sumber foto ig aka.hadi. dok. Hadi AKS
Dunia sastra Sunda kembali berduka. Ahmad Hadi, sastrawan yang dikenal luas dengan nama Hadi AKS atau akrab disapa Aka Hadi, meninggal dunia pada Rabu, 24 Desember 2025 dini hari, sekitar pukul 01.51 WIB. Kabar wafatnya menyebar cepat di kalangan sastrawan, seniman, serta komunitas budaya di Jawa Barat dan sekitarnya.
Kepergian Aka Hadi menjadi kehilangan besar, bukan hanya karena karya-karyanya yang berpengaruh, tetapi juga karena perannya sebagai guru, mentor, dan penggerak komunitas sastra Sunda yang konsisten menumbuhkan generasi baru penulis dan seniman.
Kronologi: Dari Kritis hingga Menghembuskan Napas Terakhir
Pada Selasa malam, 23 Desember 2025, sekitar pukul 21.00 WIB, kabar pertama datang bahwa Aka Hadi dilarikan ke RSUD Lembang. Kondisinya disebut sangat serius akibat komplikasi penyakit jantung, diabetes, serta gangguan lambung. Informasi tersebut segera memicu kekhawatiran, sebab almarhum dikenal masih aktif berdiskusi dan berkegiatan sastra beberapa waktu sebelumnya.
Menjelang tengah malam, keluarga memberikan pembaruan kondisi. Pukul 23.30 WIB, Rangga Rahardian, putra sulung almarhum, mengabarkan bahwa ayahnya masih berada dalam keadaan kritis, namun terdapat sedikit perkembangan positif dibandingkan saat awal masuk rumah sakit. Kabar ini sempat menumbuhkan harapan di antara para sahabat dan muridnya.
Namun, takdir berkata lain. Saat dini hari menjelang, tepat pukul 01.51 WIB, sebuah pesan suara dari Rangga menyampaikan kabar duka bahwa Aka Hadi telah berpulang. Ungkapan duka dan doa pun mengalir deras di berbagai grup percakapan sastra. Nama Aka Hadi disebut-sebut sebagai sosok yang wafat di tengah pengabdian panjangnya pada dunia kata dan panggung.
Ungkapan Kehilangan dari Rekan dan Murid
Kepergian Hadi AKS meninggalkan kesan mendalam bagi banyak pihak. Nazarudin Azhar, sastrawan sekaligus jurnalis Kabar Priangan, menyebut almarhum sebagai salah satu penulis Sunda penting yang konsisten melahirkan karya bermutu dan meraih berbagai penghargaan sastra.
Menurut Nazarudin, karya-karya carpon Hadi AKS tidak hanya dibaca, tetapi juga hidup di atas panggung. Beberapa di antaranya diadaptasi menjadi monolog oleh Wawan Sofwan dan pernah dipentaskan hingga ke luar negeri, termasuk Australia. Ia juga mengingat peran Aka Hadi sebagai penggagas pasanggiri, lomba sastra, serta pembina Saung Sastra Lembang, komunitas yang berhasil menerbitkan buku kumpulan carpon hasil pelatihan warga.
“Kang Hadi itu sudah saya anggap seperti kakak sendiri dalam dunia sastra. Terbuka, mau mendengar, dan sangat rendah hati,” kenang Nazarudin. Ia mengaku sangat terkejut karena sebelumnya tidak mengetahui bahwa almarhum tengah sakit, sebab komunikasi terakhir masih diwarnai canda ringan.
Hal senada disampaikan Wini Fitriani dari Yayasan Rumah Naskah Nusantara Ciamis. Ia mengenal Kang Hadi sejak 2008, ketika masih berstatus mahasiswa Sastra Sunda di Universitas Padjadjaran. Baginya, Hadi AKS adalah figur guru sejati yang membentuk dasar kepenulisannya.
“Beliau bukan hanya tokoh, tapi guru pertama saya dalam menulis esai, sajak, dan carpon Sunda. Cara mengajarnya santai, penuh humor, dan sangat membumi,” tutur Wini. Ia menyebut buku Kala Pati sebagai karya Hadi AKS yang paling membekas baginya. Mendengar kabar wafat yang begitu mendadak, Wini mengaku dunia sastra Sunda kehilangan salah satu pilar pentingnya.
Siapa Sosok Hadi AKS?
Ahmad Hadi, atau Hadi AKS, lahir di Pandeglang, Banten, pada tanggal 16 Mei 1965 dari keluarga keturunan asli Banten. Dalam keseharian, ia tinggal bersama keluarganya di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Selain dikenal sebagai sastrawan, ia juga berprofesi sebagai guru Bahasa Sunda dengan metode mengajar yang tidak lazim dan inspiratif.
Ia mengidolakan karakter John Keating dalam film Dead Poets Society (1989), sosok guru yang mendorong kebebasan berpikir dan keberanian berekspresi. Dalam bercanda, Aka Hadi kerap mempersonifikasikan dirinya sebagai Zvonimir Boban, legenda AC Milan asal Kroasia, karena gaya rambut, kumis, dan janggut pirangnya.
Dalam dunia sastra Sunda, Hadi AKS dikenal sangat teliti dan perfeksionis, terutama dalam urusan diksi dan metafora. Karya terkenalnya, carpon “Oknum”, terbit di majalah Mangle dan kemudian dibukukan pada 1999. Puncak apresiasi datang ketika ia meraih Hadiah Sastra Rancage 2023 melalui buku Surat ti Palmeira.
Almarhum meninggalkan istri tercinta, Ai Koraliawati, seorang guru dan penulis, serta tiga putra: Angga, Agi, dan Gia. Kepergiannya menandai akhir perjalanan seorang penjaga kata, yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk sastra, pendidikan, dan kemanusiaan.***









