Minsa, Denyut dari Bawah Pasir

minsa cover

Posisi tangan orangtua. Tampak tangan yang diam menjadi alat baca utama, menangkap getaran kecil yang menandai pasir masih bernapas.

Orangtua itu datang lebih dulu ke pasir, di belakang rumah, pada hamparan yang tidak luas—barangkali seukuran dua rumah—tempat laut masih datang dan pergi tanpa ditahan tembok. Ia tidak membawa banyak benda. Hanya ubi kayu yang dihaluskan dan daun pepaya segar. Campuran itu tidak ditebar. Ia ditempelkan pelan di satu titik, seperti menandai sesuatu yang sudah ia tahu. Bau pahitnya tidak menyentak hidung, ia tinggal, merayap turun ke pasir basah. Telapak tangannya menempel lama. Ia tidak menunggu sesuatu muncul. Ia menunggu geraknya.

orangtua mencari minsa scaled
Orangtua Mencari Minsa. Orang Tua duduk lama di satu titik, membiarkan bau pahit dan kesabaran bekerja sebelum menarik apa pun dari pasir.

Cacing laut itu disebut minsa, tubuh panjang berwarna gelap kemerahan yang hidup di bawah pasir, keluar hanya jika bau pahit dan tangan yang sabar mengganggunya.

Di bawah kulit tangannya, pasir tidak diam. Ada getaran kecil, nyaris seperti denyut yang salah dengar. Tidak sampai ke mata, tetapi cukup untuk tulang. Orangtua itu menarik tangannya sedikit, menekan lagi, lalu menunggu. Ia membaca arah, kedalaman, dan berat, tanpa berpindah dari titik itu. Sesekali tangannya mencabut sesuatu, tetapi bukan minsa. Ia tetap duduk. Hampir tiga puluh menit berlalu. Hari itu, pasir memilih diam.

Kegagalan itu tidak gaduh. Tidak ada keluhan. Tidak ada perubahan posisi. Seolah kegagalan pun bagian dari cara tinggal di pasir. Orang-orang tahu, selama minsa masih keluar dari pasir dekat rumah, air belum sepenuhnya pergi, pasir masih bernapas, dan laut masih mau datang sampai ke tepi. Tetapi tidak setiap hari pasir mau menjawab.

Beberapa saat kemudian, lima anak remaja menyusul. Mereka datang berkelompok, membawa wadah dari kaleng dan botol air mineral. Bau berubah. Jeruk nipis ditambahkan. Asam dan pahit bertabrakan di udara, cepat, menyentak. Daun pepaya dicacah kasar. Campuran itu ditebar di celah batu dan pasir. Tubuh mereka tidak diam. Telapak kaki meraba permukaan, telapak tangan menyusuri tepi. Mereka berpindah-pindah, membaca tanda sebelum menetap.

remaja
Remaja membaca pasir dengan telapak kaki dan tangan, berpindah cepat mengikuti tanda-tanda kecil yang mudah terlewat.

Dari lima orang itu, hanya dua yang benar-benar mencari. Yang lain mengamati atau menyiapkan wadah. Satu anak menonjol. Geraknya cepat, tetapi tidak tergesa. Ia membaca garis pasir, celah karang, dan gelembung kecil yang cepat hilang. Jika satu titik salah, ia segera pindah. Tangannya masuk, menarik pelan. Minsa keluar utuh. Berkali-kali. Anak lain juga berhasil, tetapi beberapa minsanya putus. Ia ragu lebih lama, dan sering kembali ke titik yang sama.

Kata mereka, setelah hujan minsa lebih mudah dibaca. Bukan karena lebih banyak, tetapi karena pasir dan celah karang tidak menyembunyikan geraknya. Pada hari-hari tanpa hujan, minsa tetap ada, tetapi tanda-tandanya lebih sulit dibaca. Katanya, pasir lebih kering, celah karang menutup, dan gerak kecil mudah luput.

Di pasir yang sama, dua cara tinggal bertemu. Orangtua mendengar dari bawah, hanya dengan telapak tangan, dari satu titik. Remaja membaca dari atas, dengan telapak kaki dan telapak tangan, sambil berpindah. Perbedaannya bukan pada hasil, melainkan pada hubungan dengan waktu dan ruang. Yang satu bekerja dengan bau yang menetap dan getaran yang halus. Yang lain bekerja dengan bau yang cepat dan gerak yang terbuka. Bukan soal siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang sedang menyesuaikan diri dengan pasir yang berubah.

Aku menunggu bersama mereka, tetapi tubuhku tidak setenang yang kutunjukkan. Aku terbiasa mencari tanda yang terlihat, terbiasa ingin memastikan sesuatu sedang terjadi. Di pasir ini, keinginan itu tidak menemukan tempatnya. Yang penting justru tidak muncul. Bau pahit tinggal lebih lama dari dugaanku, getaran kecil datang dan pergi tanpa pernah benar-benar bisa kupastikan. Ada dorongan untuk ikut menempelkan tangan, untuk mencoba membaca denyut itu sendiri. Namun bahkan sebelum bergerak, aku tahu: kedekatan tidak selalu berarti kesiapan.

TARIK REMAJA
Remaja menarik minsa dari celah karang dengan sabar, menjaga tubuhnya tetap utuh.

Telapak tangan orangtua itu tetap diam. Ia tidak memberi isyarat apa pun. Diamnya bukan penolakan, melainkan batas. Di hadapannya, keinginanku untuk segera tahu terasa seperti gerak yang terlalu bising. Aku menyadari, di sini, menunggu bukan tahap menuju hasil, melainkan bagian dari cara tinggal.

Dulu, kata orang-orang, minsa mudah sekali ditemukan, hampir di setiap rumah. Aku pernah datang ke Lakudo pada akhir 1999, ingatan itu menyimpan pasir yang lebih luas dan tanda-tanda yang lebih mudah dibaca. Kini, minsa hanya ada di titik tertentu, di hamparan pasir yang masih bersih, yang tidak dibatasi tembok semen, penahan ombak, atau parkiran perahu. Di seberang, beberapa pantai telah mati. Pasirnya tidak lagi bernapas. Di sana, hujan tidak membantu apa pun.

Di belakang rumah-rumah Lakudo, minsa masih bertahan. Hampir semua rumah memiliki jamban, limbah tidak langsung dibuang ke laut. Halaman dibersihkan rutin. Sampah plastik memang ada, sebagian terdampar dari laut, sebagian tertinggal di pesisir. Namun pasir di belakang rumah masih memberi ruang bagi sesuatu untuk tinggal. Di situlah minsa menjawab.

Minsa tidak dijual. Ia bukan komoditas. Ia umpan yang dicari bersama. Untuk satu perahu, anak-anak akan mencari berkelompok. Yang mendapatkan lebih akan berbagi. Tidak ada barter. Tidak ada hitung-hitungan. Yang ada hanya pengetahuan tentang sesuatu yang cukup hari itu. Mereka mencari minsa bukan karena ia langka, tetapi karena ikan ketamba mengenali baunya.

wadah minsa
Minsa yang terkumpul dalam wadah kecil menjadi penanda bahwa pasir masih sehat.

Di pasir basah dan telapak tangan yang diam, aku melihat sesuatu yang jarang: manusia yang memilih mendengar sebelum menarik. Bukan umpan yang dikejar, melainkan cara agar sesuatu yang hidup bisa keluar tanpa dipatahkan. Selama pasir masih bernapas, dan laut masih mau datang sampai ke tepi, minsa akan tetap menjawab pelan, dari bawah.

Pasir yang sehat tidak pernah berisik. Ia bekerja pelan, menyimpan air, bau, dan getaran, lalu membiarkan makhluk kecil seperti minsa tinggal dan menjawab ketika dibaca dengan sabar. Dari tubuh yang nyaris tak terlihat itu, pengetahuan bergerak menuju umpan, ikan, perahu, dan meja meja makan. Minsa hanyalah bagian kecil dari cara membaca pasir, tetapi dari yang kecil itulah ekosistem yang lebih besar tetap tertarik untuk datang dan tinggal.***

Lakudo, 14 Desember 2025

#all foto karya Rauf Alimin. Dok. EMA


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *