dok. foto Iwan M Ridwan
Bandung — Majelis Sastra Bandung (MSB) merayakan ulang tahunnya yang ke-17 dengan menggelar acara bertema “Membaca Kepenyairan Jawa Barat Kini” di Museum Kota Bandung, Jalan Aceh No. 147, Minggu (18/1/2026). Kegiatan ini menjadi penanda konsistensi MSB dalam menghidupkan budaya literasi, khususnya di bidang sastra dan puisi.
Acara tersebut diselenggarakan oleh Majelis Sastra Bandung dengan dukungan Dinas Pendidikan Kota Bandung serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung. Rangkaian kegiatan meliputi peluncuran buku antologi puisi yang menghimpun karya 61 penyair Jawa Barat serta diskusi sastra yang menghadirkan sastrawan Hawe Setiawan sebagai pembicara utama. Diskusi dipandu oleh moderator Farra Yuniar.
Sejumlah tokoh sastra dan seni turut memeriahkan acara melalui pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Hadir pula Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, bersama para penyair senior Jawa Barat, di antaranya Bode Riswandi, Ahda Imran, dan tokoh-tokoh sastra lainnya.
Dalam sambutannya, Adi Junjunan Mustafa menyampaikan ucapan selamat atas usia ke-17 Majelis Sastra Bandung. Ia menyebut usia tersebut sebagai fase “pubertas”, masa yang penuh gairah dan energi kreatif. Selain itu, Adi menyinggung wacana penghargaan sastra dari negara-negara BRICS yang menurutnya membuka peluang baru bagi negara-negara Selatan untuk menulis dan menawarkan pandangan dunia melalui sastra, tanpa harus selalu didominasi dan dilegitimasi oleh negara-negara Utara. Oleh karena itu, ia berharap Majelis Sastra Bandung dapat menjadi tonggak pembaruan dalam menulis gagasan-gagasan dunia melalui karya sastra.
Dalam diskusi, Hawe Setiawan menempatkan Majelis Sastra Bandung—yang diketuai oleh Kiyai Matdon—sebagai bagian dari estafet kehidupan sastra di Kota Bandung. Ia menyebutkan bahwa sebelum MSB, Bandung telah memiliki sejumlah komunitas dan forum sastra penting, seperti Forum Sastra Bandung yang digagas Juniarso Ridwan, Pertemuan Kecil oleh Saini K.M., serta Kelompok 10 yang diisi oleh nama-nama seperti Nirwan Dewanta dan Acep Zamzam Noor.
Hawe juga menggambarkan komunitas sastra di Bandung seperti “rumput teki” yang terus tumbuh dan menjalar. Menurutnya, Majelis Sastra Bandung memainkan peran strategis, mulai dari menghimpun para pencinta puisi, menyelenggarakan sawala puisi atau pengajian sastra secara rutin setiap bulan, menerbitkan buku puisi baik antologi bersama maupun individu, hingga menyelenggarakan lomba puisi.
Terkait kondisi kepenyairan di Jawa Barat, Hawe menilai bahwa medan kepenyairan di wilayah ini tergolong kompleks dan sulit dibaca secara sederhana, sehingga memerlukan penelaahan yang lebih komprehensif. Keunikan lain dari puisi Jawa Barat terletak pada pilihan bahasa, baik Bahasa Sunda maupun Bahasa Indonesia. Ia mencontohkan penyair seperti Godi Suwarna yang memilih menulis dalam Bahasa Sunda meski fasih berbahasa Indonesia, Ramadan K.H. dari Cianjur yang menulis dalam Bahasa Indonesia meski berlatar Sunda, serta Acep Zamzam Noor yang mampu menulis puisi secara fasih dalam kedua bahasa tersebut.
Melalui perayaan ulang tahun ke-17 ini, Majelis Sastra Bandung menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang pertemuan, perbincangan, dan produksi karya sastra, sekaligus menjaga denyut kehidupan puisi di Jawa Barat di tengah perubahan zaman.
Komitmen tersebut tercermin dari antusiasme para penyair lintas daerah yang turut hadir dalam perayaan ini. Ketua MSB, Kiyai Matdon, menyampaikan bahwa selepas acara ia masih menemani dan menerima para penyair tamu yang datang dari Madura, Banten, Tangerang, dan Lampung di Gedung Indonesia Menggugat. Bahkan, seorang penyair asal Surabaya sempat tertahan dalam perjalanan akibat banjir di Pekalongan yang merendam jalur lalulintas, hingga malam hari baru sampai Tasikmalaya sebelum akhirnya dapat melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Kehadiran para penyair dari berbagai wilayah tersebut menegaskan bahwa Majelis Sastra Bandung tidak hanya berperan sebagai simpul sastra Jawa Barat, tetapi juga telah berkembang menjadi ruang silaturahmi dan pertukaran gagasan sastra lintas daerah.






