Media sosial hari ini semakin mirip panggung pertunjukan, di mana siapa pun berlomba menampilkan diri bak selebriti. Segala hal, mulai dari yang remeh hingga krusial, diabadikan dalam video dan foto keren agar mendapat tepuk tangan pengikut maya. Masalahnya, kemegahan pentas ini sering disertai kekosongan naskah: banyak topik dibahas tanpa pengetahuan mendalam. Masyarakat berjibaku menapaki panggung politik, sosial, budaya, bahkan ekonomi bak aktor histrionis, namun ujungnya minim bahan dan nalar.
Kita disuguhkan pertunjukan gemerlap, sementara yang kritis berpikir sering kali cuma menjadi penonton. Banyak penonton pun ikut bertepuk tangan, seolah tengah menyaksikan laga termegah, padahal esensi malah terlewatkan. Kita terlena gemerlap seruan, padahal pertanyaan penting seringnya dibiarkan menguap.
Contohnya, dunia politik kerap menjadi ajang pencitraan ala kampanye reality show. Calon pemimpin sibuk live di media sosial, membagi jargon segar sambil menunda membaca riset mendalam. Peluncuran kebijakan pun terasa spontan dan penuh energi, padahal substansi sering tercecer.
Di media sosial, ucapan bombastis dan hashtag trending cepat viral disambut tepuk tangan, tetapi diskusi mendalam terseret gelombang sensasi. Politik kita tampil bak konser musik tanpa lirik: gemerlap di panggung, tapi maknanya tak terdengar. Kita begitu mudah meneriakkan slogan tanpa memahami konteksnya, seolah riset rumit bukan syarat untuk ikut berpidato.
Tak jauh berbeda, di ranah sosial, budaya, dan ekonomi pertunjukan serupa berlangsung. Banyak warganet bangga menyebut diri ahli, menyebarkan saran hebat hanya bermodal judul berita yang dibaca sepintas. Ujaran mereka berapi-api di linimasa, bagaikan membakar semangat, namun seringkali hanya menggores permukaan tanpa menyelami inti masalah.
Misalnya, tiba-tiba muncul “pakar ekonomi” viral karena menonton video sepuluh menit, padahal pengetahuannya setipis status Twitter. Dunia budaya pun tak lepas: diskusi seni acapkali lebih mirip sandiwara, penuh gimmick dan kutipan klise tanpa inti refleksi. Intinya, di panggung maya ini yang terlihat adalah gemerlap penampilan — bukan kualitas gagasan.
Bahkan, topik serius sering dijadikan serial drama maya. Tiap episode bikin penasaran, namun ceritanya acap kali tak jelas ujung pangkalnya. Sedikit orang peduli pada detail substansi karena semua terpikat oleh sensasi harian.
Dampak keputusan tergesa terasa luas. Kebijakan dadakan berubah-ubah, pengumuman setengah jadi muncul tak terduga di tengah malam, atau wacana ekonomi disusun setelah publik sudah kebingungan. Rakyat kelimpungan menafsirkan instruksi simpang-siur, sementara penggagas kebijakan sibuk berswafoto memamerkan rekam jejak.
Alih-alih solusi, suasana publik berubah jadi drama komedi — dan korban utamanya adalah orang kebanyakan yang tersesat di antara dialog setengah matang. Padahal, penetapan kebijakan seharusnya disertai riset matang dan debat berkualitas, bukan sorak-sorai instan di panggung maya. Akibatnya bukan hanya kebingungan publik, melainkan stagnasi nyata dalam proses pengambilan keputusan.
Ironisnya, banyak orang pintar memilih bungkam. Para ahli, budayawan, dan cendekiawan tampak lebih nyaman meracik gagasan di balik layar daripada unjuk muka di keramaian publik. Mereka punya banyak hal patut disampaikan, namun enggan terjun ke panggung gemerlap yang berisik.
Entah karena takut dikira pamer ilmu atau menganggap panggung terlalu sesak riuh, pemikir berkelas itu lebih suka diam. Akibatnya, wacana publik didominasi suara lantang yang belum tentu kredibel, sedangkan suara cerdas dan berintegritas justru tersembunyi di balik mikrofon yang tak pernah diangkat.
Pada akhirnya kita diundang bertanya: sampai kapan kita akan terus menikmati konser pencitraan yang gemerlap tetapi kosong makna? Ketika suara tak bertanggung jawab berkuasa dengan nalar semu, mungkinkah kita menunggu penuntun bijak muncul sendiri? Mungkin sudah saatnya kita menyalakan sorot lampu pada pemikir bijak di antara kita. Daripada berlomba berteriak, alangkah baiknya membuka panggung dari gagasan matang.
Jika masyarakat berani memilih, pesta opini masa depan bukanlah ajang melangitkan egonya, melainkan diskusi bermutu yang benar-benar memberikan arah bagi kita bersama. Sudah saatnya kita mengalihkan perhatian dari lampu sorot yang memukau ke kursi penonton yang bisa melihat lebih luas. Hanya dengan begitu, masa depan tak hanya jadi festival ego sentris, melainkan refleksi bersama yang bermutu.***
[Penulis adalalah aktivis kebudayaan khususnya pendidik dan pelaku seni teater]








