Di hari yang teriknya menyengat, menuliskan rasa gundah dalam menyambut langit sore di ini hari. Sebagaimana biasanya, membaca-bedah dalam ranah alur sejarah. Bukan semata gemar menghiperbola, tetapi ada banyak hal yang tak bisa diungkapkan dramatis dalam peta si kulit bundar, selain mengkaitkannya dengan ruang-ruang klasik. Bagaimana pun alur hidup dan kehidupan di bumi—tak bisa dilepaskan dari keringat dan air mata sebelum menjadi sejarah darah. Katakanlah: Di tanah Parahyangan yang diselimuti kabut kemenangan dan harapan bobotohnya sendiri, Persib Bandung bersiap menjalani ‘perang’ terakhir musim ini. Bukan sekadar pertandingan. Bukan sekadar perebutan poin. Ini adalah gerbang menuju mahkota ketiga berturut-turut sebuah kejayaan yang hanya bisa diraih kerajaan besar yang mampu bertahan dari panjangnya musim dan beratnya tekanan. Sebagaimana kemarin pekan ke 33 di tanah Bumi Sawerigading, Persib bukan lagi sekadar kandidat juara, melainkan legenda yang berhasil melewati ujian api terbesar.
Sabtu sore ini hari di Stadion Gelora Bandung Lautan Api terasa seperti menjelang ‘perang’ penentuan dinasti. Ribuan bobotoh akan turun memenuhi tribun seperti warga kerajaan yang mengantar pasukan menuju medan laga terakhir. Genderang ditabuh. Panji biru dikibarkan. Dan di balik gegap gempita itu ada satu kalimat yang menggantung seperti peringatan dari seorang panglima tua: “Jangan dulu euforia karena ‘perang’ belum selesai.” Kalimat itu datang dari Umuh Muchtar seperti suara penjaga benteng yang tahu bahwa kemenangan paling berbahaya adalah kemenangan yang dirayakan terlalu cepat.
Dalam kisah peperangan klasik Nusantara Persib bisa diibaratkan kerajaan besar dari dataran tinggi yang hampir mencapai puncak kekuasaan. Mereka datang dengan pasukan terbaiknya. Beckham Putra para penggawa lain berdiri seperti ksatria utama yang menjaga kehormatan kerajaan. Thom Haye menjadi pengatur irama perang di tengah lapangan, sementara Teja Paku Alam menjaga gerbang terakhir seperti penjaga benteng yang tidak boleh runtuh. Namun di hadapan mereka berdiri Persijap Jepara sebuah pasukan pesisir yang tidak datang membawa beban mahkota tetapi justru karena itulah mereka berbahaya.
Persijap seperti armada laut dari utara Jawa. Mereka tidak punya tekanan untuk menjadi raja, tetapi mereka punya kebebasan untuk merusak pesta penobatan. Dalam sejarah perang kerajaan sering kali ancaman terbesar bukan datang dari musuh yang lapar kekuasaan, melainkan dari pasukan yang tidak takut kehilangan apa pun. Dan Persijap pernah melukai Persib sebelumnya, pada pertemuan pertama—mereka menang 2-1. Sebuah kemenangan yang kini menjadi legenda kecil yang dibawa kembali ke Bandung, seperti cerita lama yang belum selesai. Carlos Franca dan rekan-rekannya datang bukan untuk menjadi figuran dalam pesta juara. Mereka datang untuk menguji apakah kerajaan biru benar-benar layak dimahkotai.
Di sisi lain, Bojan Hodak tampak seperti panglima perang yang berusaha menjaga ‘tentaranya’ tetap tenang di tengah sorak kemenangan yang sudah terdengar dari kejauhan. Ia tahu satu kelengahan kecil bisa mengubah sejarah. Sementara Mario Lemos membawa Persijap seperti komandan pasukan bayangan yang diam-diam menikmati peran sebagai pengacau takdir. Maka laga ini terasa seperti bab terakhir dalam kisah kolosal: sebuah kerajaan besar berdiri satu langkah dari singgasana, sementara pasukan pesisir datang membawa badai terakhir.
Dan saat matahari sore jatuh di Kota Kembang nanti—satu pertanyaan akan dijawab: apakah Maung Bandung benar-benar menjadi raja atau justru tersandung di gerbang penobatannya sendiri? Namun hal itu rasanya tak akan terjadi, sebab pasukan Pangeran Biru piawai belajar dari pengalaman. Ya, hanya waktulah yang akan menjawab apakah Maung Bandung akan menggaur dalam mampu mereplikasikan keunggulan sejarah tersebut untuk menjinakkan kebuasan Laskar Kalinyamat, ataukah sore nanti kita akan melihat kepulan asap kekalahan Maung Bandung di tanahnya sendiri yang menandai keruntuhan dramatis di ambang jura. Namun, sekali lagi: hal itu rasanya tak akan terjadi, meski hanya membutuhkan satu poin saja, sebab Persib bukan lagi sekadar kandidat juara, melainkan legenda yang berhasil melewati ujian api terbesar. Terang dan jelasnya, ketakutan terbesar dalam cemas di ini hari, tak tertahannya bobotoh sebelum peluit akhir berbunyi menjejakkan kaki ke palagan.
Stadion sudah siap digunakan, napas sudah tertahan, dan takdir kini tinggal menunggu untuk dituliskan oleh kaki para pemain. Terlepas dari semua itu, tentu saja suporter dari kedua tim punya harapan dan berharap, di samping tim yang didukungnya mampu menjunjung tinggi sportivitas dalam pertandingan, perangkat pertandingan yang bertugas juga mengedepankan prinsip yang sama. Integritas, profesionalisme, serta konsistensi dalam setiap keputusan wasit sangat diperlukan demi terciptanya pertandingan yang adil, bermartabat, dan menghormati seluruh pihak yang terlibat. Dengan demikian, hasil pertandingan akan benar-benar mencerminkan kualitas serta semangat kompetisi yang sehat. []









Hmm… Curiga.. Haha