Bagian 2
Mereka duduk membentuk lingkaran di Pulau Pasir yang sunyi. Angin asin menyelinap di antara bekal yang baru dibuka: buras[1] dari Tassipi, kasuami[2] dari Wakatobi, dan kolo[3] dari Rote. Tiga makanan yang tahan basi. Tiga cara bertahan hidup: memori tentang rumah.
Lelaki dari Tassipi membuka daun pisang pelan-pelan. Buras-nya masih hangat. “Ibuku bilang, kalau buras masih hangat saat kau jauh dari rumah, berarti ada yang mendoakanmu,” katanya lirih. Di kampungnya, buras bukan sekadar nasi santan, tapi titipan doa dalam lipatan daun.
Orang Wakatobi menyendok kasuami dari potongan daun kelapa kering. Singkong kukus itu menyerap garam udara, tapi tetap kenyal. “Kasuami ini awet seminggu. Laut tak kenal tanggal pulang,” katanya. Di kampungnya, makanan tak dibuat untuk kenikmatan, tapi untuk bertahan dari badai.
Nelayan Rote mengiris se’i[4] ikan asap yang disusun di atas daun lontar. Pohon itu tumbuh seperti ilalang, bahkan lebih akrab dari bayangan sendiri. Tidak ada sambal, hanya garam dan sedikit minyak kelapa di ujung jari. “Diasap dua malam. Bisa dimakan meski hujan seminggu,” ujarnya. Asap dan garam bukan cuma pengawet, tapi warisan hidup.
Mereka makan dengan lahap, tapi tak pernah lupa mengangkat sedikit makanan ke laut sebelum suapan pertama. “Untuk yang sudah lebih dulu tenggelam,” kata lelaki Rote.
Dan aku paham, itu bukan ritual. Itu adalah bahasa lain untuk tidak melupakan. Karena di laut, tubuh bisa hilang, hanya ingatan yang membuatnya mudah.
Entah sejak kapan aku tak lagi sekadar pendengar. Aku jadi bagian dari malam itu.
Setiap makanan bukan sekadar untuk kenyang, tapi untuk mengingat: siapa yang memasak, siapa yang membungkus, siapa yang melepas. Buras membawa wajah ibu. Kasuami menyimpan suara dapur. Ikan asap kolo memeluk ketahanan yang diwariskan.
Aku menulis ini sambil duduk bersama lelaki Tassipi di beranda rumahnya, jauh dari Pulau Pasir yang selalu ia ceritakan. Kami sedang menyantap ikan kerapu bakar yang asapnya masih mengepul, ditemani buras yang masih hangat. Rasanya enak, harum, dan wangi. Tapi lidah seperti kehilangan kemampuan merayakan.
Nelayan Wakatobi pernah berkata, “Kalau kasuami tak diberi alas daun kelapa saat dikukus, dia cepat basi. Tapi istriku tahu caranya.” Lalu ia menyendok perangi[5] dari tempurung kerang. Orang Rote tak mengenal perangi, mereka lebih suka membakar ikan hingga wangi.
Tapi laut mengenal semua cara makan.
Mereka tak selalu sepakat soal arah angin, tapi satu suara soal bekal. Bekal bukan soal rasa, tapi tentang siapa yang dirindukan saat ombak tinggi. Maka mereka saling simpan makanan. Bila satu hilang, yang lain masih bisa menyebut namanya lewat gigitan buras, remah kasuami, atau kolo yang mengeras.
Orang Wakatobi percaya kasuami menyerap sunyi. Setiap gigitan punya rasa baru: asin, getir, atau seperti suara ibu memanggil dari dapur. Kolo, kata lelaki Rote, seperti pelukan rumah. Di malam ketiga, ia mulai keras seperti kenangan. “Kalau makananmu makin keras, itu tandanya kamu makin lama di laut,” ujarnya sambil tertawa.
Aku belum pernah ke Pulau Pasir, tempat mereka sering singgah saat angin teduh. Tapi aku pernah bermalam di Windonu[6], pulau kecil yang tenggelam bila air meninggi. Malam di sana begitu sunyi, hingga aku bisa mendengar perutku sendiri berbicara. Mungkin karena itu aku bisa membayangkan laut yang mereka arungi. Karena beberapa cerita tak harus dialami untuk bisa menyakitkan.
Mereka bersaudara bukan karena darah, tapi karena pernah menahan lapar bersama. Pernah berbagi air hujan dari terpal. Pernah duduk menunggu mesin perahu menyala tanpa suara. Mereka tahu cara diam yang sama. Dan itu, lebih penting dari bahasa manapun.
Aku tak ikut menahan lapar, tak pernah menampung air hujan dengan mulut terbuka, atau menanti perahu dengan mesin beku. Tapi malam itu, aku merasa seperti seseorang yang juga dikenang. Sekalipun hanya sebagai nama yang ditulis dengan hati-hati, agar tak hilang dari laut yang mudah melupakan.***
Tassipi 2025.

PAGI MEREVISI PAGI
[1] nasi yang dikukus dalam daun pisang, direbus lama dengan santan.
[2] parutan singkong yang dikukus dan dipadatkan dalam anyaman daun kelapa.
[3] nasi bakar khas Rote yang dimasak dalam bambu.
[4] olahan ikan asap khas Rote, Nusa Tenggara Timur, yang dibuat dari irisan tipis ikan laut (seperti tuna atau marlin). Proses ini menghasilkan cita rasa asap yang khas dan berfungsi sebagai metode pengawetan tradisional dalam budaya maritim Rote
[5] sajian ikan mentah khas Wakatobi yang disiapkan tanpa dimasak, hanya dengan perasan jeruk nipis sebagai bumbu utama, mencerminkan tradisi maritim dan konsumsi hasil laut segar dalam budaya pesisir Sulawesi Tenggara.
[6] Pulau Windonu dikenal pula sebagai Pulau Senja adalah pulau pasir temporer di lepas pantai Moramo Utara, Sulawesi Tenggara, yang hanya muncul saat air laut surut dan tenggelam kembali saat pasang. Pasirnya sangat putih dan menjadi habitat alami sementara bagi bintang laut (Asteroidea), menjadikannya lokasi unik dalam kajian dinamika pesisir dan ekowisata berbasis pasang surut.









