Bagian 5
Tak ada musim di Pulau Christmas[1]. Hanya angin yang lupa arah dan laut yang selalu diam seperti menyimpan rahasia.
Di sanalah lelaki Tassipi itu dikurung. Orang yang pernah mengantar lima nyawa ke tempat sunyi dan kini duduk di dalam sel dengan bau asin yang tak pernah benar-benar pergi dari kulitnya.
Ia tak tahu kenapa tempat itu dinamai Christmas. Tapi baginya, nama itu tak pernah tentang kelahiran.
“Tempat itu lebih mirip kuburan. Kuburan dalam laut yang tak perlu diziarahi,” katanya.
Beberapa bulan berlalu. Di satu pagi yang hangat tapi kosong, pintu besi terbuka. Masuklah nelayan dari Rote. Ia berjalan seperti tamu, bukan tahanan.
“Akhirnya kita ketemu juga,” katanya sambil tersenyum.
“Kataku apa, penjara bukan tempat buruk. Aku cuma mau coba rasanya.”
Ia mengangkat bahu seperti orang habis pulang dari tamasya.
Nelayan Tassipi memandangnya tak percaya. Tapi nelayan Rote duduk santai, seolah penjara ini ruang tunggu sebelum kapal berikutnya.
“Katanya, di sini kita bisa kerja. Dapat duit. Dikasih makan. Tidak ada ombak. Hidup lebih tenang dari laut.”
“Lagi pula, aku belum nikah. Tidak ada yang perlu ditakuti. Aku cuma ingin ketemu kamu.”
Nelayan Tassipi tak menjawab. Ia masih sibuk menghitung hari dengan menandai dinding menggunakan tulang ikan kecil yang ia temukan di kantin dapur. Ia juga masih menyimpan simpul tali dari perahu lamanya agar ingatannya tentang rumah tidak mudah hanyut. Kadang ia terbangun malam-malam, tangannya mencari dayung. Tapi yang ia genggam hanya udara dingin dan bau logam.
Tapi malam itu, suara dalam sel berubah. Mereka seperti bukan dua tahanan. Mereka dua laut yang pernah bertemu dalam badai yang sama.
“Kalau terus sedih, kau cepat tua,” kata nelayan Rote sambil menyeruput teh.
“Anggap ini perjalanan. Seperti sedang terdampar di pulau asing dan kita belajar hidup dengan apa yang ada.”
Ia mulai kerja di dapur penjara. Cuci piring. Kadang bersihkan jendela besi. Sedikit demi sedikit ia tersenyum. Bukan karena senang, tapi karena laut di dalam dirinya pelan-pelan surut.
Para tahanan dari Sri Lanka mulai duduk bersamanya. Mereka mengenalnya. Ada yang berseru, “ayya!” saat ia melintas.
Ia tidak terlalu mengerti, tapi cukup tahu bahwa itu bukan hinaan. Itu panggilan untuk seorang saudara.
Ternyata, lima orang yang dulu ia selamatkan juga ditahan. Mereka dipisah, tapi kadang terlihat dari kejauhan.
Si ibu selalu menggendong anak kecil itu, yang kini tumbuh sedikit lebih tinggi, tapi tetap memegang kerang merah tua dalam plastik bening.
Saat tatapan mereka bertemu, anak itu berlari. Memeluk lutut lelaki Tassipi, seperti dulu, saat laut jadi tempat sembunyi. Anak itu berbicara dalam bahasa ibunya:
“Oba saha navika deviyek.” (Ibu bilang kau malaikat laut)
Ia tak berkata apa-apa. Hanya memejam dan membiarkan air mata jatuh tanpa bunyi.
Suatu malam, nelayan Tassipi menerima surat dari kampung. Ia membacanya pelan, suaranya pecah di baris ketiga:
“Bapa, saya rinduh.
Ibu bilang bapa di pantara.
Kaka lari tangis.
Ini nomor hp Ibu. Tapi sinyal malam.
Jam 8 ke atas. Di kampung lampu baru nyala jam enam.
Saya minta bapa pulang.
Saya minta bapa jaga kami.”
Kertas itu tipis. Lipatannya banyak. Tulisannya goyah, huruf-huruf tumpang tindih. Tapi ia tahu, tulisan itu lebih kuat dari jeruji mana pun.
Nelayan Tassipi menangis keras malam itu. Dan untuk pertama kalinya, nelayan Rote memeluknya. Tak ada kata-kata. Laut dalam dada mereka sudah saling bicara.
Entah kenapa, lantai Cristmas malam itu basah oleh sesuatu yang lebih dari sekadar embun. Dan pertama kalinya ia percaya, mungkin pulang bukan soal tempat. Tapi tentang siapa yang masih menunggu.***
Tassipi, 2025

PAGI MEREVISI PAGI
[1] Pulau Christmas, selain dikenal karena keanekaragaman hayati kepiting merah (Gecarcoidea natalis), juga menjadi lokasi pusat penahanan imigrasi yang digunakan oleh Pemerintah Australia untuk menampung pencari suaka dan migran tidak berdokumen. Fasilitas ini beroperasi sebagai bagian dari kebijakan pengendalian perbatasan. Subjek kontroversi HAM, kondisi penahanan, serta dampaknya terhadap komunitas lokal dan lingkungan.









