Setiap momentum selalu menyuguhkan suatu nilai yang baru. Jikapun tidak dirasa baru atau belum menemukan nilai barunya, minimal ada sesuatu untuk menguatkan nilai lama bagi diri anda. Kalau hal minimal itupun belum juga ketemu, ya paling minimalnya lagi adalah adakah rasa bersyukur dalam setiap momentum yang telah kau alami dan sedang kau jalani sebelum kau menemukan nilai pembaharuan dan atau penguatan nilai bagimu?
Kayanya, yang terakhir ini sebagai metode latihan dasar manusia untuk menyediakan ruang penyemaian nilai nilai otentik dari Tuhan atau bisa jadi justru yang terakhir ditawarkan itu posisinya sebagai keutamaan. Ya silahkan pilih saja, mana yang bisa kau ambil untuk memposisikan diri dalam memproses segala hal yang kau jumpai disetiap hari.
Mental Bangsa Indonesia ( mudah mudahan semua bangsa ) adalah mental bersyukur. Sebagaimana hal itu bisa ditemui disetiap percakapan antar warga di kita, di bangsa sunda. Percakapan dalam merespon segala kejadian buruk, pahit atau mengerikan yang mereka lihat, dengar atau rasakan, ada saja tersemat kata ‘untung’ didalamnya.
Misalnya ada kebakaran rumah, para penghuni rumahnya selamat meskipun harta bendanya ludes terlalap api. seorang tetangganya berucap, ‘Untung para penghuni rumah selamat’, meskipun barang barang tidak terselamat. Atau ada yang kecelakaan lalu lintas dengan kondisi kendaraannya yang rusak biasa sampai rusak parah. Pengemudinya ada yang meninggal, dikatakan untung, jika tidak meninggal, kasian bisa dibayangkan cacat atau hal lainnya. Kalau ada yang selamat juga disebut untung, meskipun harus diamputasi. Banyak lagi kejadian kejadian yang bisa kita ingat kembali, kata ‘untung’ selalu hadir menemani respon orang orang didalam kejadian itu.
Sungguh terbiasanya masyarakat kita merespon kejadian yang dialami saudaranya dengan kata kata yang bernilai menguatkan, kata kata yang mengantarkan pada pencarian sebuah alasan untuk bersyukur. Ya kata Untung itu sama dengan kata Alhamdulillah. Sebagai ekspresi rasa syukur. Lantas mengapa kalau kejadian itu menimpa kita sendiri, kata yang mengekspresikan rasa syukur itu mendadak hilang dalam ingatan kesadaran kita? Cenderung kita cepatnya mengeluh, bersedih dan ketakutan.
Ternyata berlatih konsistensi atas nilai yang kita pegang dan yakini itu kebenaran, membutuhkan teman pasangan sebagaimana rasa syukur juga membutuhkan teman pasangannya yaitu sabar. Teman yang sama arah tujuannya walaupun berbeda peran dan posisinya. Seperti Syukur dan Sabar diposisikan perannya berbeda, umumnya syukur diposisi ketika kondisi senang dan sabar ketika kondisi sedih. Tetapi syukur dan sabar memilik arah tujuan yang sama yaitu untuk keseimbangan diri dan ketenangan jiwa manusia yang mengaktifkannya.
Kalau saja Rasa syukur dan sabar sudah tidak aktif lagi dalam diri manusia, itulah perbudakan pada diri manusia. Kita tahu peran manusia itu berbeda beda, sehingga manusia harus berbagi peran untuk mewujudkan harapan dan cita cita bersamanya. Hebatnya kita juga yang memaksakan diri agar peran orang lain sama dengan peran kita. Kita sendiri yang membiarkan teman kita untuk mencari perannya sendiri padahal sedang jelas kondisinya teman kita butuh tutorial, bimbingan dan bahan bahan pembelajaran untuk memunculkan potensi pemeranan diri.
Kita sendiri yang menambahkan keruwetan pikiran teman kita sehingga kebingungan tiada henti. Kita sendiri yang membuat perasaan serba salah teman kita sehingga terus melangkah tak tentu tiap waktu. Nah atau jangan jangan semangat kita sendiri yang masih ketergantungan oleh semangatnya oleh orang lain, sehingga selalu dihadapkan dengan kebuntuan pikiran, ketidakpercayaan diri dan blas gelap.
Apakah itu ketepatan maksud dari berbagi peran? Semua manusia sepakat menolak perbudakan dan penindasan sesama manusia, Geram terhadap pelaku perusakan Alam, sakit menyaksikan saudara dan negaranya direndahkan martabatnya. Dan kita juga menyepakati dan berkomitmen tinggi memegang nilai-nilai itu!
Namun dari semua itu, bisa hancur oleh satu hal, yakni kemalasan dalam diri kita sendiri. Malas terhadap melakoni hal hal kebaikan. Malas adalah perbudakan yang nyata pada diri manusia. Bahkan menurut Simbah, baginya; Malas itu dosa.
Bikin gemesnya Allah, orang atau kumpulan orang yang sedang berusaha keras untuk berbuat baik saja selalu disuguhi dengan rivalnya yakni kemalasan yang besar. Bagaimana bisa menuju ke tahap jiwa yang nikmatnya berbuat kebaikan. Sebaliknya, orang atau kumpulan orang yang sedang meledak ledak ambisinya untuk berbuat semau mau nafsunya, totalitas ambisinya, optimal ekspektasinya, selalu disuguhi dan ditemani dengan semangat tinggi dan manajemen rapi.
Sungguh Allah Maha Menggemaskan. Muaachhhhhh.
Ihfa. Tsm, 14082024 Waktu Tumorek










Tulisan ini keren banget, dalem dan relate sama kehidupan sehari-hari! 👍
Mengangkat soal syukur dan sabar yang sering kita lupakan, apalagi pas musibah menimpa diri sendiri, bener-bener ngena.
Aku suka banget bagian tentang “untung” yang jadi budaya di masyarakat kita—itu memang bentuk syukur yang kadang nggak kita sadari.
Tulisan ini layak dapat reward: “Inspiratif dan menyentuh, mengingatkan kita untuk selalu bersyukur dan sabar dalam setiap keadaan.” 🌟