SLOBODON

cerpen slobodon ab

Nama saya Slobodon.
Warga biasa.
Tanpa rompi. Tanpa ajudan…

Saya menulis ini dari bangku taman atas, di bawah matahari 29 derajat yang tidak pernah dilantik siapa pun. Bangku ini dulu utuh. Sekarang tinggal setengah dipotong dari ranjang tanda malas demi efisiensi. Kata yang indah, efisiensi. Ia terdengar pintar, padahal sering hanya cara halus untuk berkata yang lain silakan berdiri.

Dari bangku setengah inilah saya menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden.
Maaf … meski saya sendiri belum tahu persis kesalahan apa yang telah saya perbuat.
Namun belakangan, keyakinan saya semakin mantap di negeri ini, rakyat memang sering diminta minta maaf lebih dulu, sebelum sempat bertanya.

Saya minta maaf karena semakin yakin bahwa kepresidenan hari ini dijalankan bukan dengan hati nurani, melainkan dengan rundown.
Bukan dengan empati, tapi dengan sudut kamera.
Bukan dengan mendengar, tapi dengan memastikan mikrofon hidup.

Maaf, keyakinan itu tumbuh setiap kali bencana datang.
Terutama dari sumatera yang tak kunjung menasional… tempat tanah bisa terbelah tanpa konferensi pers,
tempat air naik tanpa menunggu izin pusat,
tempat jeritan lebih jujur daripada pidato.

Saya belum pernah mendengar Anda berkata,
“Kami salah.”

Yang saya dengar justru:
“Kami hadir.”

Datang.
Bersama rombongan.
Bersama baliho.
Bersama slogan.
Bersama ibu-ibu yang berbaris rapi, melambaikan tangan seperti koreografi yang sudah dilatih jauh sebelum air naik.

Maaf, Tuan Presiden, imajinasi saya lancang.
Di kampung saya, yang melambaikan tangan sambil tersenyum biasanya bukan yang kehilangan rumah, bukan yang tidur di tenda bocor, bukan yang mengubur nama di lumpur.

Saya minta maaf karena membayangkan seorang presiden yang kuat menahan kritik, kuat menahan hujatan, kuat menahan data
namun tampak rapuh ketika harus mengucap tiga kalimat sederhana

Tolong.
Maaf.
Terima kasih.

Seolah-olah tiga kata itu bisa menjatuhkan negara.
Padahal negara sering runtuh justru karena kata-kata itu absen.

Tolong…
adalah pengakuan bahwa kekuasaan punya batas.

Maaf…
adalah keberanian untuk mengakui bahwa kebijakan bisa keliru.

Terima kasih….
adalah cara paling murah untuk menghormati warga yang tetap bertahan meski terus dikecewakan.

Saya minta maaf karena bahasa saya tidak santun.
Kalimat saya pincang.
Ejaan saya tersandung.
Logika saya terjungkal.

Tapi beginilah cara saya berduka.
Kata-kata saya terluka, seperti warga yang tak sempat difoto.
Tak masuk siaran langsung.
Tak muat dalam infografik.

Jika suatu hari Anda bertanya,
“Apa gunanya maaf?”

Saya akan menjawab
Maaf memang tidak membangun rumah.
Maaf tidak menghentikan hujan.
Maaf tidak menurunkan air.

Tapi maaf memperbaiki jarak.

Dan jarak, Tuan Presiden,
sering kali lebih mematikan daripada gempa.
Lebih lama sembuhnya.
Lebih sunyi kuburannya.

Surat ini tidak menuntut pengunduran diri.
Tidak meminta reshuffle.
Tidak meminta panggung.

Surat ini hanya mengingatkan
bahwa memimpin bukan hanya soal berdiri paling depan,
tapi juga berani menunduk.

Jika Anda merasa tersinggung, saya minta maaf.
Jika Anda merasa tidak perlu meminta maaf, saya minta maaf sekali lagi.
Karena barangkali, di situlah masalahnya.

Begitu saja.
Dari bangku setengah.
Oleh warga seutuhnya.

Slobodon

MIRROR
Baca Tulisan Lain

MIRROR


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *