NA NA NA
Aku tak hilang jejak
Walau hujan mengelupas tapak
Dan tentangmu sajak beranjak
Seraut wajah tak bisa surut
Dari kuatnya menarik ikut
Binar kenang wajah seraut
Tentangmu tak hilang selayang
Tumbuh kembang di bayang
Bandung, 1122016

SAJAK-SAJAK Gusjur Mahesa
KARENA ITU
Justru musuhmu adalah nafsumu
Engkau telah kalah telak
Mengisi ruhani manusiawi
Dan menodai spiritualitas sendiri
Jauh ufuk ke ufuk ritualitas cerdas
Maka fitnah telah melekat jadi pangkat
Kebodohan keledai tingkat bertingkat
Harus takzim padamu para Syuhada akbar
Yang telah mengalahkan nafsu sendiri
Melebihi perih dunia kebiri
Bandung, 1122017

PUISI Yesmil Anwar
KERAP LIAR
Aku sedang keluar liar dari kurungan tubuh
Menemui yang Aku mau
Berjalan lewat angin dan cahaya
Tidak terpengaruh jurang ngarai
Atau badai panas dingin
Sunyi maupun sepi
Apakah Aku menikmatinya
Bahagia atau yang lainnya
Tentang gemuruh berseliwerannya benda angkasa
Pusaran hitam yang menamakan dirinya black hole
Semuanya tidak mempengaruhi petualangannya di jagat tidak bertepi
Jadi tamu plus tuan
Jangan tanya kendaraan yang kupakai
Bukan burok
Ini lebih dari kebebasan
Ini keliaran
Kutub utara dan selatan
Itu hanya selirikan jarak
Apapun bisa
Seperti menerimamu berbincang tentang kehidupan sekitar tubuh
Sementara perjalanan tetap liar di luas jagat
Bandung, 1122017

PUISI Hermana HMT
BILA JELATA KECEWA
Ini tentang kedaulatan bangsa yang digerogoti masive kaum culas dan licik
Selain daratan di kavling hutan dirambah panjang pantai pun dipagar untuk pesta pora mata sabit si intrik
Setiap inci cluster ciri korporasi lembaran UUD sobek
Kaum berdasi semakin terasah taring mengeratnya merobek
Air liur membasahi para penegak hukum memenuhi lumbung
Melahirkan jutaan jelata yang rata perut ke punggung
Kehadiran pengayom negeri belum juga hadir
Susah bergerak berjalan dikubangan lendir
Suara tertindas pelan-pelan hilang di meja pesta pora
Koor tertawa cukong mata sabit sambil menari menginjak kepala
Cakar Garuda dipotong tajamnya, paruh dililit
Naga semakin menyemburkan napas api mengibaskan ekor menandai titik belit
Kedaulatan mendekati sakaratul maut
Diacak-acak luluh lantak carut marut
Hilang hormat pada pendiri Negeri
Heroik mereka dilupa karena perut dan materi
Ini Negeri kita tempat lahir dan mati
Mencintai jadi keharusan sebagai bukti
Kami akan ingkari semua kaum culas dengan belati
Gelombang pasang tidak akan surut
Badai akan datang merebut mencabut
Sampai si licik mata sabit kecut juga takut
Kami pewaris hak Negeri istimewa
Yang lahir dari tempaan pahala merdeka
Dari pagar betis hingga pagar laut peristiwa
Suara kami suara hati paling bersahaja
Telah siap sedia membela sampai perlaya
Jangan pernah mengecilkan jelata
Gelombang akan datang mencacah naga
Akan lahir garuda-garuda tangguh yang siap mencabik perusak prahara
Ini negeri selalu melahirkan anak bangsa pilihan dari peristiwa kecewa
Jangan pernah membangunkan lelap nyawa
Kembalikan semua pada semula
Sebelum darah penghilang dahaga
Bandung, 11022025

SAJAK Hasbi Afifi
DEKIL
Belum tampak tambatan
Kapal masih laju
Menyeberang waktu berkayuh
Lautan lepas pandang
Debu pun mengecil
Tidak ada daya bila perlaya
Kuasa siapa dibalik luas ?
Pusaran hitam menarik jelas
Kapal mesin berdengung
Riak bersekutu gulung
Luas belum batas muncul
Sudahlah !
Tetap saja kerikil kecil
Merak-Bakauheni, 922026









