Adhy Rical (Ar), seorang penulis sekaligus petualang yang merangkap entertain sejati, kerap mendapat kontrak untuk bertualang ke pelosok-pelosok negeri timur Indonesia. Ia tak hanya sibuk dalam pendokumentasian saja. Meski memang tugas kontraknya hanya sekadar pendokumentasi. Namun catatan-catatan diarynya, ketika kembali disusun tuliskan jadi sebuah prosa yang menggugah.
Tak sekadar mengungkap sisi hidup dan kehidupan masyarakat di sana. Ia, tak ubahnya informan yang membocorkan suasana di negeri timur sana, meski gambarannya sebatas sketsa. Akan tetapi kita sudah bisa merasakan suasana itu dengan sempurna. Sebagaiman judul-judul prosa yang dipilihnya itu.
Pulau Pasir dan Lelaki Laut : “Nelayan dari Rote datang dari laut yang tak pernah diam. Mereka membawa kolo” diksi kolo yang bemakna nasi yang dikukus dalam daun pisang, direbus lama dengan santan. Jenis makanan serupa ini memang tak hanya ada di negeri timur sana. Di sini pun ada yang serupa dengan sebutan nasi lemang.
Secara isi mendekati sama, tapi pengolahannya berbeda. Bocoran inilah yang luput diperhatikan mayor orang, betapa kayanya budaya khas makanan tradisonal Nusantara di setiap suku yang berbeda. Belum lagi bahasa. Budaya gotong-royong jadi warisan dari para leluhurnya yang sampai kini hidup dan terjaga dalam aplikasi di kesahian hidup mereka.

PUNCAK GUNUNG ES “IMIP”
Judul-judul prosa yang dipilihnya merangkai satu kestuan sinambung. Sebelum Suapan Pertama : “Orang Wakatobi menyendok kasuami dari potongan daun kelapa kering.” Betapa indah menjalankan roda hidup dalam lingkaran tradisi, hingga : “Setiap makanan bukan sekadar untuk kenyang, tapi untuk mengingat: siapa yang memasak, siapa yang membungkus, siapa yang melepas. Buras membawa wajah ibu. Kasuami menyimpan suara dapur. Ikan asap kolo memeluk ketahanan yang diwariskan.”
Ar menarik kesimpulan bahwa : “Mereka bersaudara bukan karena darah, tapi karena pernah menahan lapar bersama.” Seperti itulah gambaran semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam rupa role model konkret. Lantas, bagaimanakah dengan judul prosa lainnya? Di Pulau yang tak Hilang penegasan itu kian terasa : “Kalau ditanya siapa yang lebih dulu tiba di Pulau Pasir, tak seorang pun ingin menjawab.”
Lelaki yang tak Pernah Pulang jadi penanda bahwa apa yang dikisahkan Ar, nyata adanya. Imigran tak dianggap ancaman. Sebab “Laut tidak butuh banyak kata. Di sana, keheningan bisa menjelaskan segalanya.” Meski tak saling paham akan bahasa, akan tetapi bahasa tubuh jadi komunikasi konkret yang tak menyesatkan dalam alur komunikasi.

Kontu Wuna dari Maginti
Kesadaran arsip dalam pendokumentasian inilah yang ingin diwacanakan Ar dalam prosa-prosanya tersebut, sebelum tradisi dan budaya itu karam. Kenapa para peneliti banyak yang datang dari luar negeri ke negeri yang kita cintai ini? Mereka datang ada yang resmi sebagai peneliti ada juga yang menyamar sebagi turis.
Pada dasarnya mereka sadar betul akan pendokumentasian tersebut, yang akan bernilai mahal seiring tahun berganti tahun. Katakanlah di 100 tahun mendatang, dokumentasi tersebut akan bernilai tinggi bahkan tak terhingga nilainya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang sadar akan pendokumentasian budaya leluhurnya.
Sebab disitulah letak cerminan mutlak adanya alur hidup dan kehidupan kita yang kaya akan nilai-nilai budaya, yang adiluhung untuk terus bisa diaplikasikan dalam laku hidup di keseharian—dengan bukti konkreat bahwa Bhineka Tunggal Ika sudah berjalan real di pelosok-pelosok yang jarang atau nyaris tak tersentuh dari kepanjang-tanganan pemerintah, baik setempat pun pusat.
Tentu saja, saya tak ingin membajak imaji pembaca dalam memahami alur-alur prosanya yang sinambung dengan 25 seri. Di kosapoin.com tersimpan 10 judul prosa dari seri Langit Tassipi. Lebih jelasnya kisa-kisah hidup dan kehidupan di sana bisa Anda baca dengan cermat. Agar kisah-kisah inspiratif itu kian meresap lebih dalam di jejak alur baca Anda.
Selamat membaca. []

INTERMEZO : BUDAYA KORUPTIF DAN PERILAKU MENGOPLOS
Lampiran

Di bawah gapura Desa Tasipi, cerita tentang laut dan batas negara saling bertaut. Dalam kurun Juli 2024 hingga pertengahan 2025, tercatat sekitar 244 nelayan Indonesia ditangkap di wilayah perairan Australia. Hampir separuhnya berasal dari Sulawesi Tenggara. Tasipi menjadi salah satu titik simpul paling aktif dalam jaringan ini.
Kampung ini bukan sekadar tempat berangkatnya kapal. Ia adalah tempat berkumpulnya hasil laut dari pulau-pulau sekitar, tempat nelayan singgah untuk logistik, dan tempat keputusan besar diambil, sering kali dalam diam. Di sini pula tinggal orang-orang yang memiliki koneksi langsung ke mereka yang pernah melampaui batas itu.
Di antara riuh gelombang dan kayu-kayu rumah panggung, informasi mengalir bersama cerita-cerita yang tidak tercatat. Itulah mengapa saya berdiri di kampung ini. [Ar]
# Sumber data nelayan: ABC Australia, KKP, Courier Mail









