LA BONGO DARI TAWARO MOTU’O: Catatan Gambut Rawa Aopa di Desa Pewutaa

rawa 5 1

Rawa Aopa. dok EMA

Di Rawa Aopa, buaya tidak diperkenalkan lewat cerita serangan. Ia diperkenalkan lewat kebiasaan. Lewat nama. Nelayan menyebutnya La Bongo (buaya tua yang katanya sudah tuli dan pikun). Tidak ada nada takut saat nama itu diucapkan. Nama itu disebut seperti menyebut sesuatu yang sudah lama ada dan tidak perlu lagi dipertanyakan.

rawa 1
Tim Elnical bersama nelayan dan petugas PPA Kec. Angata, Konsel. dok. EMA

Pertama kali mendengar namanya, aku membayangkan usia. Nelayan mengatakan, sejak mereka masih mengikuti kakek buyutnya ke rawa, La Bongo sudah ada. Rawa Aopa mereka sebut kolam keluarga. Semua yang bisa dimakan boleh dibawa pulang atau ke pasar, asal tidak mengganggu La Bongo dan teman-temannya.

Aku mengenal lebih dulu suara sungai dan rawa. Jauh sebelum intens ke laut, tubuhku sudah terbiasa membaca air yang tidak bergerak cepat. Air yang menyimpan bunyi kecil, getar halus, dan tanda-tanda dekat. Baru setelah itu aku bertemu nelayan laut. Di laut, bau bekerja seperti peta. Ikan bisa dibaca dari udara: amis yang datang pelan bersama angin, asin yang berubah di lidah, rasa yang memberi arah. Di laut, bau bergerak dan meninggalkan jejak. Nelayan mengikuti jejak itu. Suara kecil tenggelam oleh ombak. Tanda datang dari jauh.

Di Aopa, bau justru berhenti bekerja. Ia menempel lama di perahu, di gagang dayung, di pakaian, tapi tak pernah memberi arah. Kadang baunya masih ada meski sumbernya sudah lama pergi. Air hitam gambut seperti menahan molekul bau, memenjarakannya di satu tempat. Karena itu, nelayan rawa tidak mengandalkan hidung. Mereka mengandalkan mata dan telinga.

Perahu yang mereka pakai kecil, dibuat dari kayu sali-sali, diraut dari satu batang besar, tanpa sambungan. Perahu ini ringan, tenang, dan tidak tenggelam meski terbalik. Di rawa tanpa ombak, perahu tidak perlu besar. Ia justru harus sunyi. Mesin jarang dipakai di gambut tebal. Jika mesin diangkat, perahu meluncur pelan, digerakkan kandai—tongkat panjang yang ditancapkan ke dasar rawa, berfungsi seperti dayung di air dangkal dan semak. Perahu menjadi perpanjangan tubuh, bukan mesin.

rawa 2
Teknik Nelayan Masapero membuat dentuman di dalam air. dok. EMA

Air Aopa tampak hitam dari jauh. Tapi ketika disendok dengan telapak tangan, ia bening. Tidak berbau busuk. Hanya beraroma daun. Air ini disaring dengan kain, lalu dipakai untuk air panas. Nelayan mengambilnya pagi-pagi sekali, saat serangga belum banyak jatuh dan rawa masih diam.
Di rawa lain, air cepat keruh saat dasar tersentuh. Di Aopa, air tetap jernih. Yang terangkat hanya serat daun dan gambut tipis, seperti sup bening dengan bumbu yang mengambang pelan.

Di bawah air yang tenang itu, gambut menumpuk lama. Daun pandan tua, serat tumbuhan, dan sisa-sisa hutan yang runtuh perlahan membentuk lapisan tebal. Nelayan mengatakan tanah di bawah rawa ini keras seperti beton, bukan karena batu, tapi karena usia. Aku merasakannya ketika kandai menyentuh gambut. Di lapisan atas, rasanya seperti kasur tua: tidak ringan, tidak berat, tapi memberi pantulan aneh. Getarannya merambat dari pergelangan ke ujung jari. Ketika kandai dihantamkan lebih dalam dan menyentuh dasar rawa, bunyinya “duk”, pelan sekali. Tidak ada gelembung air. Tidak ada lumpur yang mengeruh.

Di rawa lain, sekeras apa pun dasar rawa, tongkat masih bisa masuk. Tanahnya lembek, berlumpur. Airnya cepat keruh. Di Aopa, kandai berhenti. Dasarnya keras, tidak licin, tapi seperti menyedot tanpa meresap. Di atas dasar yang keras itulah tubuh-tubuh besar memilih berdiam, bukan bergerak.

rawa 6
Dermaga Rawa Aopa. Dok. EMA

Tubuh La Bongo jarang digambarkan panjang lebar. Tapi ketika ia muncul, kulitnya segera menjelaskan usianya. Ia seperti kayu arang tua yang mengapung, hitam pekat, dengan banyak patahan dan retakan. Tidak mengilap. Tidak basah. Ia mengapung seperti benda yang sudah terlalu lama berada di sana.

Siang hari, La Bongo jarang terlihat. Nelayan tahu ia ada, tapi tidak mencarinya. Mereka membacanya dari tanda-tanda kecil: burung yang berdiri terlalu lama di satu batang pandan, laba-laba air yang tiba-tiba berhenti bergerak, capung yang terbang rendah lalu kembali ke titik yang sama. Kadang hanya satu daun pandan yang bergerak sendiri, sementara daun lain diam. Nelayan tahu itu bukan angin. Di rawa, angin jarang bekerja sendirian.

Burung di Aopa terlalu banyak untuk dihitung, tapi nelayan mengenali perbedaannya. Bahkan bangau pun tidak satu jenis. Ada bangau putih dengan paruh panjang yang berdiri lama seperti menunggu air bicara. Ada bangau putih dengan leher keemasan yang bergerak pelan di tepian. Ada pula bangau hitam kecokelatan yang oleh nelayan disebut angsa kurus—karena bentuknya mirip angsa, hanya lebih kecil dan ringan. Ia sering terbang rendah di atas air, lalu hinggap di dahan rapuh tanpa membuatnya patah. Burung-burung itu tidak gelisah. Mereka berdiri, terbang, dan kembali berdiri, seolah rawa ini tidak menyimpan apa pun yang perlu ditakuti.

Saat mesin perahu diangkat karena gambut terlalu tebal, perahu kami tersentuh sesuatu dari bawah. Geserannya berat dan lambat, seperti kayu besar berpindah posisi. Petugas PPA tetap tenang.
“Ini bukan ikan besar,” katanya. “Di sini mereka seperti batu, tapi akan pindah kalau kita lewat.”

Nelayan Mesapero yang memakai kandai membawa sedikit barang. Tidak banyak tali. Tidak banyak alat. Kandai mereka dimodifikasi dengan botol plastik yang dipotong setengah di ujungnya. Saat diturunkan pelan ke air, alat itu menciptakan gelembung-gelembung halus di bawah gambut, dentuman kecil berulang. Teknik Mesapero dipakai untuk mengusir ikan besar keluar dari lapisan gambut agar masuk ke perangkap. Bunyi yang cukup untuk mengusik ikan, tapi tidak cukup untuk mengganggu buaya tua.

Nelayan pukat membaca riak. Nelayan bubu membaca posisi, jarak, dan ingatan. Setiap alat membawa cara membaca yang berbeda.

Malam hari, buaya mengapung tenang. Tidak ada agresi. Tidak ada perburuan. Mulut sedikit terbuka. Ikan datang sendiri, mengikuti arus mikro yang nyaris tak terlihat. Makan terjadi tanpa kejaran, seolah rawa telah mengatur jarak dan ritmenya sendiri. Di air yang gelap, bau tidak memberi peringatan. Bunyi terserap. Ikan tidak menerima sinyal bahaya. Buaya tidak perlu bergerak.

rawa 3 1000
Kala nelayan menggoda La Bongo. dok. EMA

Ada satu tempat yang tidak disentuh nelayan: Tawaro Motu’o. Rumpun sagu yang sangat tua. Dari sagu itulah orang Aopa mengenal sinonggi—makanan yang mengenyangkan dan mengikat mereka pada rawa. Tapi sagu di tempat itu tidak diambil. Tidak ditebang. Tidak diolah. Dalam hidup yang bergantung pada sagu, keputusan untuk tidak menyentuh sagu adalah keputusan yang tidak ringan. Tapi mereka melakukannya tanpa banyak kata.

Kadang, nelayan menggoda La Bongo. Bukan karena marah. Lebih karena bosan atau sepi. Kandai diturunkan. Gelembung kecil muncul. Makhluk muda bergerak. Tapi La Bongo tetap diam.

“Makanya kami panggil dia Bongo,” kata nelayan itu sambil tertawa pelan. “Sudah tua. Tidak dengar lagi.”

Mungkin bukan semata karena ia tuli. Mungkin karena ia sudah terlalu lama tinggal di sana. Terlalu lama mengenal gambut itu sebagai rumah. Di ekosistem yang tidak pernah dirusak oleh racun atau bom, predator puncak tidak perlu membuktikan apa pun. Ia hanya perlu hadir.

Di Aopa, suara paling pelan bisa terdengar. Gesek perahu, jatuhnya serangga, atau bunyi kandai saat menyentuh dasar. Keheningan bukan kekosongan, melainkan medium. Ia membuat tanda kecil menjadi penting. Di sinilah nelayan membaca alam tanpa tergesa. Mereka menunggu sampai rawa sendiri yang bicara.

Dan di antara tanda-tanda itulah, La Bongo tinggal bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari bahasa rawa yang paling tua.

Di Aopa, yang menghanyutkan bukan arus, melainkan sesuatu yang lebih tua dari gambut. Berdiam di bawahnya saat siang hari, ketika air tenang dan waktu bekerja tanpa suara.

Rawa Aopa, Pewutaa, 20 Desember 2025


Apakah artikel ini membantu?

One thought on “LA BONGO DARI TAWARO MOTU’O: Catatan Gambut Rawa Aopa di Desa Pewutaa

  1. Jika masyarakat nelayan di Rawa itu di tanya, apakah mereka tidak takut dengan buaya di situ? Jawaban mereka selalu saja sama dari orang pertama dan kedua atau seterusnya yang ditanya. “Mereka cari makan, dan kami juga cari makan. Mereka tidak mengganggu selagi kita tidak menganggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *