinkretisme antara mistisisme Islam (tasawuf) dan filsafat Jawa. Secara krusial, karya ini menjadi rujukan utama dalam ajaran Kejawen yang memadukan elemen spiritualitas dengan kearifan lokal.

Serat “Sasmita dan Wahyu” Sastra ini memuat petunjuk-petunjuk halus (sasmita) mengenai hakekat ketauhidan yang diwariskan dari tradisi para Wali di tanah Jawa. Termasuk “Etika dan Kriteria” Guru, juga selain aspek mistik, serat ini merumuskan syarat-syarat krusial bagi seorang guru spiritual (mursyid), seperti halus budi pekerti, teguh pendirian, dan memiliki ketajaman pemikiran. Dalam prinsip “Tauhid Jawa-Islam” terkandung nilai pendidikan tauhid yang mencakup aspek Rububiyah, Uluhiyah, serta asma dan sifat Tuhan melalui pendekatan bahasa dan simbolisme Jawa.

Serat sastra ini dianggap “krusial” karena paling esensial yang fungsinya sebagai babon (sumber induk) bagi banyak aliran kebatinan di Jawa hingga saat ini.

Serat Sastra “Jaka Lodhang dan Sabda Jati”

Sumber inti ilmu sastra dan mistik kejawen yang krusial dari Ronggowarsito bersumber pada sintesis filsafat Islam-Jawa. Serat Wirid Hidayat Jati mengajarkan Ma’rifat dan Manunggaling Kawulo Gusti (penyatuan manusia dengan Tuhan). Sementara sastra Sabda Jati dan Jaka Lodhang menyingkap ramalan zaman (zaman edan) dan petuah moral.

Serat Jaka Lodhang dan Sabda Jati karya sastra Raden Ngabehi Ranggawarsita merupakan pilar penting dalam ilmu sastra Jawa yang memadukan filsafat sejarah, teologi, dan etika sosial. Intisari krusial dari ketiga serat tersebut sebagai sumber ilmu sastra.

Serat Jaka Lodhang ini adalah Sastra Ramalan dan Kritik Sosial, teks ini menonjolkan aspek sastra sebagai alat ramalan (jangka) dan refleksi terhadap kondisi zaman yang kacau atau penuh ketidakpastian. Secara sastrawi, ia menggunakan simbolisme untuk menggambarkan hukum sebab-akibat dalam kehidupan sosial serta pentingnya penegakan hukum dan kebenaran di masa sulit.

Dalam serat Sabda Jati ini terkandung unsur Etika Eksistensial dan Kepasrahan Ilahi: Karya ini merupakan salah satu wasiat terakhir Ranggawarsita yang memuat pesan moral tentang etika beragama dan bermasyarakat. Intisari sastranya terletak pada ajaran tentang kejujuran dan kepasrahan kepada takdir Tuhan, sekaligus memberikan kontribusi dalam memecahkan persoalan umat melalui pendekatan sastra yang relevan dengan kondisi zaman, seperti waktu sekarang ini di zaman digitalisasi eranya elite globalisasi.

Ketiga karya sastra ini secara kolektif memperkaya khazanah sastra dengan menawarkan perspektif filosofis mengenai nasib rakyat, spiritualitas mendalam, dan kritik terhadap ketimpangan zaman yang terasa “Pabaliut Lieur” oleh Bencana Alam yang konon bersumber dari hukum sebab akibat dari persoalan sumber daya alam yang dijadikan sebagai sumber inti ekonomi negara.

Sekian dan Terimakasih
Salam Kesadaran Tinggi Rakyat Bangsa Nusantara Indonesia…

Bandung, 25.Januari.2026

ENIGMA ANAK BATIN
Baca Tulisan Lain

ENIGMA ANAK BATIN


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *