Filosofi makna Ibu sareng Rama (Ibu dan Bapa) dalam peradaban budaya Sunda sangat mendalam, melampaui sekadar sebutan orang tua biologis, dan berakar kuat dalam pandangan hidup serta kosmologi Sunda kuno, yang terangkum dalam ungkapan “Miindung ka waktu, mibapa ka jaman”.
Makna Filosofis
Secara mendasar, “Ibu” dan “Bapa” merepresentasikan dua prinsip fundamental dalam kehidupan dan alam semesta:
1). Ibu (Ibu, Ema, Ambu, Indung): Melambangkan aspek feminin, kasih sayang (silih asih), pemeliharaan, asal muasal, dan bumi pertiwi.
Sebutan “Ambu” bahkan digunakan untuk merujuk pada entitas yang sangat dimuliakan atau disakralkan, seperti “Sunan Ambu” dalam cerita rakyat Sunda, yang merupakan ibu di kayangan atau representasi Ibu Semesta.
Ibu adalah sumber kehidupan, tempat kembali, dan simbol dari nilai-nilai perlindungan serta pengasuhan (silih asuh).
Rama (Rama, Bapa, Ayah): Melambangkan aspek maskulin, kepemimpinan, aturan, pengajaran (silih asah), dan penjaga tatanan dunia. Dalam naskah Sunda kuno seperti Amanat Galunggung, fungsi sosial-budaya dibagi menjadi resi, ratu, dan rama, di mana rama (bersama dengan ratu) bertanggung jawab atas kemakmuran dan kesejahteraan dunia atau negeri.
Rama adalah pencipta kesejahteraan, penuntun, dan pemberi arah.
Dalam perjalanan Ruang dan Waktu Peradaban Budaya Sunda
Makna Ibu dan Rama berkembang dan relevan sepanjang sejarah peradaban Sunda, yang terefleksi dalam:
Pedoman Hidup “Miindung ka waktu, mibapa ka jaman”: Falsafah ini berarti “menjadi ibu bagi waktu dan menjadi bapa bagi zaman”.
Ini adalah prinsip adaptabilitas dan kearifan:
Miindung ka waktu: Berarti menghargai, memahami, dan mengikuti alur waktu yang berjalan, seperti sifat ibu yang mengayomi dan menerima segala sesuatu dengan bijak.
Ini mengajarkan pentingnya kontekstualisasi dan kesabaran.
2). Mibapa ka jaman: Berarti bersikap seperti bapa terhadap perkembangan zaman, yaitu berperan aktif, mengarahkan, mengelola, dan menciptakan kemakmuran di setiap era baru.
Ini mengajarkan kepemimpinan, inovasi, dan tanggung jawab terhadap masa depan.
3). Penghormatan terhadap Orang Tua dan Leluhur: Masyarakat Sunda dikenal sangat menghormati orang tua, yang merupakan perwujudan nyata dari Ibu dan Rama dalam kehidupan sehari-hari. Ketaatan kepada orang tua dan guru adalah tanda adat yang pantas bagi orang terdidik.
4). Nilai Keseimbangan (Sineger Tengah): Filosofi Ibu dan Rama yang saling melengkapi mencerminkan pandangan dunia Sunda tentang keseimbangan alam semesta (mulasara buana).
Keduanya adalah pilar yang menopang kehidupan, mengajarkan bahwa keharmonisan tercipta dari sinergi peran pengasuhan/pemeliharaan (Ibu) dan kepemimpinan/aturan (Rama).
Secara keseluruhan, “Ibu sareng Rama” adalah konsep inti dalam budaya Sunda yang mengajarkan pentingnya asal usul, pemeliharaan, kepemimpinan, dan adaptasi bijak terhadap perubahan zaman, memastikan nilai-nilai luhur tetap lestari.
Arti peribahasa Sunda Indung Tunggul Rahayu Bapa Tangkal Darajat:
Tong ngalalaworakeun kanu jadi kolot, sabab indung tunggul rahayu bapa tangkal darajat (jangan menyia-nyiakan orang tua, sebab ibu sumber kemakmuran dan bapak sumber derajat seorang anak).
Makna “Ibu” (Indung) dan “Bapa” (bapa) dalam budaya Sunda: Makna “Ibu” (indung) dan “Bapa” (bapa) melambangkan dua pilar utama keberlangsungan hidup, di mana ibu adalah “tunggul rahayu” (akar kesejahteraan) dan bapa adalah “tangkal darajat” (pohon martabat).
Makna ini terkait erat dengan perjalanan ruang dan waktu, karena filosofi ini mengandung nilai-nilai untuk merawat masa lalu (indung) dan mengupayakan masa depan (bapa).
Secara esensial, Ibu melambangkan asal-usul, pemeliharaan, dan sumber kehidupan, sementara Bapa melambangkan peran untuk tumbuh, berkembang, dan menanggung segala kebutuhan.
Ibu (Indung)
Asal-usul dan pemeliharaan: Ibu dianggap sebagai pangkal dan akar kesejahteraan (indung tunggul rahayu), yang melambangkan hubungan dengan asal-usul serta peran memelihara keberlangsungan hidup.
Rahim dan pengasuhan: Secara harfiah, ibu adalah yang mengandung (indung anu ngandung).
Menghormati masa lalu: Nilai ini secara abstrak mendorong untuk menghormati hal-hal yang telah lampau dan menjadi dasar keberadaan kita saat ini.
Bapa (Bapa) martabat dan pertumbuhan: Bapa dipandang sebagai jalan atau pohon martabat (bapa tangkal darajat), melambangkan peran untuk menumbuhkan dan mengembangkan martabat serta kesejahteraan.
Tanggung jawab dan pemenuhan kebutuhan: Bapa adalah yang bertanggung jawab atas pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan anak (bapa anu ngayuga).
Rahim dan pengasuhan: Secara harfiah, ibu adalah yang mengandung (indung anu ngandung).
Menghormati masa lalu: Nilai ini secara abstrak mendorong untuk menghormati hal-hal yang telah lampau dan menjadi dasar keberadaan kita saat ini.
Bapa (Bapa)
Martabat dan pertumbuhan: Bapa dipandang sebagai jalan atau pohon martabat (bapa tangkal darajat), melambangkan peran untuk menumbuhkan dan mengembangkan martabat serta kesejahteraan.
Tanggung jawab dan pemenuhan kebutuhan: Bapa adalah yang bertanggung jawab atas pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan anak (bapa anu ngayuga).
Meraih masa depan: Nilai ini secara abstrak mendorong untuk memikirkan dan merencanakan masa depan, serta mencari hal-hal baru yang lebih baik sambil tetap memegang nilai-nilai luhur.
Keterkaitan dengan Perjalanan Ruang dan Waktu
Kesadaran akan waktu: Gabungan makna ini mencerminkan filosofi Sunda “miindung ka waktu, mibapa ka zaman”, yaitu bergerak atau beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar dari masa lalu.
Harmonisasi masa lalu dan masa depan: Ini adalah seruan untuk menjaga keseimbangan antara muhafadhoh alal qodimi sholih (merawat yang baik di masa lalu) dan wal ahdu al jadid al aslah (mengupayakan yang lebih baik di masa depan).
Arti ngindung ka waktu mibapa ka jaman: Artinya mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan adat dan tradisi leluhur.
Ungkapan ini memiliki makna bahwa seseorang harus bisa beradaptasi dengan perubahan zaman (mengikuti zaman) tetapi juga harus tetap memegang teguh nilai-nilai dan budaya yang diwariskan dari para leluhur (ngindung ka waktu, mibapa ka jaman).
“Ngindung ka waktu”: Berarti “ikut pada waktu”, yang bisa diartikan sebagai menghargai dan mengikuti perkembangan atau kemajuan zaman.
“Mibapa ka jaman”: Berarti “berayah pada zaman”, yang bisa diartikan sebagai tetap berakar dan menghormati serta menjaga adat istiadat dan kebiasaan dari nenek moyang.
Sekian dahulu Terima Kasih…
Salam Nusantara Makmur Sejahtera…
Bandung, 28.November.2025
Pun Tabe Rahayu









