‎Pulang Tanpa Mudik

Radio

Di masa ketika radio belum kalah oleh algoritma, sebelum podcast dan playlist tahu selera kita lebih baik dari ibu sendiri, radio adalah rumah suara. Salah satu keajaiban radio masa silam adalah keberaniannya menyiarkan bahasa daerah, tanpa kompromi, dan tanpa rasa minder.

Ambil contoh siaran berbahasa Madura di Surabaya. Bagi sebagian orang Jawa, itu terdengar lucu, keras, dan penuh “julukan” yang kerap jadi bahan guyonan warung kopi. Intonasinya meledak-ledak, kosakatanya asing, kadang membuat pendengar refleks tersenyum, atau pura-pura paham. Tapi bagi orang Madura yang merantau dan hidup di Surabaya, suara itu bukan lelucon. Ia adalah pulang tanpa mudik.

‎Ketika penyiar membuka siaran dengan logat Madura yang kental, bagi perantau itu adalah suara ibu yang memanggil dari dapur, suara tetangga di sore hari, suara kampung yang tak pernah benar-benar bisa dibawa ke kota.

‎Bahasa ibu, ketika terdengar di udara kota besar, berubah menjadi penguat emosi, menahan seseorang agar tidak sepenuhnya tercerabut dari asalnya. Radio, dengan segala keterbatasannya, justru memahami satu hal penting yang sering dilupakan media hari ini, identitas tidak harus diseragamkan agar laku.

‎Lokal bukan lawan dari modern. Justru di situlah radio menemukan kekuatannya, menjadi ruang aman bagi ingatan, sekaligus panggung kecil tempat bahasa daerah bertahan hidup, meski hanya lewat gelombang suara. Dan mungkin itulah sebabnya radio dulu terasa lebih manusiawi. Ia bisa membuat orang tertawa karena merasa asing, dan di saat yang sama membuat orang lain diam lama karena merasa pulang.


‎Tawa, Logat, dan Teater di Kepala Pendengar ‎

Keadaan menjadi jauh lebih seru ketika radio seperti Cakrawala Surabaya tidak hanya setia pada satu bahasa, tetapi liar dengan bangga. ‎ ‎Madura bercampur Jawa, campursari bersanding dengan lawakan, ludruk hadir tanpa panggung, tanpa kostum, cukup suara. Di titik inilah radio bekerja sebagai theater of mind, panggung imajiner yang justru makin hidup karena tak terlihat. ‎ ‎

Bayangkan ludruk berbahasa Madura versi tapal kuda, Jember, Bondowoso, Situbondo, dipancarkan ke udara Surabaya. Lalu didengar oleh perantau asal Sumenep atau Pamekasan yang sedang makan malam di rumah kontrakan sempit. ‎ ‎Yang terdengar bukan hanya cerita ludruknya, tapi juga perang logat. Ada kata yang terasa “kepanjangan”, ada intonasi yang dianggap “kurang nendang”, ada guyonan yang menurut mereka “bukan Madura banget”. ‎ ‎

Di situlah tawa meledak, sebagian tawa pengakuan, oh, Madura ternyata tidak tunggal. Bahkan sesama orang Madura bisa saling menertawakan perbedaan lidahnya sendiri. Dan semakin lengkap situasinya ketika radio itu didengarkan ramai-ramai, satu keluarga penuh orang Madura, dari yang sepuh sampai yang masih sekolah. ‎

‎Komentar bersahutan, koreksi logat beterbangan, dan radio kalah keras oleh suara pendengarnya sendiri. Riuh, deru, penuh kehidupan. ‎ ‎Radio Madura terasa hadir di telinga mereka. Sebagai tamu lama yang paham betul isi rumah, selera humornya, luka rantaannya, dan kerinduan yang jarang diucapkan. ‎ ‎Ia mengisi ruang kosong yang tidak bisa diisi televisi atau media sosial, ruang kebersamaan yang organik, spontan, dan apa adanya. ‎ ‎

Di sinilah keunikan radio benar-benar bekerja. Ia tidak menuntut visual sempurna. Ia tidak perlu rating analytics. Cukup suara, bahasa, dan keberanian untuk menjadi lokal secara jujur. ‎ ‎Radio mengizinkan pendengarnya membangun panggung sendiri di kepala mereka, dengan logat yang mungkin “salah”, dengan bahasa yang campur aduk, dengan tawa yang pecah tanpa aba-aba. ‎ ‎Radio masa silam mengajarkan satu hal penting, keberagaman tidak selalu harus dipoles. Kadang ia cukup disiarkan apa adanya. Dan justru di sanalah ia terasa paling hidup. ‎

Ketika Lokal Dianggap Risiko

‎Masalahnya, radio hari ini tidak lagi sepenuhnya percaya pada kekuatan seperti itu. Banyak stasiun radio, terutama di kota besar, perlahan meninggalkan keberanian menjadi lokal. Bahasa daerah dianggap berisiko, terlalu sempit, tidak ramah pengiklan, dan sulit diukur dengan angka rating.

‎Yang tersisa adalah bahasa “netral”, logat “aman”, dan program yang seragam dari satu kota ke kota lain. Surabaya, Semarang, bahkan Makassar, terdengar nyaris sebangun. Studi kasusnya bisa dilihat dari perubahan format radio-radio lama yang dulunya kuat dengan konten lokal. Program berbahasa daerah dipindahkan ke jam-jam sepi, dipersingkat, atau dihapus sama sekali.

‎Ludruk, ketoprak, lawakan daerah, yang dulu menjadi magnet kebersamaan keluarga, dianggap tidak kompatibel dengan gaya hidup urban yang serba cepat. Padahal yang berubah bukan pendengarnya, melainkan cara radio memandang pendengarnya, dari manusia beridentitas, menjadi sekadar angka demografi.

‎Radio modern terlalu sibuk mengejar “usia produktif”, “kelas menengah”, dan “marketable audience”, sampai lupa bahwa pendengar juga membawa sejarah, bahasa ibu, dan rasa rindu.
‎Akibatnya, radio kehilangan fungsi kulturalnya. Ia masih hidup secara teknis, tetapi kehilangan nyawanya sebagai ruang sosial.

‎Ironisnya, di saat radio melepas lokalitasnya, media lain justru menemukan kembali kekuatannya. Konten berbahasa daerah meledak di platform digital, dari video pendek, podcast independen, hingga lawakan berbasis logat.

‎Ini membuktikan bahwa yang dianggap “tidak laku” sebenarnya hanya tidak diberi ruang yang layak. Radio kalah bukan karena bahasa daerah ditinggalkan pendengar, tetapi karena radio lebih dulu meninggalkannya. Kasus radio seperti Cakrawala Surabaya di masa silam menunjukkan bahwa lokalitas bukan hambatan ekspansi, melainkan fondasi loyalitas.

‎Pendengar mungkin tertawa karena logat yang berbeda, tapi mereka bertahan karena merasa diakui. Radio yang berani menyiarkan Madura di Surabaya sedang berkata, kota ini milik banyak lidah, bukan satu bahasa saja.

‎Radio hari ini sering lupa bahwa kekuatannya bukan pada teknologi, melainkan kedekatan emosional. Ia tidak bisa mengalahkan visual media sosial, tetapi ia unggul dalam membangun imajinasi dan keintiman. Sayangnya, keunggulan itu justru dilepas demi mengejar keseragaman.


‎Penutup: Pulang Tanpa Radio

‎Mungkin sudah waktunya radio berhenti takut terdengar terlalu lokal. Karenanya justru di situlah radio menemukan kembali alasan mengapa ia dulu dicintai, menjadi suara yang akrab, meski logatnya tidak sempurna, menjadi hiburan yang kadang terasa kasar, tapi jujur, dan menjadi pengingat bahwa di tengah kota besar, selalu ada kampung yang ingin didengar.

‎Radio tidak mati karena teknologi. Ia melemah karena takut pada lokalitasnya sendiri. Ketika bahasa ibu disingkirkan dari udara, yang hilang bukan sekadar program, melainkan hak pendengar untuk “merasa pulang”.


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *