TUBUH SEBAGAI WACANA: Praktik Artistik Lena Guslina dalam Seni Kontemporer Indonesia

legus 6

foto tangkapan layar dari ig https://www.instagram.com/lenaguslina.id/

Seni Tari: Tubuh yang Berpikir

‎Dalam peta seni kontemporer Indonesia, karya-karya Lena Guslina menempati wilayah yang tidak ramai, namun penting sekali.

‎Ia tidak menempatkan tubuh sebagai alat untuk menampilkan sekedar keindahan melainkan sebagai pengalaman, dan kesadaran sosial bekerja.

‎Gerak, bukan juga sebagai hasil akhir dari gagasan, tetapi jalan menuju pemahaman. Pendekatan ini menjauh dari tradisi pertunjukan yang menempatkan tari sebagai tontonan.

‎Lena menempatkan tubuh sebagai medium pengetahuan. Tubuh memahami dunia melalui gesekan langsung dengan ruang, waktu, dan situasi.

‎Dalam konteks ini, tari Lena berfungsi sebagai proses berpikir yang berlangsung secara kinestetik alias menuntun penonton merasakan pengalaman.

legus 1
foto tangkapan layar dari ig https://www.instagram.com/lenaguslina.id/

Tubuh dalam karya Lena tidak hadir untuk mewakili sesuatu. Ia tidak berperan sebagai simbol alam, krisis, atau identitas tertentu. Artinya tubuh Lena hadir sebagai subjek yang mengalami.

‎Ketegangan otot, gerak yang terputus, pengulangan yang melelahkan, serta jeda yang panjang menjadi penanda pengalaman eksistensial. Semua itu bekerja sebagai bahasa yang menarasikan sesuatu yg lugas, berkarakter dan bermakna.

‎Lena memberikan pilihan untuk tidak menampilkan tubuh yang sempurna, merupakan sikap artistik yang konsisten. Tubuh dalam karya Lena sering kali rapuh, tertahan, bahkan canggung.

‎Pendekatan ini menolak logika pertunjukan yang memosisikan tubuh sebagai objek konsumsi estetis. Tapi tubuh dihadirkan sebagai medan refleksi, tempat penonton diajak membaca secara alamiah.

‎Akar tradisi tari Nusantara, khususnya Sunda, di hadirkan secara halus dalam struktur rasa dan etos gerak. Tradisi tidak ditampilkan sebagai bentuk baku, melainkan sebagai memori tubuh yang terus bergerak. Dengan cara ini, Lena menghindari folklorisasi dan menjadikan tradisi sebagai sumber yang hidup.

‎Pilihan ruang pertunjukan juga menjadi bagian penting dari narasi artistik Lena Guslina. Lena kerap bekerja di ruang terbuka dan ruang publik, mempertemukan tubuh dengan lanskap yang telah mengalami perubahan dan tekanan ekologis.

‎Ruang diperlakukan sebagai mitra dialog. Tubuh bergerak terus dalam kondisi yang tidak steril, menghadapi cuaca, tanah, dan situasi sosial yang berjalan. Bahkan pernah tampil di Medan air yang kotor dan berlumpur.

legus 2
foto tangkapan layar dari ig https://www.instagram.com/lenaguslina.id/


‎Isu lingkungan dalam karya Lena tidak disampaikan secara verbal atau didaktis. Tidak ada ajakan atau pesan moral yang eksplisit. Yang hadir adalah pengalaman tubuh yang mengundang empati.

‎Penonton tidak diarahkan untuk memahami, melainkan untuk merasakan. Di sanalah kekuatan reflektif karya-karyanya bekerja.

‎Lena Guslina telah sering tampil di berbagai panggung seni, baik nasional maupun internasional, menghadirkan pertunjukan tari yang memikat serta pameran lukisan yang mendapat perhatian luas.

‎Keberadaannya di festival, galeri, dan ruang publik memperkuat reputasi sebagai seniman kontemporer yang konsisten dan inovatif, sekaligus menjadikan karya-karyanya lebih mudah diakses dan diapresiasi oleh beragam audiens.


‎Seni Lukis: Jejak Tubuh yang Menetap

‎Dalam beberapa tahun terakhir, praktik artistik Lena Guslina meluas ke wilayah seni lukis.

‎Perluasan ini tidak dapat dibaca sebagai peralihan disiplin, melainkan sebagai kelanjutan dari cara berpikir yang sama. Medium berubah, tetapi pusat pengalamannya tetap: tubuh.

legus 8
foto tangkapan layar dari fb https://web.facebook.com/UOB.id

Pengakuan terhadap praktik seni lukis ini diperkuat ketika Lena meraih Silver Award kategori Emerging Artist pada ajang UOB Painting of the Year Indonesia 2024 (red: dengan judul lukisan Titian Sunyata).

‎Penghargaan tersebut menandai penerimaan karya-karyanya dalam medan seni rupa kontemporer yang memiliki standar kuratorial dan diskursus yang ketat.

‎Lukisan-lukisan Lena bergerak dalam wilayah non-figuratif dan gestural.

‎Kanvas diperlakukan sebagai ruang kerja, bukan sebagai bidang representasi. Lapisan warna, goresan yang tidak sepenuhnya terkendali, serta tekstur yang tebal menunjukkan keterlibatan tubuh secara langsung.

‎Maka melukis bagi Lena, dalam praktik ini, bukan kerja tangan semata, melainkan kerja tubuh secara utuh.

‎Tubuh tidak hadir sebagai citra visual. Ia hadir sebagai energi yang meninggalkan jejak. Lukisan-lukisan tersebut menyimpan residu gerak, tekanan, dan ritme. Ada kedekatan yang jelas antara pengalaman kinestetik seorang penari dan bahasa visual yang dihasilkan, tanpa harus menjadikan tari sebagai rujukan eksplisit.

‎Berbeda dari tari yang berlangsung dalam waktu dan lenyap setelah pertunjukan usai, lukisan bekerja dalam logika kehadiran yang menetap.

‎Kanvas menjadi semacam arsip afektif, tempat pengalaman tubuh disimpan dan dihadapkan kembali kepada penonton. Namun yang tersimpan bukan narasi, melainkan intensitas.

‎Seni lukis Lena tidak diarahkan untuk menjadi dekoratif atau mudah dibaca. Komposisi sering dibiarkan terbuka, bahkan menyisakan ketegangan visual. Penonton dihadapkan pada permukaan yang tidak menawarkan cerita yang selesai. Lukisan mengundang pembacaan, bukan konsumsi cepat.

‎Dalam konteks seni rupa Indonesia, praktik ini menempatkan Lena dalam tradisi seni gestural kontemporer dengan diferensiasi yang jelas.

‎Pengalaman tubuh yang panjang di dunia tari memberi kedalaman yang jarang ditemukan. Lukisan-lukisannya tidak berusaha menjelaskan, tetapi menghadirkan.

‎Penutup

‎Baik dalam tari maupun seni lukis, Lena Guslina menunjukkan konsistensi yang kuat. Medium boleh berganti, tetapi cara berpikir tetap sama.

legus 10
foto karya Mohammad Rohanudin

Tubuh menjadi pusat produksi makna, bukan objek yang dipertontonkan. Seni, dalam praktik ini, bekerja sebagai ruang refleksi yang tenang namun berlapis.

‎Di tengah kecenderungan seni yang semakin berorientasi pada kecepatan dan citra, karya-karya Lena menawarkan pengalaman yang berbeda.

‎Tubuh bergerak, tubuh meninggalkan jejak, dan tubuh berpikir. Di sanalah nilai artistiknya bertumpu, tidak gegap gempita, tetapi bertahan.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *