Banjir besar yang melanda Aceh dan Sumatera Utara sepekan terakhir bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan potret kegagalan sistemik manusia dalam menjaga keseimbangan ekologi yang rapuh. Ketika air bah menyapu Tamiang, Langsa, Gayo Lues, hingga Karo dan Deli Serdang, yang hilang bukan hanya rumah warga, sawah, dan ternak, melainkan juga ancaman kepunahan habitat terakhir bagi puluhan spesies endemik.
Mereka yang terancam punah
Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies kera besar yang baru ditemukan tahun 2017 dan langsung berstatus Critically Endangered, kini dalam bahaya. Populasi yang tersisa kurang dari 800 ekor itu hidup di ekosistem Batang Toru yang terus menyusut akibat alih fungsi lahan dan pembangunan infrastruktur. Menurut Paul Hartman, mantan Kepala Proyek Konservasi Orangutan USAID (DAI), penemuan spesies ini justru menjadi “peringatan mendesak” untuk melindungi hutan pegunungan Batang Toru, yang kini terancam bendungan hidroelektrik dan perkebunan sawit. Banjir bandang itu menjadi ajang eksekutor bagi spesies yang sudah berada di ujung tanduk habitatnya, sebagaimana diperingatkan dalam laporan IUCN 2025 yang menyoroti kerentanan endemik pulau terhadap perubahan iklim.
Di Leuser, badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang tersisa tak sampai 80 ekor terus kehilangan koridor hutan. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang populasinya kini di bawah 400 ekor dewasa terpaksa turun ke pemukiman karena habitatnya tenggelam atau terfragmentasi. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang jumlahnya kini sekitar 1.200 ekor pun mulai memasuki kampung-kampung, bukan karena agresif, tapi karena tak ada lagi tempat berlindung. Mereka adalah korban dari ekspansi sawit, tambang, dan jalan yang dibangun atas nama pertumbuhan ekonomi.
Deforestasi tanpa legitimasi
Nazir Foead, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Lahan Basah Indonesia, dalam kolaborasi dengan WWF, menekankan bahwa deforestasi di Riau, provinsi terdekat dengan epicentrum banjir, mempunyai masa depan yang berbahaya pula. Emisi karbon yang dihasilkan dari wilayah tersebut semakin besar, mempercepat perubahan iklim yang mengakibatkan banjir bandang dan spesies endemik.
Pandangan serupa datang dari ekskolog Australia, Andrew Hughes, yang dalam jurnal Ecosphere (2017, diupdate 2025) memperingatkan bahwa banjir akibat bendungan di Asia Tenggara, seperti di Lembah Nu, telah menghancurkan endemik setempat, termasuk monyet hidung pesek Myanmar yang kritis terancam punah, sebuah peringatan mengerikan bagi kawasan Leuser.
RTRW yang tak berpihak
Kita sering mengatakan “alam tak kenal kompromi”. Namun ironisnya, justru kitalah yang tak pernah benar-benar berkompromi dengan alam. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Aceh dan Sumut yang direvisi berkali-kali selalu menemukan celah untuk mengakomodasi kepentingan investasi. Hutan lindung menjadi kawasan budidaya, moratorium sawit hanya formalitas, restorasi gambut berjalan lambat. Ketika hujan datang, kita terkejut melihat banjir. Padahal, banjir itu adalah jawaban alam atas pengkhianatan sendiri.
Laporan Mongabay 2025 dari ekskolog AS, seperti Eric Verheij dari International Rhino Foundation, mengonfirmasi penurunan populasi badak Sumatera ke 34-47 ekor, di mana banjir dan fragmentasi habitat menjadi katalisator utama kepunahan, bukan sekadar “poaching”. Paradoks yang menyakitkan: di saat kita bangga dengan pertumbuhan ekonomi dua digit di sektor agribisnis dan pertambangan, diam-diam sedang menggali kubur untuk spesies-spesies endemik itu dengan air bah. Orangutan, badak, harimau, gajah, mereka bukan sekadar ikon konservasi, tetapi penanda bahwa ekosistem yang kita huni masih hidup. Ketika mereka lenyap, yang punah bukan hanya spesies, tapi juga kekayaan ekosistem yang tak ternilai: penyimpan karbon, pengatur iklim mikro, penyangga banjir, sumber air bersih. Seperti ditegaskan oleh Serge Wich, ekskolog Belanda dari Liverpool John Moores University, dalam studi 2016 yang direvisi 2025. Hilangnya hutan Leuser berarti “hilangnya 20% biodiversitas global dalam satu titik panas,” di mana perubahan iklim mempercepat migrasi spesies ke habitat yang tak cocok, seperti harimau Sumatera yang terdorong ke utara akibat banjir kronis.
Perlu Blueprint baru
Kini saatnya kita berhenti berpura-pura bahwa konservasi adalah urusan “pecinta alam” semata, melainkan urusan kelangsungan peradaban. Jika Leuser dan Batang Toru runtuh, banjir yang kita alami hari ini menjadi badai mematikan di masa depan. Kita bisa terus membangun bendungan dan tanggul, tapi jika dilakukan dengan mengabaikan lingkungan, itu hanya menunda hukuman. Hukuman yang sesungguhnya adalah ketika anak cucu kita hanya bisa melihat harimau Sumatera dalam foto hitam-putih, dan bertanya, “Mengapa kalian membiarkan mereka pergi?”
Para pegiat lingkungan itu bukan hanya mengkritik; mereka menawarkan blueprint tentang koridor satwa liar, pemantauan SMART berbasis satelit, dan restorasi berbasis masyarakat.
Blueprint itu sia-sia tanpa komitmen. Banjir menjadi alarm terakhir. Masihkah kita punya peduli untuk mendengar semua kritik? Ingat; manusia bukan tuan alam, tapi penyewa bumi yang kelak harus ditinggalkan termasuk spesies endemik ini..









