ilustrasi: Dr. Eko Wahyuanto sedang berada di sebuah ruang yang berada di kediaman (rumah) Ki Hajar Dewantoro
Aspek pedagogi, pedagogik, dan pedagogis merupakan “Trinitas Pendidikan” yang sakral. Ibarat mata rantai ketiganya tak boleh terputus, sebab jika satu putus, ekosistem pendidikan tidak memiliki pondasi yang kuat sehingga rapuh dalam menghadapi setiap tantangan. Indonesia di tahun 2025 sedang menghadapi problem betapa rapuhnya pondasi itu.
Dalam dialektika Paulo Reglus Neves Freire, pencipta Pedagogi Kaum Tertindas (Pedagogy of the Oppressed), dinyatakan bahwa pendidikan bukanlah “banking education” yang memasok pengetahuan seperti tabungan, melainkan proses pembebasan: mengeluarkan manusia dari kungkungan penindasan menuju kesadaran kritis (conscientização). Bukan menjejali otak, tapi membangunkan jiwa untuk mempertanyakan fenomena dalam realitas. Di Indonesia, sebagian pendidik kita masih menggunakan pola bagaimana siswa dituntun jadi konsumen pasif, bukan agen perubahan yang aktif. Lihat saja skor PISA 2022 yang menempatkan pendidikan kita anjlok di peringkat 71 dari 81 negara, dengan tingkat literasi membaca hanya 359, jauh dibawah rata-rata ketentuan organisasi internasional Organisation for Economic Co-operation and Development – OECD,
Ini bukan kegagalan siswa, tapi kegagalan sistem yang memastikan potensi mereka. Pedagogi, sebagai ilmu, adalah konstitusi intelektual yang sistematis. Pendidik bukan “guru bank”, melainkan fasilitator dialog yang membantu lahirnya pengetahuan baru lewat problem “posing education”, dimana siswa menjadi subjek yang aktif dan kreatif dan berpikir kritis analitis. Tanpa pedagogi yang membebaskan, pendidikan hanya menjadi alat penindasan baru. Seperti terlihat dari hasil Asesmen Nasional (AKSI) 2023 yang mengungkap 67% siswa SMP belum mencapai kompetensi minimum literasi, dan 70% usia 15 tahun di bawah level kemampuan dasar membaca – matematika. Kritik Freire diarahkan pada sikap kita yang terus memuja kurikulum Merdeka Belajar sebagai slogan, tapi di lapangan, itu cuma flexing administratif tanpa transformasi nyata.
Pedagogik dalam teori Sosio-Kultural dan Zone of Proximal Development (ZPD) dari Lev Semyonovich Vygotsky, adalah proses yang hidup dan cair, berbasis interaksi sosial. Tidak ada yang statis, sebab kelas adalah “scaffolding”: tujuan adalah arah perkembangan, materi adalah alat mediasi, metode adalah bantuan yang bertahap, lingkungan adalah komunitas belajar yang terus berevolusi. Guru dan siswa saling membangun makna lewat bahasa dan ilmu pengetahuan. Tanpa pedagogik yang kontekstual, kelas jadi ruang mati tanpa interaksi bermakna.
Kesenjangan digital Jawa-Papua menganga lebar, infrastruktur daerah terpencil minim, dan 1 dari 3 guru honorer digaji di bawah UMK, membuat ZPD siswa terjebak di zona kemiskinan. Melihat ini Vygotsky akan mengecam: pendidikan kita bukan kolaborasi, tapi kompetisi survival yang merampas potensi sosial.
Pedagogis, dalam pandangan Nel Noddings, pelopor Etika Peduli (Ethics of Care) dalam pendidikan, lebih pada soal hubungan dan kepedulian. Kesabaran adalah kesiapan menerima siswa apa adanya, pemahaman karakter adalah mendengarkan dengan penuh empati, metode adalah responsif terhadap kebutuhan, motivasi lahir dari rasa dihargai, teladan adalah autentisitas pendidik sebagai manusia utuh. Guru harus mampu merawat dirinya sendiri dulu sebelum merawat anak didik. “Caring together” atau peduli bersama bukanlah slogan, tapi komitmen yang terus ditumbuhkan diantara guru dan siswa. Kritik itu juga diarahkan pada isu korupsi dana BOS dan UKT yang berulang, kesehatan mental guru-siswa yang terabaikan (hasil survei menunjukkan tingkat depresi tinggi), dan disparitas akses literasi digital yang belum merata. Tanpa etika ini, kita lahirkan generasi pintar tapi rapuh, berempati tapi tak kritis.
Ketiganya bukan hirarki, melainkan tiga cabang kekuasaan dalam republik pendidikan: pedagogi sebagai legislatif pembebasan, pedagogik sebagai eksekutif interaktif, pedagogis sebagai yudikatif peduli. Tanpa checks and balances, pendidikan melahirkan monster: pintar tapi tak berempati, berempati tapi tak kritis.
Pakar seperti Prof. Dr. Arief Rachman (mantan Ketua PGRI) dan Prof. Dr. Rochmat Wahab (UGM) mengevaluasi: Merdeka Belajar gagal karena tak integrasikan trinitas ini, hasilnya stagnan, kualitas guru dan motivasi siswa rendah, dan tantangan digitalisasi semakin dilematis terutama dengan masuknya akal imitasi AI.
Lihat Indonesia 2025, Peta Jalan Pendidikan 2025-2045 nampak megah, tapi realitas rendah, masih banyak siswa tak paham teks sederhana, kesenjangan urban-rural membuat siswa pedesaan kalah start, korupsi erosi martabat, dan Kurikulum Merdeka implementasinya hambar karena guru tak dilatih kritis. Ini bukan nasib, tapi pilihan buruk kebijakan yang prioritaskan kuantitas (lulusan) daripada kualitas (pemikir). Indonesia Emas 2045, hanya akan menjadi mimpi jika trinitas ini diabaikan. Yang kita bangun bukan manusia, melainkan robot hafalan.
Freire-Vygotsky-Noddings dengan sikap kritis mengajak kita melakukan perubahan, dan evaluasi menyeluruh, atau kita selamanya terperangkap dalam ilusi pendidikan yang palsu. Ingat pendidikan bukan ritual, tapi revolusi jiwa.









