sumber foto @farrel.rizkyy
Semua bermula dari “Proyek Elite Dajjal” yang ingin menghancurkan kepercayaan ummat islam Indonesia kepada para ‘ulama, baik dari kalangan habaib maupun para ‘ulama dari kalangan kyai pribumi. Tujuan utama mereka adalah agar masyarakat muslim di Indonesia menjadi jauh dan tidak lagi memegang teguh nilai-nilai luhur ajaran islam yang diajarkan oleh para ulama tersebut.
“Proyek Elite Dajjal” ini sudah dimulai sejak munculnya tesis abal-abal yang ditulis Kyai Imaduddin Utsman Al-Bantani (Imad), yang berupaya membatalkan nasab para habaib klan Ba’alwi dan menyebut bahwa nasab mereka tidak tersambung sampai Rosulullah SAW. Padahal naqabah internasional sendiri sudah sejak dulu dan sudah berulang-ulang menegaskan bahwa klan Ba’alwi adalah bagian dari dzurriyyah Rasulullah SAW, dan tak ada satu pun dari mereka yang meragukannya.
Melalui tesis abal-abal yang ditulis Imad ini, para “Elite Dajjal” itu perlahan berupaya meruntuhkan kepercayaan masyarakat kepada para ‘ulama dari kalangan habaib itu. Dan “proyek” ini cukup berhasil membuat banyak dari kalangan masyarakat awam termakan oleh provokasi tesis abal-abal tersebut.
Imbasnya, masyarakat muslim di Indonesia pun terpecah, yang kemudian melahirkan perseteruan yang sangat tajam antara pecinta habaib dan pecinta kyai pribumi. Bahkan, “Proyek Dajjal” ini juga cukup berhasil membuat beberapa kyai pribumi membenarkan provokasi Imad.
Mulanya, “Proyek Dajjal” ini diharapkan dapat menarik perhatian seluruh para kyai pribumi agar satu suara dengan pernyataan Imad, terutama para kyai pribumi yang memiliki basis santri, alumni, dan pengaruh yang sangat besar di Indonesia, seperti para kyai dari Ponpes Ploso, Lirboyo, Sarang, dan pesantren besar lainnya.
Namun, hal ini tidak terjadi. Bahkan, secara tegas para kyai besar dari ponpes-ponpes tersebut justru berulang-ulang mengungkapkan pernyataan yang berlawanan dengan Imad. Hanya beberapa alumni dari ponpes tersebut saja yang menyepakatinya.
Keteguhan para kyai besar dari ponpes-ponpes itu rupanya cukup membuat para “Elite Dajjal” itu kebakaran jenggot. Mereka semakin “panas” ketika menyaksikan para kyai besar dari ponpes-ponpes besar itu justru semakin mesra dengan para habaib.
Dan “Elite Dajjal” itu juga semakin tidak tahan ketika melihat para kyai besar dan para habaib itu saling mengaji dan saling berguru antara satu dengan yang lainnya di banyak majelis, seperti pada haul Solo dan momen-momen besar lainnya.
Dan puncaknya, “Elite Dajjal” itu semakin “kejang-kejang” ketika tersebarnya surat edaran resmi pada tanggal 8 Oktober 2025 dari Pengurus Pusat Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) yang berisi instruksi agar seluruh alumni Lirboyo tidak membahas polemik nasab/atau apa pun yang memancing perdebatan nasab. Dan surat resmi ini ditandatangani pula oleh KH. M. Anwar Manshur sebagai pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, juga oleh KH. Abdulloh Kafa Bihi Mahrus, yang keduanya tidak diragukan lagi kredibilitas keilmuan, kefaqihan, ke’arifan, dan kesholihannya di kalangan para ulama tulen yang ada di Indonesia.
Pondok Pesantren Lirboyo adalah salah satu ponpes besar yang memiliki legitimasi yang sangat kuat terhadap opini masyarakat muslim di Indonesia. Sekali saja para kyai Lirboyo mengeluarkan wejangan, statemen, atau pernyataan maka secara otomatis akan banyak masyarakat muslim terutama dari Nahdliyyiin yang akan manut. Dan beruntungnya, para “Elite Dajjal” itu tidak mendapatkan pernyataan yang mendukung proyek provokasi mereka dari Lirboyo.
Hal inilah yang pada akhirnya membuat “Elite Dajjal” itu melakukan fitnah berikutnya dengan memframing Ponpes Lirboyo secara langsung dengan nada yang nyinyir dan tendesius sebagai ponpes dengan budaya feodalisme.
Tujuan “Elite Dajjal” itu bukan hanya ingin meruntuhkan legitimasi Lirboyo, melainkan ingin meruntuhkan kepercayaan masyarakat indonesia kepada para ‘ulama. Sebab, benteng terakhir yang dimiliki oleh Indonesia tiada lain adalah para santri dan masyarakat muslim yang setia berada di barisan para ulama tersebut (baik ulama dari kalangan habaib maupun dari kalangan kyai pribumi).
Selama para santri dan masyarakat muslim Indonesia masih menjunjung tinggi dan mengamalkan nilai-nilai luhur agama islam yang diajarkan secara turun temurun dengan sanad yang tersambung dari para kyai pribumi dan para habaib hingga kangjeng nabi; dan selama mereka masih setia berada di barisan para ulama tersebut, maka pada saat itu rencana busuk “Elite Dajjal” itu akan tetap terhalang.
Sehingga, tak perlu aneh jika para “Elite Dajjal” itu sampai kapan pun tidak akan pernah berhenti memisahkan dan meruntuhkan kepercayaan ummat islam kepada para ulama tersebut, baik dari kalangan Habaib maunpun Kyai Pribumi.
Jika kyai ‘alim, faqih, ‘arif, sholeh, dan kredibel sekelas KH. M. Anwar Manshur saja berani mereka fitnah, tidak menutup kemungkinan target berikutnya dari para “Elite Dajjal” itu adalah para kyai-kyai kampung, atau para ulama lainnya yang sunyi dari keramaian. Waspadalah!***
Galih M. Rosyadi, Mangunreja, 15 Oktober 2025.









