La Uda

hasil panah la uda 1

Hasil panah La Uda. All foto: dok. Ema

La Uda belajar memanah dari bapaknya. Ia menyebutnya singkat, tanpa cerita panjang. Sejak umur tujuh belas, bapaknya sudah mempercayakannya melaut sendiri, memanah di bawah air tanpa pendamping. Sebelum usia itu, ia sudah memanah, tapi selalu dalam pendampingan. Sejak itu, laut menjadi ruang kepercayaan.

bersama La Uda 1 1
penulis bersama La Uda

Pertemuan pertama terjadi pada 2019, di Sampela, Wakatobi. Tubuhnya tegap. Ototnya terlihat bekerja bahkan ketika ia diam. Rambutnya agak gondrong, kering tapi lembut, seperti benang rumbia yang lama tertekan di bawah bantal. Garis-garis di dahinya berderet seperti garam yang mengumpul di buritan perahu. Ia tampak lebih tua dari usianya. Belakangan diketahui, setelah melihat KTP-nya, ia justru delapan tahun lebih muda. Ia sendiri lupa umurnya.

Hari itu laut surut. Bau bacin menempel di segala hal: rumah, pintu, lantai, bahkan tempat duduk. Lantainya menggumpal, menghitam, seperti sisa cat tembok di dalam ember, keras, tapi masih bisa dicungkil dengan kuku. Hampir semua lantai rumah menghitam, dari ruang tengah sampai beranda. Dalam keadaan seperti itu, La Uda hanya memanggil nama, sekali. Tidak lebih.

Percakapan bisa terjadi karena ada Ikhy, orang darat dari Kaledupa, yang mengenalkan. Tanpa itu, mungkin hanya ada anggukan singkat. Dari situ, pembicaraan berjalan pelan. Ikhy memberi kode. Dua kali La Uda mengajak memanah. “Ayo,” katanya singkat. Ia menyebut Langgira: ikan karang, lumba-lumba. Seolah laut sedang dibukakan.

Di Sampela, bukan hanya La Uda yang pandai memanah. Masih ada beberapa orang lain, mungkin delapan atau lebih. Tapi La Uda yang paling jarang bicara soal itu. Yang lain menyebutnya lebih dulu. Ia hanya tertawa kecil, seperti orang yang sudah terlalu lama melakukan sesuatu untuk merasa perlu menjelaskannya.

Setiap ajakan membuat kalimat harus disusun pelan. Bukan tubuh yang menolak, melainkan pikiran yang mencari jarak. Malam itu sudah ada janji di Kaledupa. Orang yang mengirim tiket pesawat ke Wakatobi ingin bertemu. Tanpa orang itu, pertemuan ini mungkin tidak pernah terjadi. Alasan itu tidak ingin disebut sebagai hutang, tapi juga tidak ingin disembunyikan.

Berbicara dengan La Uda tidak bisa sembarang. Ia orang yang tidak mudah percaya. Satu kalimat yang keliru bisa menutup pintu tanpa suara. Maka disampaikan apa adanya: kehadiran di sini karena ada pertemuan malam di Kaledupa. Jika ia mau ikut, pintu terbuka.

La Uda sempat berkata, ada orang darat yang ia ajak memanah tapi menolak. Padahal banyak bule datang jauh-jauh hanya untuk melihatnya memanah. Ia tidak menunggu jawaban. Ia hanya tertawa singkat, lalu duduk lagi. Hari itu yang dipilih bukan laut, melainkan duduk dan bercerita. Pilihan itu membuat rumahnya menjadi tempat bermalam.

Esok paginya, sebelum berpisah, La Uda berkata, nanti bawa ole-ole kalau datang. Tidak ada janji waktu.

bersama Ikhy La Uda dan Keluarga Kecilnya 1
bersama Ikhy, La Uda dan keluarga kecilnya

Dalam perjalanan, Ikhy menyebut mesin perahu La Uda: lima belas PK. Di bawah rumah, saat air surut, perahu itu terlihat jelas. Baling-baling putih keperakan diliputi lumut basah. Beberapa bagiannya pecah, patah. Tidak ada yang dikatakan.

Dua bulan kemudian, baling-baling lima belas PK dibeli di Kendari. Yang kuningan dipilih, sedikit lebih mahal, lebih susah dicari.

Kali ini air naik. Tingginya hampir sejengkal dari lantai rumah. Bau bacin hilang. Yang ada hanya laut dan deru ombak. Ombak pecah di sekitar tiang rumah, airnya memercik ke lengan, dingin, asin, lalu mengalir turun tanpa bekas. Untuk sampai ke rumah, kaki harus basah hingga selutut. Ibunya tampak dari balik jendela, tersenyum, tidak berkata apa-apa. Jendela itu ditopang balok kecil seadanya agar tetap terbuka.

Titian menuju rumah terbuat dari perahu terbelah, perahu rusak yang dijadikan jembatan. Permukaannya tidak rata. Setiap langkah membuatnya bergoyang. Perahu yang tak lagi melaut, berubah menjadi jalan.

Melihat kedatangan itu, La Uda setengah berteriak, “Datang, Bang Adhy.” Seperti ingin seluruh kampung tahu, padahal rumahnya paling ujung, paling dekat laut. Semua orang sudah melihat lebih dulu.

Di tanganku ada satu ikat nasi bambu. Tiga bubung dalam satu ikatan. Ia tersenyum lebar, lalu memanggil anak-anaknya, empat orang, semuanya di bawah usia remaja. Setelah mereka makan di dalam, saya memintanya mendekat.

Baling Baling Putih dan Kuningan 1
baling-baling putih dan kuning

Ia menerima baling-baling tanpa banyak tanya. Tawa berhenti, wajahnya mengerenyit, lalu turun perlahan. Matanya basah seperti ikan yang baru diletakkan di atas perahu. Ia menyekanya cepat, seperti anak kecil yang menemukan mainan lama yang kembali. “Yang kuningan susah dapat di sini,” katanya tertahan. “Ini mahal dari yang putih.”

Tidak ada kata-kata lagi. Rokok dinyalakan. Asap dihirup dalam-dalam.

Beberapa saat kemudian, La Uda berkata, ke mana pun mau pergi, ia bisa antar. Tidak jauh dulu. Malam itu hanya singgah.

memanah ikan di laut Hoga 1
Memakan ikan di Laut Hoga

Perahu bergerak ke sekitar Pulau Hoga. Dari sana, Sampela masih terlihat. La Uda membawa dua panah dengan karet berbeda. Yang satu hitam, yang lain merah. Saat dilepaskan, karet hitam terdengar seperti tuf—pendek, padat, bergerak lurus. Yang merah seperti wuf—lebih panjang, lebih mengalir. Panah itu dipakai untuk ikan yang tidak kecil.

Di atas perahu, bunyinya nyaris sama. Di bawah air, bunyi itu tidak terdengar, ia terasa bedanya.

La Uda turun lebih dulu. Tidak ada aba-aba. Air menutup tubuhnya tanpa suara. Ikhy mencoba menyusul, tapi berhenti di kedalaman tujuh meter, naik dengan napas tersengal. La Uda masih di bawah, sekitar dua puluh meter, bergerak rendah di atas pasir, tenang, seperti pari berekor panjang.

Ketika muncul ke permukaan, tidak ada hentakan. Tidak tergesa. Ia meraih perahu dengan satu tangan, lalu naik pelan. Di atas perahu, waktu berjalan tanpa suara. Dalam waktu yang singkat, ikan karang sudah memenuhi dasar perahu, cukup untuk makan malam, dan cukup untuk menunjukkan caranya bekerja.

Menjelang malam, percakapan terhenti oleh asap. Istri La Uda mengipas sisa pembakaran ikan. Asapnya cukup mengenai mata untuk membuat semua diam. La Uda tertawa. “Sudah,” katanya, “saatnya kita makan ikan tangkapan tadi. Masakan ibu ketua pasti enak.”

Ikan karang tidak dibakar seperti di warung. Api langsung dikenakan ke tubuh ikan. Setelah kulit tebalnya menghitam dan retak, barulah ikan diletakkan di atas bara.

Malam itu ikan karang dimakan dengan colo-colo. Air laut surut perlahan, angin masih cukup kencang. Tidak ada yang tergesa. Daging ikan putih bersih, lembut, seperti buah sirsak.

La Uda berkata pelan, rasa seperti itu hanya datang jika ikan dibakar sebelum lima jam. Lewat dari waktu itu, katanya, daging seperti ini tidak akan pernah ditemukan di darat. Rasanya tetap laut, tapi tidak selaut ikan di warung.

Malam makin turun, tangan-tangan kembali sibuk pada urusannya, menggenggam piring, meraih bara, membersihkan sisa garam.

Sampai hari ini, La Uda tetap memanggil bang Adhy, seperti perkenalan yang memilih tinggal di jari masing-masing.***

KOMUNIKASI VIRTUAL 
Baca Tulisan Lain

KOMUNIKASI VIRTUAL 


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *