Assalamu’alaika Yaa Habiby Yaa Rasulallah

Maulid Icun

Bulan Rabiul awwal diantara bulan yang dinantikan oleh jutaan umat muslim di dunia. Menjadi momen spesial muslimin dunia, tak terlewatkan khususnya kaum muslimin Indonesia, karena didalamnya ada satu peristiwa sejarah yang tak lekang oleh waktu, yakni kelahiran sang kekasih Allah, pemimpin umat manusia yang kiprah perjuangan serta keteladanannya tak bisa tergantikan sepanjang masa. Beliau Muhammad bin Abdullah, sang pamungkas Nabi dan Rasul. Sang Utusan pendobrak kelaliman, perbudakan dan prilaku pembodohan atas segala bentuk sistem diberbagai aspek kehidupan yang sudah terlempar jauh dari nilai nilai yang seharusnya, nilai yang diperintah Tuhan. Zaman jahiliyah yang merebak kesegala sistem kehidupan pada waktu itu, ia perbaiki, ia tata dan tempatkan kembali pada jalur yang semestinya, kesempurnaan akhlak. Lahir hari senin di tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gadjah. Segala kesempurnaan nilai peradaban Allah titipkan kepada yang Mulia, baginda Muhammad saw.

Kemerdekaan Muhammad.

Setiap peristiwa yang terjadi dan terus bergulir di kehidupan ini, setidaknya menghadirkan dua pesan yang mengaktifkan kembali fungsi akal manusia yang sungguhan. Ada Pesan gembira dan pesan peringatan. Sebagai momentum mengevaluasi syukur dan renungan kita.

Kenapa syukur dan perenungan harus di evaluasi sih? Kan itu sudah hal lumrah bagi umat muslim dimanapun. Apalagi menyambut datangnya bulan Maulid Nabi Muhammad, tentu bergembira, sebagaimana gembiranya kita menyambut Bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Pun demikian setiap ada peristiwa semisal gunung melestus, itu otomatis menjadi renungan bagi kita semua.

Lha iya, saya khilaf, mungkin bukan kita tapi untuk saya pribadi, pesan tersirat disetiap peristiwa menjadi semacam gugatan ke dalam diri, demontrasi untuk melakukan introspeksi dan evaluasi. Ya, saya pun sama, bersuka cita bahagia menyambut bulan Rabiul Awwal, bulan Kelahiran kekasih, Baginda Rasulullah, bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Namun dasar bahagia saya itu apakah benar benar atas dasar cinta dan kerinduan kepada beliau atau hanya ikut ikutan terbawa suasana oleh poster, video, cuplikan konten konten di media sosial, sebab karena ini momentum yang baik? Mudah mudahan ini kemurnian dari keterikatan jiwa dengan cinta dan kerinduan yang apik dilestarikan untuk Rasulullah.

Khusus bagi orang Indonesia yang beragama Islam, moment yang dijumpai sebelum bulan Maulid ini adalah perayaan HUT RI ke 80. Hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Rakyat Indonesia memiliki kemandirian dan kreativitas yang tinggi. Adanya keragaman tradisi berupa simbol, pernak pernik hiasan maupun konsep acara di berbagai daerah dalam rangka menyambut hari spesial yang namanya HUT Kemerdekaan RI maupun secara khusus bagi orang Islam dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah diantara bukti dari tingginya kreativitas bangsa ini. Proses yang dilakoni masyarakat dalam menyambut momen penting hari kemerdekaan maupun Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara gotong royong. Bahu membahu bekerja sama menjalankan konsep sedekah, baik dengan tenaga, pikiran maupun patungan uang. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia tangguh dan mandiri. Ia bersukarela dan bergembira mengeluarkan apa saja yang ada pada dirinya padahal itu bukan tugas kewajiban mereka, hanya sekedar apresiasi namun nilai juangnya tinggi.

Hal ini menjadi menarik tatkala dua momen Hari besar yang berdekatan rentang waktunya untuk kita sambut dengan kesadaran ‘sujud’.

Antusias masyarakat dalam menyelenggarakan peringatan hari kemerdekaan sebagai wujud ekspresi dari nasionalisme sejati. Nilai bela negara sudah melekat didalam kesadaran dan jiwa mereka. Jadi pemerintah jangan sok ngajari Nasionalisme kepada rakyat. Justru yang harus diajari nasionalisme dengan benar itu pemerintah. Ia posisinya sebagai pegawai yang diberi mandat untuk mengelola wilayah dan sumber daya oleh rakyat sebagai bos nya. Maka wajiblah pemerintah menjalankan tugasnya yang berlandaskan kesadaran nasionalisme bukan individualisme. Kesadaran bahwa ia sebagai pelayan bukan raja. Ia hanya pegawai kontrak yang di gaji rakyat. Bukan pegawai belagak bos sehingga susah dimintai pertanggungjawab oleh rakyat. Hakikinya kita berposisi sebagai pelayan di hadapan Allah, seyogyanya kita harus sungguh sungguh menomorsatukan etos kerja pengabdian kepadaNya.

Sepertinya kita perlu merekonstruksi akar pikiran kita, mendaur ulang kebiasaan tindakan kita yang sudah terperosok di zona nyaman bermental ‘ultra jahiliyah’. Ya kebodohan karena merasa diri aman, merasa diri benar dan merasa diri pahlawan. Bisa jadi lafadz basmalah, hamdalah, dzikir dan shalawat yang sudah berapa kali ikut membasahi bibir kita, sinar seketika laksana kepulan asap rokok, dikarenakan akal pikiran dan tindakan kita masih tetap dibiarkan hanyut terbawa air bah nafsyu, menyeret pada ilusi ekspektasi hiasan dunia yang berkarat. “Hebat dengan pangkat, Gaya dengan Harta, menang dengan curang, jagoan dengan kepintaran dan elegan dengan ketenaran”. Wirid dan shalawat yang kita ungkapkan, masih jauh dari kepantasan, tak sampai pada pertemuan ruhani hubungan cinta antara Allah, Rasulullah dan Hamba. Rasulullah tidak tega hati terhadap penderita yang di alami orang orang, apalagi mereka saudara mukmin. Sebagaimana tercantum dalam Surat at-Taubah Ayat 128-129

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”

Muhammad manusia merdeka, merdeka yang sejati. Ia sudah hidup mandiri sejak dari kecil dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang menjadi tugasnya. Beliau seorang yatim piatu yang diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, kemudian sepeninggal kakeknya, diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Meskipun ia diasuh oleh kakek dan pamannya, ia hidup tidak di zona nyaman. Ia tetep berjuang, mandiri dan berdaulat.

Ini bukan soal cerita keprihatinan beliau. Ini soal nilai ajaran dasar dari beliau sebelum dilantik jadi Nabi dan Rasul pamungkas.

Muhammad tidak berjalan diketiak nama kebesaran Bani Quraisy. Muhammad ya Muhammad dengan begitu adanya. Ia berdaulat atas dirinya.

Muhammad pendobrak kemalasan, terbukti ia pekerja keras, ulet, disiplin, tanggung jawab dan pikirannya yang terus berjalan sehingga kecerdasan muncul digunakan untuk membersamai apa yang ia kerjakan dan membaca keadaan yang ia saksikan. Pikirannya terbagi adil, memikirkan solusi atas persoalan hidup orang banyak yang ia saksikan. Salah satu hadis yang mengutamakan sikap mandiri adalah hadis sebagai berikut :

عَنْ أَبِي عُبَيْدٍ، مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ»

Artinya:  “dari Abu Ubaid, hamba Abdurrahman bin Auf. Ia mendengar Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh, pikulan seikat kayu bakar di atas punggung salah seorang kamu (lantas dijual) lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, entah itu diberi atau tidak diberi.” HR Bukhari

Ia patriotik yang kharismatik, terbukti di usia beliau yang masih muda, mampu memimpin musyawarah dua suku besar dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan yang kalau blunder akan terjadi perang besar.

Ia ksatria sejati yang tetap berendahhati, pikirannya terfokus pada orang orang lemah yang dilemahkan (mustad’afin), nasib manusia kelak dan merangkul musuh yang kalah, mengubah ketakutan menjadi kebahagiaan.

Kredibilitas Muhammad tidak diragukan lagi oleh seluruh penduduk arab pada waktu itu. Sehingga ia digelari Al Amin, dipercaya oleh para sesepuh antar suku untuk menjadi penengah dalam perselisihan soal meletakkan batu hajar Aswad di Mekkah.

Tentu sangat banyak nilai keteladanan beliau yang tak pernah surut untuk dituliskan. sikap beliau demikian bukan untuk cari aman tetapi sudah menjadi suatu keharusan. Ya, seharusnya sebagai hamba Allah. Iya seorang Hamba yang bergelar Nabi. Dengan samudera keteladanan Baginda Rasul yang tak bisa dituliskan sepanjang zaman, walau hanya setetes dua tetes dari keluasan samudera keteladan beliau, saya mohon kuasa Allah memberi kemampuan untuk menadahnya sebagai daya juang menjadi hamba yang sungguh sungguh menghamba kepadaNya (‘abdan ‘abdiyya). Dari banyaknya lanskap sifat keteladan beliau, disederhanakan menjadi 4 pilar yang saling terikat satu sama lain. Yakni, shiddiq ; Sungguh sungguh menjalankan nilai kebenaran – amanah ; Dapat dipercaya, memberi rasa aman dan nyaman – tabligh ; segala tindakannya terkandung hikmah dan pelajaran baik – mauidhah hasanah yang tersampaikan pada jiwa manusia sehingga membangunkan nurani, – fathonah ; kecerdasan lengkap antara spiritual, intelektual dan emosional.

Kalau anda seorang pedagang pecel misalnya, pertama anda harus shiddiq ; sungguh sungguh memberikan pelayanan terbaik kepada bahan masakan, tempat masak, wadahnya, etalasenya sampai pada manusianya sehingga muncul amanah dalam diri anda, tercipta rasa aman, nyaman dan kepercayaan untuk dan dari banyak orang, maka citarasa dagangan anda, tanpa anda viral viralkan akan otomatis tersebar oleh pelanggan anda yang setia karena pelayanan dan cita rasa produk yang anda suguhkan setiap hari selalu baik. Pada gilirannya, ide kreatif dan inovasi anda akan semakin berkembang, ini disebut fathonah. Formulasi shiddiq, amanah, tabligh dan fathonah ini harmoni Iman, ilmu dan akhlak yang titik central outputnya adalah akhlak.

“Innama buistu liutammima makarimal akhlak” (“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”)

Surat Al-Anbiya Ayat 107

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Lantas yang kita pahami dan selenggarakan dalam kehidupan sehari hari dari yang namanya kemerdekaan itu apakah ilmu tentang batasan diri, sehingga yang khusuk kita lakukan adalah mewaspadai kekhilafan tingkah laku kita ataukah sikap kebebasan sehingga semau maunya kita mengekspresikan keinginan kita tanpa pertimbangan akhlak dan martabat?

 Terus terlahir kembali

Beberapa hari yang lalu, Indonesia dihadapkan dengan suatu kondisi yang menegangkan. Terjadi aksi demonstrasi yang tersebar di beberapa titik kota kota besar. Bahkan ada beberapa korban meninggal dalam aksi demonstrasi itu, diantaranya alm. Affan Kurniawan yang bekerja sebagai ojek online, meninggal karena terlindas kendaraan brimob di area demonstrasi. Meninggalnya Affan menggugah hati tidak hanya sesama pekerja ojek online melainkan hampir keseluruhan warga di Indonesia. Kabar cepat menyebar ke seluruh gadget warga, terutama cuplikan video pendek yang menarik perhatian serius dari kejadian tragis itu.

Ini bukan soal meninggalnya Affan ataupun yang lainnya, tapi ini soal sikap kepedulian selaku manusia yang berpegang pada prinsip pengendalian diri.

Jika kita telisik ke kedalaman makna dari sebuah peristiwa, jelas bahwa kematian bukan sebuah tragedi, melainkan mengisyaratkan adanya pelajar penting bagi kita yang masih hidup sekaligus juga mengenai ikhtiar yang hubungannya dengan sesama manusia.

Pertama, kita diperingatkan kembali dengan sikap empati. Disaat panggung megah modernisasi bertajuk digitalisasi meninabobokan kita sehingga kita sulit bertegur sapa layaknya manusia. Padahal sudah seharusnya manusia harus saling menjaga sikap kepedulian antar sesama manusia dan saling mengendalikan diri kita supaya kita tidak terjebak dari amarah yang bisa lebih tragis dampaknya dari kematian itu sendiri. Sikap empati yang dibersamai dengan sikap pengendalian diri adalah teladan Nabi. Bukankah sudah dicontohkan Baginda Rasulullah, beliau setiap kali hendak pergi ke mesjid selalu dilempari kotoran unta oleh tetangganya yang non muslim, tetapi ketika si pelempar kotoran itu jatuh sakit, Baginda mulia menjenguknya dan menyemangati serta menghiburnya. Tidak ada rasa dendam sedikitpun di diri beliau. Beliau bersikap hilim (menahan diri dari amarah) dan pemaaf. Dilain hal beliau sangat marah ketika ada orang lain menginjak nginjak harkat martabat orang lain diantara sesama muslim dan ketika sistem perbudakan terjadi antar manusia. Namun kemarahan beliau masih dalam koridor pengendalian diri, tidak sampai berlebihan. Kedua seorang Affan saja yang dalam kacamata umum sebagai orang biasa, ribuan orang mengantarkan jenazahnya ke pemakamannya dan sebagian lagi berunjuk rasa di berbagai daerah menyuarakan keadilan untuk Almarhum. Disini kita bisa mencoba mengambil suatu nilai yang bisa ditemukan dari sosok alm. Affan. Beliau semasa hidupnya adalah pejuang hidup bagi ibu dan neneknya. Ia lebih mengutamakan Ibunya ketimbang dirinya sendiri.

Bukankah itu yang diperintah Baginda Rasulullah untuk berbuat baik keapda orangtua, terutama kepada ibu, sampai diulang tiga kali. Sangat prinsip perintah beliau kepada anak anak untuk berbakti, berbuat baik dan menaruh hormat kepada kedua orangtuanya, terutama ibu.

Baginda yang Mulia sudah wafat 14 abad yang lalu. Demikianlah itu sebagai bukti beliau adalah makhluk. Tetapi makhluk yang paling mulia di sisiNya.

ia mutiara yang kilau cahayanya laksana bulan purnama sepanjang zaman. Ruhani Baginda terus hidup dari masa ke masa, bersemanyam di hati para pecinta, merasuk kedalam jiwa perindu. Nilai ajaran keteladannya akan terus mengalir dan terus terlahir kembali disegala ruang dan waktu kehidupan.

Perayaan Maulid Nabi Digelar dimana mana dengan riang gembira. Ini bentuk ekpresi cinta kerinduan yang manusiawi. Namun yang menggelitik didalam hati gelisah saya ini, apakah beliau hadir di Maulidan yang kita selenggarakan? Apakah beliau tersenyum ketika kita mendendangkan shalawatan? Dan apakah beliau bahagia ketika kita gemar berbuat kebaikan?

Ini bukan pertanyaan keraguan, toh antara yakin dan ragu, ikhlas dan pamrih ibarat timbangan yang di ayunkan kedua tangan kita masing masing yang terletak di akal pikiran dan kedalaman hati. Pertanyaan demikian itu apakah cukup dijawab dengan ungkapan Iman ataukah lelaku beriman? Mohon maaf, saya hanya menggugat diri sendiri.

Sudahlah, itu menjadi wasiat diri yang tak pernah bisa selesai hanya dengan sebuah ungkapan dan tulisan. Ini adalah perjuangan panjang. Semoga kekasih snantiasa mengelus ngelus dada kami, mengusap kepala kami atau bahkan menampar mulut saya sendiri.

Didalam ketidakmenentuan hidup kita saat ini dan yang akan datang, dengan segala kehinaan dihadapNya, dengan rindu yang sedu, dengan shalawat yang terus mengalir disetiap keadaan. Semoga Allah memperkuat keimanan dan Syafaat sang kekasih dihadirkan. Aamiin Yaa Arhamarraahimiin. []

Tasikmalaya, 06/09/25


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *