Jam Istirahat dan Hewan yang Menunggu

jam istirahat dan hewan yang e1751641677173

Bagian 2 – SD Swasta Laea

Saat istirahat tiba, anak-anak berhamburan keluar dari ruang kecil itu. Tak ada lonceng. Kadang hanya bunyi belimbing hutan yang digosok ke papan, atau suara kaki guru yang menyeret bangku kayu.

Di dalam kelas, guru bertangan satu itu membersihkan papan tulis dengan ujung lengan bajunya. Ia memeriksa buku-buku siswa, hanya satu buku untuk semua pelajaran. Anak-anak tak membawa tas. Buku mereka digenggam erat, atau diselipkan di pinggang, seperti membawa janji yang sederhana tapi dalam.

Tapi yang lebih ia perhatikan adalah pot dari batok kelapa di belakang kelas. Jika tanaman tak tumbuh, guru akan membuka kantong plastik berisi bibit yang diletakkan di atas mejanya. Ia akan menyodorkan bibit baru, tanpa banyak bicara. Tak ada penilaian. Pot yang tumbuh atau tidak tumbuh, itulah ulangan sebenarnya.

Di luar, sebagian anak bermain cungkil kayu. Ranting dilempar ke udara, ditangkap sambil tertawa. Yang lain bermain sembunyi batu, atau bermain kelereng. Anak laki-laki punya cara sendiri untuk sibuk.

Anak-anak perempuan yang tak punya hewan ternak membuka tas kecil, mengeluarkan daun pandan hutan atau janur dari rumah. Mereka menganyam pelan-pelan, membuat keranjang kecil yang akan mereka bawa pulang sebagai tugas rumah.

Tak ada anak yang membawa makanan untuk diri mereka sendiri. Mereka sudah makan di rumah. Yang mereka bawa justru makanan untuk hewan ternak sebab di sini tak ada kantin seperti sekolah lain.

Sapi diikat bukan di pohon, tapi pada sebatang kayu kering yang ditancapkan ke tanah. Tali ikatannya hanya diputar tiga kali, tanpa simpul, cukup untuk menahan tapi mudah dilepas. Seorang anak menyapa sapinya,

“Limbang…” katanya perlahan.

Sapi itu mengibaskan ekornya, lalu menundukkan kepala, seolah mengerti maksud tuannya.

Dengan ringan, anak itu naik ke punggungnya. Tak ada pelana, tak ada kendali. Hanya kebiasaan yang lahir dari kebersamaan.

Limbang berlari kecil. Tiga anak lainnya tertawa dan mengejar. Limbang seperti pura-pura menyeruduk. Anak-anak menjerit riang. Sapi itu ikut bermain, bukan karena diajari, tapi mungkin karena tahu rasanya menunggu jam istirahat.

Di sisi lain, seorang anak memberi makan kambingnya.

“Bolang… Bolang…” katanya sambil meletakkan daun gamal yang baru ia petik dari pagar samping sekolah.

Gamal adalah kesukaan kambing, tumbuh cepat dan selalu tersedia.

Anak yang membawa itik hanya bersiul,

“Ti ti ti…”

Itik-itik itu mendekat, mematuki remasan kulit singkong yang masih lembap.

Tiba-tiba suara kecil meletup di sisi ilalang.

Seekor itik bertelur, tanpa banyak gerak, hanya menggoyangkan tubuhnya, lalu diam seperti selesai memberi isyarat.

Anak-anak bersorak pelan, menahan tawa seperti menahan napas.

“Itikku bertelur…” bisik pemiliknya bangga.

Beberapa teman mendekat. Yang lain menengok dari jauh, seolah telur itu adalah hadiah bagi semua.

Tak ada yang berani mengangkatnya. Hanya memandang, menyebutnya harta kecil dari jam istirahat.

Mereka percaya: jika itik mau bertelur di kandang ilalang sekolah, maka tempat ini benar-benar damai.

Di belakang sekolah, seorang anak perempuan yang terlambat bangun pagi itu, mengambil air dari sumur dangkal. Mata air sumur itu hanya dua jengkal dari permukaan tanah, dan selalu mengalir.

Ia menuangkan air ke dalam jerigen lima liter, lalu menyandarkannya ke dinding sekolah. Ia akan membawanya sepulang sekolah. Tak ada yang menyuruh. Tapi ia tahu: air bukan hanya untuk diminum, tapi juga untuk menyambung yang tumbuh.

Anak-anak yang potnya tidak tumbuh, tidak ikut bermain. Mereka hanya duduk di belakang sekolah, memandangi pot kosong mereka yang retak. Itu diam yang mungkin lebih menyakitkan, karena tak bisa dibagi. Dan itu cukup untuk menyampaikan: bahwa tumbuh, bukan hanya soal benih. Tapi soal waktu, kesabaran, dan siapa yang tak menyerah.

Angin tenang. Aroma udara panas tapi tak menyengat karena banyak tumbuhan di sekitar sekolah. Tanah di halaman sekolah memang tidak ditumbuhi rumput, mungkin karena terlalu rajin dicangkul. Beberapa cangkul masih bersandar di dinding luar kelas.

Cahaya matahari menyusup dari celah-celah atap rumbia yang bolong, menyinari lantai tanah yang lembap. Jika hujan turun, bagian tengah kelas pasti basah. Itulah tanda jam istirahat: bukan lonceng, bukan bunyi peluit, tapi garis cahaya yang merambat perlahan dari dinding ke papan tulis.

Tak ada hewan peliharaan seperti kucing atau anjing di sini. Hanya hewan ternak. Mereka bagian dari keluarga dan tanggung jawab hidup.

Aku berdiri di belakang kelas, di antara celah papan yang renggang. Angin membawa aroma tanah, daun, dan suara yang tumbuh tanpa pengeras. Aku bertanya pelan pada guru,

“Kenapa anak-anak membawa hewan ke sekolah?”

Ia menjawab sambil menyusun bibit baru di atas meja,

“Karena sekolah bukan tempat terpisah dari rumah.”

Dan aku mengangguk.

Karena memang, di sini, tak ada yang diajarkan terpisah dari hidup.***

HOROR 
Baca Tulisan Lain

HOROR 


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *