Made in China karya AB Asmarandana, aktor Lingkar Vintan Andien – Kiki Ikhsan Fauzi. dok. foto Syifa Siti Sofia.
Karya AB Asmarandana, Made in China, menarik perhatian kurator dari panggung kota besar saat tampil di sebuah festival seni di Kutai Kartanegara. Di tengah hiruk-pikuk Lanjong Art Festival, drama absurd berdurasi singkat itu mencuat sebagai potret domestik yang jauh lebih luas dari ruang yang ditampilkannya. Di balik percakapan seorang Ibu dan Anak—yang saling bertukar peran, saling menuntut, saling menertawakan—mengalir sebuah gugatan tentang siapa sebenarnya yang mengendalikan hidup manusia modern.
Pada permukaan, lakon ini dimulai dengan obrolan sederhana tentang mainan; terlihat remeh, hampir kekanak-kanakan. Namun, sebagaimana gaya AB Asmarandana—yang kerap menembus lapisan-lapisan absurditas menuju inti persoalan—percakapan itu kemudian tumbuh liar menjadi kritik tentang pendidikan, agama, globalisasi, sejarah, hingga identitas kebangsaan. Semua itu dilontarkan dengan kegetiran yang dibungkus komedi hitam, humor renyah khas Abuy (sapaan akrab sutradara), dan senyum kecil yang menyelip dari antara baris-baris satire.
Pertanyaan besar pun menggantung sepanjang lakon: apa sebenarnya yang kita miliki ketika segala hal dalam hidup telah diproduksi secara massal, dikemas secara global, dan disusupi ambisi intelektual yang seolah tak pernah selesai?
Di balik kelakar, Made in China menyoal manusia yang terombang-ambing dalam gelombang konsumerisme dan kecerdasan buatan, tetapi tetap merasa kosong di ruang domestik yang kecil dan akrab.
Menuju Panggung BUDAmFEST 2025
Pertunjukan Made in China produksi Ngaos Art akan kembali tampil dalam Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025 yang digelar Lab Teater Ciputat dan Manajemen Talenta Nasional pada 11 Desember 2025 di Jakarta. Panggung festival itu akan menjadi ruang bagi publik yang lebih luas untuk menyaksikan bagaimana lakon kecil ini mengaduk berbagai lapisan pikiran dan perasaan.
Sebelum berangkat ke ibu kota, Made in China dipentaskan lebih dulu di Studio Ngaos Art pada Minggu, 7 Desember 2025 pukul 19.30 WIB. Pewarta sempat menghadiri gladi bersih sehari sebelumnya, Sabtu, 6 Desember, dan menemukan bahwa lakon yang sama ternyata disajikan dalam dua versi yang berbeda oleh empat aktor, seolah sutradara ingin memperlihatkan dua jalan penafsiran yang mungkin ditempuh dari satu naskah yang sama.
Dua Pementasan, Satu Naskah, Dua Dunia yang Tak Sama
1. Versi Lingkar Vintan Andien – Kiki Ikhsan Fauzi
Dengan bantuan video mapping sebagai elemen visual, versi pertama tampil sebagai komposisi estetika yang menembus batas ruang domestik. Ilusi-ilusi visual muncul sebagai lanjutan dari dialog Ibu dan Anak—setiap gerak tubuh dan setiap kalimat memperoleh gema visual yang relevan dengan isu yang dibicarakan.
Tafsir ini membuat kritik konsumerisme dalam naskah tampil lebih gamblang. Penonton seperti diajak melihat poster-poster raksasa tentang dunia yang penuh barang, penuh iklan, penuh tanda produksi. Kritiknya terasa langsung menghantam, meski di balik itu tetap tersimpan humor dan absurditas.
Tampil pula peristiwa bencana yang saat ini tengah terjadi di Indonesia. Sindiran menarik dan verbal yang dimanfaatkan untuk menambah daya kritik pertunjukan tersebut. Hasilnya adalah pementasan dengan tempo cepat, sebagai cermin bagaimana hidup manusia kini bergerak: dipacu oleh informasi dan visual yang tak pernah selesai.
2. Versi Kahfi Nurul Asror – Rika Mustika
Berbeda dari versi pertama, pementasan kedua justru melucuti seluruh perangkat visual. Tak ada video mapping, tak ada ilusi cahaya. Yang tersisa hanya tubuh dan suara. Dari keterbatasan itulah muncul kekuatan baru: keintiman.
Kahfi dan Rika membawa Made in China kembali ke ruang kecilnya—ruang domestik, ruang batin seorang Ibu dan Anak. Alih-alih menekankan kritik konsumerisme secara langsung, keduanya mengangkat lapisan emosional yang samar namun pekat. Ada kemarahan yang tidak diucapkan, ada kasih sayang yang tidak tuntas, ada luka yang muncul melalui jeda, napas, dan getaran kecil di tubuh para aktornya.
Versi ini tidak memberikan jawaban gamblang, tetapi memantik tanya-tanya yang lebih personal:
dari mana datangnya rasa kehilangan? dari dunia luar, atau justru dari rumah sendiri?
Antara Dua Tafsir: Sebuah Ruang Eksperimen
Kedua pementasan itu, meski berpijak pada naskah yang sama, memberikan dua wajah Made in China. Yang satu memproyeksikan kegaduhan dunia luar, sementara yang lain menyingkap kegaduhan yang tersembunyi di balik hubungan keluarga. Dari sinilah kekayaan karya AB Asmarandana terlihat—naskahnya tidak mengunci aktor, melainkan mendorong mereka menggali lebih dalam lapisan absurd dan satir yang terkandung di dalamnya.
Hal itu juga memperlihatkan betapa imajinatifnya kerja penyutradaraan Abuy. Ia memberi ruang luas bagi aktor untuk mengekspresikan tubuh, suara, dan intuisi mereka. Dan keempat aktor tersebut menjawab tantangan itu dengan karakter yang kontras tetapi saling melengkapi.
Bersembunyi di Balik Naifisme
Mengapa sejumlah lakon menghadirkan tokoh anak untuk menyampaikan kritik sosial, seperti halnya Made in China? Dibalik naifisme, keluguan, dan kecerewetan yang dianggap tidak berbahaya oleh otoritas, anak merupakan innocent truth teller, yang dapat mengatakan sesuatu yang orang dewasa tidak dapat katakan karena ada represi, keluguan mereka menjadi perisai. Augusto Boal mengungkapkan kontradiksi social lebih telanjang karena tidak terikan kepentingan kekuasan pada tokoh yang polos (Theatre of the Oppressed, 1974). Sementara Peter Brook mengungkapkan tokoh anak dalam panggung dapat membangkitkan empati karena bisa menyampaikan kebenaran tanpa ornament (The Empty Space, 1968).
Kecerewetan anak pun dapat menjadi satire social karena terdengar lebih menusuk tapi tetap ringan, hal ini disebut dengan gaya carnivalesque oleh Mikhail Bakhtin dalam Rabelais and His World, 1965, karena dapat membalikan hierarki social dengan suara rendah (termasuk anak-anak).
The Caucasian Chalk Circle karya Bertolt Brecht menghadirkan tokoh bayi Bernama Michael (meski tidak seluruhnya bicara tentang anak-anak) menempatkannya sebagai pusat konflik mora, yang mengungkapkan kegalalan struktur kekuasaan. Dalam Brecht on Theatre, ditulis bahwa anak sering menjadi cermin untuk menilai kemanusiaan yang paling otentik. Dalam banyak lakon di Indonesia pun tokoh anak seringkali dihadirkan untuk menyuarakan kritik dengan polos. Seperti anak-anak Oni dan Sandek dalam beberapa naskah karya Arifin C. Noor. Jamila dan Sang Presiden karya Ratna Sarumpaet, meski hanya kilasan memperlihatkan sosok Jamila kecil, tapi dalam Jurnal Seni Perunjukan Indonesia, 2013, Ratna mengatakan bahwa kehadiran sosok anak pada lakon tersebut merupakan perwujudan luka social sejak akar.
Tokoh naif dalam lakon teater seperti halnya Made in China, bahkan dikatakan jika anak tersebut mengidap ADHD, (sementara yang pewarta tahu, anak dengan Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder sulit konsentrasi, hiperaktif, impulsive) seringkali menjadi kaca pembesar yang aman dan efektif, sehingga penonton merasa tidak digurui. Dalam seni peran, hal ini sering disebut strategi defamiliarisasi. Tak hanya pada anak, dalam tokoh-tokoh Samuel Beckett orang yang tampak bodoh dan culun, justru ucapannya paling tajam.
Dalam dunia nyata, orang sering kali tak punya ruang untuk bicara panjang lebar, terlebih lagi untuk mengkritisi sebuah system. Namun teater bisa saja menembus batas dengan menyelipkan kritik dan memecah tabu. Kecerewetan bisa menjadi senjata dramaturgi. Hanya saja Made in China terasa sekali ingin menyampaikan banyak hal. Bahkan pada pementasan dengan aktor Lingkar dan Kiki hadir penebalan dengan visual yang tak terlalu memberi dampak pada beberapa adegan.
Kritik memang bisa muncul dari siapa saja. Bahkan “orang biasa” yang dianggap tidak punya kapasitas intelektual untuk memahami dunia. Kecerewetan Ibu dan Anak dalam Made in China menjadi symbol bahawa semua orang berhak mempertanyakan hal yang menekan hidup mereka. Dan barangkali kecerdasan super Ibu dan Anak itu merupakan parodi dunia modern manusia zaman now:
- betapa masyarakat modern hidup dalam banjir informasi,
- betapa kita sok tahu padahal hanya membaca potongan berita,
- betapa konsumerisme menciptakan kecerdasan semu.
Ibu itu bukan benar-benar jenius. Ia symbol manusia yang berusaha merasa pintar. Padahal pikirannya juga kacau karena terseret arus globalisasi dan kecemasan.
Naif yang cerewet juga menjadi peran-peran yang sudah lama hadir dalam seni tradisi kita. Seperti Punakawan atau lakon-lakon dalam ketoprak, bahkan Si Kabayan. Lakon mereka terkadang absurd, logika tak harus realistis. Sehingga barangkali saja tokoh boleh tahu segalanya, boleh bodoh sekaligus cerdas, boleh ngomong seenaknya, boleh bertukar peran kapan saja. Ruang absurd memang aman untuk mengkritik system tanpa terbentur moralitas konvensional atau sensor social.
Lebih dari Sekadar Lakon Domestik
Kekuatan utama lakon ini adalah keberaniannya melempar isu besar melalui percakapan kecil anatara Ibu dan Anak. Tapi pada beberapa bagian, kritik tersebut terlalu eksplisit, seakan tokoh dipaksa menghafal daftar problem sosial. Sehingga penonton merasa arus alami percakapan domestik terputus, terlebih dengan cara bertutur aktor yang memang seperti ingin keluar dari atmosfer tersebut. Tokoh domestic menjadi terlalu ideologis. Sependek pengetahuan, dalam teater absurd, kecerdasan justru bekerja paling baik ketika muncul dari ketidaksengajaan, bukan kepuasan sadar untuk terlihat intelektual. Sehingga Made in China seperti berada di batas rawan: antara satire yang subtil dan kritik yang terlalu gamblang.
Pertukaran peran Ibu-Anak, Anak-Ibu merupakan ide dramaturgi yang kaya, dengan lapisan makna: Identitas sosial yang cair, hierarki keluarga yang kabur, kejumawaan inteltual, sekaligus kepolosan yang hilang. Hanya saja pertukaran ini lebih terasa sebagai gimik atau suspen daripada strategi dramaturgi yang benar-benar mengubah dinamika konflik. Dampak psikologisnya belum sepenuhnya digali sehingga peralihan kadang terasa seperti pergantian kostum saja bukan perubahan kesadaran. Jika eksplorasi tubuh dan vocal lebih ekstrem, barangkali peralihan ini dapat menjadi sangat mengguncang.
Terlebih lagi, komedi hitam bekerja efektif jika penonton tertawa dengan rasa bersalah atau gentar. Sayangnya beberapa momen tak jatuh di momentum yang tepat saat pewarta menyaksikan pertunjukan. Ritme perubahan ini berpotensi membuat penonton kehilangan pegangan dramaturgi. Apalagi dengan gagasan yang sama diulang dalam dua pementasan. Gambaran visual yang dominan pada pentas pertama terlalu ilustrastif sehingga menjadi Poster Like, penonton jadi kehilangan ruang ambigu karena sudah ditopang oleh gambaran yang jelas.
Pada akhirnya, Made in China bukan hanya percakapan Ibu dan Anak yang saling menggugat lewat humor gelap. Lakon ini adalah cermin kecil dari bangsa yang masih mencari dirinya di tengah banjir produk global, kecerdasan digital, dan ambisi untuk selalu “menjadi pintar.”
Dari mainan yang remeh, isu bergulir menuju pertanyaan filosofi yang lebih dalam:
apa sebenarnya yang ingin kita miliki? pengetahuan? legitimasi? atau sekadar pengakuan?
Di tangan AB Asmarandana, pertanyaan itu mengalir melalui tawa, absurditas, dan renyahnya dialog yang membawa penonton ke wilayah refleksi tanpa mereka sadari.
Menjelang pementasan di BUDAmFEST 2025, Made in China menegaskan dirinya sebagai salah satu karya teater yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memanggil kembali kesadaran kita akan dunia yang kita tempati—serta rumah kecil tempat segala kegaduhan bermula.*** Rika Rostika Johara









