Riuh yang Menjadi Doa: Eundeur Puspa Karima Menggetarkan Aula Sanusi Hardjadinata

dody ayah

Suasana penonton pada acara Gelar Eundeur Geunjleung Puspa Karima yang berlangsung di Aula Sanusi Hardjadinata Unpad pada Jumat, 23 Januari 2026, ditandai dengan antusiasme apresiator yang tinggi karena merupakan bagian dari seri Pidangan Seni Budaya Rumawat Padjajaran ke-109.

Gambaran suasana penonton hari ini:

Mengingat acara ini bersifat gratis (Free Entry), penonton dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, para ahli seni maupun masyarakat umum, memadati area Aula Unpad untuk menyaksikan pertunjukan bertajuk “WANOJA SADAYANA”.

 Penonton disuguhi pertunjukan seni tradisional yang melibatkan kolaborasi musik dan gerak, dengan konsep kemasan pertunjukan yang mengalur struktur musikal menggabungkan elemen estetis seni bunyi tradisional, atau medley repertoar komposisi musik Karawitan, yang introduksinya dibuka dengan nuansa musikalitas gesekan waditra rebab, kemudian secara selaras dan mengejutkan tampil nuansa Kidung Rajah Pantun yang Juru Sekar/Vokalis Cantik Neng Khamila yang merangkap nabuh memetik Kacapi Laras Salendro.

Petik Sekar Pantun usai, secara prinsip sambung rapat bersambung secara harmonis ke Material Seni Dogdog Angklung Reak Barong Landung yang nuansa harmonisnya Tabuhan Dogdog dari Neng Kharisma dan kawan-kawan, dipadukan dengan birama ritmik Angklung Gubrag yang beraksen repetitiv polyphony salendro memirig mengiringi tiupan melodis Tarompet yang dimainkan oleh Neng Bunga Destri.

Nuansa melodis Tarompet secara harmonis mengajak pemain vokal/sekar untuk tampil maksimal seorang Vokalis Beluk Eneng Cantik yang memiliki kekuatan nuansa vokal yang ambitus suara tinggi dengan warna suara yang menarik unik.

Setelah penampilan Seni Sekar Beluk usai, secara harmonis naik ke Gending Celempungan, yang waditranya terdiri dari Kacapi Siter, Kacapi Rincik, Rebab, Kendang dan Goong untuk memirig atau mengiringi seorang Pesinden atau Juru Kawih Cantik bogalakon Puspa Karima.

Usai Gending Seni Celempungan selesai secara harmonis selaras bersambung ke repertoar gesek petik Jentreng-Ngekngek Tarawangsa yang alur seni bunyinya memiliki ciri kekhasan musik Ranca Kalong Sumedang, yang di mainkan oleh duo wanita cantik yaitu Neng Desty dan Neng Kharisma Gadis Cantik Bumi Ageung Saketi, secara mengejutkan masuk para penari tarawangsa yang cantik-cantik mengolah suasana dramaturgi menjadi semakin mengesankan apresiasi penonton.

Tak terasa alur tarian musikal dan alunan melodisius Tarawangsa usai, sorak-sorai tepuk tangan penonton bersambung harmonis ke bunyi bubuke tepak Kendang Indung diikuti bunyi tiupan tarompet yang ditiup oleh Neng Bunga Destry Alumni Mahasiswa Karawitan ISBI Bandung, suasana alur musikal semakin hangat dengan naiknya seorang penari cantik memainkan Tarian Pencak Silat yang gerakannya sangat memukau penonton.

Dalam alur dramatis musikal yang unik menarik ini, tak lupa juga ada Seni Calung yang membawa imajinasi penonton ke alam ka tukang nostalgia Seni Calung, Calung Layung Sari Darso, juga Calung Gentra Madya, dsb. 

Repertoar Seni Mamaos Tembang Cianjuran yang dikemas dengan gaya Puspa Karima ini, menjadikan penonton memukau mengingat para tokoh Tembang Cianjuran seperti Alm. Ibu Saodah, Alm.Euis Komariah, dsb. Apalagi diantara penonton ini dihadiri Tokoh maestro Juru Kawih Pa Eka Gandara W.K dan Maesro Tembang Sunda Cianjuran Ibu Ida Widawati wedalan Godrah Garut.

Tak lupa dalam sela-sela alur musikal ini Dalang Wayang Golek Wanita Cantik yaitu Neng Desty Putri Bapa Dalang Taufik Sunandar, berani memberikan kejutan menarikan atau ngigelkeun Wayang Golek.

Repertoar Ketuk Tilu juga termasuk bagian yang mengejutkan dalam acara penting Puspa Karima ini, yang Tarian Ketuk Tilunya ditarikan oleh anak perempuan cantik yang sekolah nya masih duduk di bangku SMP Juara yaitu Neng Kharen Putri nya Abah Endjoem pemimpin Sanggar Seni Reak Dogdog Tibelat Cibiru Bandung yang sudah merangsang Buana ke Luar Negeri seperti ke Australia.

Di Puncak Pertunjukan menarik ini diakhiri oleh Repertoar Tanjidor yang para penabuhnya ya tentu saja semuanyabdari Grup Musik Tradisional Puspa Karima, dengan dihangatkan oleh ibingan spontan dari para penonton dan pemuda yang menaruh simpati pada Kelompok Puspa Karima ini yang penuh kharismatik Metaksu, secara mengejutkan juga Prof.Ganjar Kurnia dan Prof.Endang Catur Wati kehadirannya memberikan motivasi untuk Grup musik tradisional Sunda Puspa Karima ini.

Dosen Filsafat dari UNPAR temannya Kang Topik Ketua Padepokan Bumi Ageung Saketi sangat antusias menghadiri acara ini yang jarang sekali kita saksikan selama ini di masyarakat Jawa Barat khususnya.

Mudah-mudahan, Gelar Eundeur Geunjleung sepak terjang seni gerak rupa bunyi dalam dimensi ruang dan waktu ini meregenerasi kuat untuk masa depan masyarakat bangsa Nusantara ini, terutama emansipasi wanita dengan kekuatan makna etika, estetika dan teknik dalam lorong edukasi pendidikan dasar seni Budaya Kearifan Lokal Jati Diri Bangsa…

Sekian Terimakasih 
Salam Budaya Lokal Jati Diri Bangsa…

Bandung, 23.Januari.2026


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *