Working Real Japanese Man

rikjo2

sumber foto instagram oshigewataru

Tongkat yang Ditinggalkan: Makna, Simbol, dan Fungsi Ekspresi dalam “Working Real Japanese Man”

Di ruang amphitheater yang senyap pada senja akhir Agustus itu, tepatnya pada pementasan penutupan Lanjong Art Festival, 27 Agustus 2025., seorang lelaki berbusana putih memasuki arena. Tubuhnya tidak tegap; langkahnya cenderung ragu, seolah membawa beban yang tidak terlihat oleh mata penonton. Di tangannya, sebuah tongkat kayu dan sebuah lonceng sederhana tergantung tanpa pretensi. Ia menaruh tongkat itu di sisi arena, memandangnya sesaat, lalu pergi begitu saja, seakan meninggalkan sesuatu yang penting namun terlalu berat untuk terus dibawa.

Adegan pembuka ini tampak kecil, bahkan seolah sepele. Tetapi dalam konteks Working Real Japanese Man, karya tiga seniman Jepang—Yamato, Wataru Oshige, dan Toshihiko Jo—tongkat itu bukan hanya properti panggung. Ia adalah penanda simbolik, alat ekspresi tubuh, sekaligus penyimpan makna sosial yang berlapis-lapis.

Jejak Identitas: Beban yang Sengaja Ditinggalkan

Ketika lelaki itu menaruh tongkatnya, gerakannya terasa lebih dekat pada ritual ketimbang aksi panggung biasa. Ada semacam penyerahan, atau mungkin penangguhan. Tongkat itu tidak ditinggalkan sebagai barang tak berguna; ia diletakkan seperti sesuatu yang akan kembali di kemudian waktu—dan penonton terbukti benar. Di akhir lakon, tongkat itu digunakan dalam adegan perkelahian komikal yang mengguncang tawa penonton.

Namun pada adegan awal, ia berfungsi sebagai metafora beban sosial, terutama beban kerja yang begitu melekat pada kehidupan masyarakat Jepang. Dalam budaya Jepang, kerja bukan sekadar aktivitas ekonomis, melainkan identitas. Penelitian dalam jurnal Work Discipline as One of Japanese People’s Characters mencatat bahwa pekerja Jepang hidup dalam etos yang dibentuk oleh nilai gaman (ketahanan) dan ganbaru (berjuang sekuat tenaga). Di sana tertulis:

“Disiplin terhadap waktu dan efisiensi kerja muncul dari nilai tradisional dan sejarah Jepang pasca–Perang Dunia II.”

Tongkat yang ditinggalkan itu mencerminkan disiplin yang menuntut, beban moral, dan tanggung jawab sosial yang sering kali tidak bisa dijelaskan, hanya dirasakan—dan mungkin, kadang ingin ditanggalkan.

Siklus Kerja: Dari Ritual ke Rutinitas

Setelah tongkat diletakkan, dua “white man” memasuki ruang. Mereka menghamparkan pakaian kerja dengan khidmat, seperti seorang pendeta menyusun perlengkapan upacara. Dentingan lonceng mengikuti mereka, membuat suasana berubah dari kesunyian menjadi ritmis. Ada yang sakral dari cara mereka membungkuk ke segala arah, seolah memberi hormat pada sesuatu yang lebih besar dari mereka.

Pada saat ini, tongkat itu menjadi poros yang menghubungkan fase-fase pertunjukan:

  • saat diletakkan, ia mewakili awal dari siklus kehidupan pekerja,
  • saat dilupakan sementara, ia menandai rutinitas,
  • saat diambil lagi untuk berkelahi komikal, ia menandai kejenuhan, bahkan pemberontakan kecil.

Dalam tradisi teater dan tari Jepang, objek sering kali memuat energi simbolik. Butoh, misalnya, menggunakan benda sederhana sebagai titik pemberat emosi. Tatsumi Hijikata pernah mengatakan bahwa objek dalam pertunjukan bukan sekadar benda, melainkan “perpanjangan tubuh yang memori-memorinya disimpan dalam diam.” Tongkat itu, dalam konteks karya ini, menjadi memori tentang tubuh-tubuh pekerja yang hidup dalam siklus tanpa henti: bangun, berangkat, berjuang, pulang, lalu mengulang.

Komedi Fisik: Melunakkan Luka Kolektif

Ketika adegan mulai terasa berat—lelaki itu berlari, melompat, kehilangan jasnya, kepanasan sambil berteriak “panase”—tongkat muncul kembali. Kali ini bukan sebagai simbol beban, tetapi sebagai alat permainan. Mereka bertiga menjadikannya pedang, penanda konflik, sekaligus sumber tawa.

Adegan perkelahian itu tidak pernah mengarah pada kekerasan nyata, meski pada satu momen tongkat tampak benar-benar mengenai kepala Wataru. Para penonton terbahak, sementara di balik kelucuan itu sesungguhnya ada ironi: dalam realitas, tekanan kerja bisa lebih menyakitkan dari apa pun yang dapat dilukiskan tongkat kayu.

rikjo1
sumber foto instagram oshigewataru

Seniman Jepang lain, Yoshinori Niwa, dalam karya-karyanya tentang konsumsi dan labor, pernah menyatakan bahwa humor diperlukan “untuk membuka pintu menuju percakapan yang biasanya dianggap terlalu serius.” Humor, dalam konteks ini, bukan pelarian, tetapi cermin. Dan tongkat menjadi alat untuk memantulkan absurditas kehidupan pekerja modern.

Kegelisahan Kolektif: Seni yang Lahir dari Dunia Kerja

Dalam wawancara melalui direct message Instagram pada 27 November 2025, Wataru menulis dengan jujur:

“Kami sering bertanya pada diri sendiri: untuk apa sebenarnya kita bekerja? Kami bekerja sampai mengorbankan tubuh dan jiwa, dan saya ingin mengekspresikan realitas itu di atas panggung.”

Kalimat ini membuka lapisan terdalam dari simbol tongkat: ia adalah tanda kegelisahan kolektif. Karya ini tidak lahir dari imajinasi bebas; ia tumbuh dari kehidupan nyata di negeri yang memuja produktivitas hingga sering melupakan manusianya sendiri.

Tidak mengherankan bila banyak karya seni kontemporer Jepang memiliki akar yang sama. Linda Hoaglund, dalam artikelnya di visualizingcultures.mit.edu tentang seniman reportage Jepang tahun 1950-an, mencatat:

“Banyak seniman pascaperang memilih seni untuk melawan otoritas, mengungkap penderitaan masyarakat, ketidakadilan, dan kondisi kerja keras para pekerja.”

MoMA menambahkan bahwa avant-garde Jepang berkembang bukan dari estetika murni, melainkan dari “kegelisahan sosial, ekonomi, dan politik” yang membentuk tubuh masyarakat Jepang modern.
Working Real Japanese Man mengikuti garis keturunan itu—menggunakan gerak komikal, suara, tubuh, dan tongkat kayu—untuk mengangkat pertanyaan yang tidak pernah selesai dibahas di Jepang: apa harga dari kerja keras itu?

Makna yang Tidak Pernah Diputuskan

Dalam sesi tanya jawab yang penuh tanya setelah pentas di Lanjong Art Festival, ketiga seniman itu menggoda wartawan dengan jawaban ringan. Jo berkata sambil tertawa kecil:

“Semua benar. Universal.”

Tidak ada satu makna yang mereka paksa untuk diterima. Tongkat bisa berarti apa saja: beban, alat, kekuatan, persoalan, bahkan sekadar kayu. Hal ini selaras dengan filsafat estetika Jepang yang merayakan ma—ruang kosong tempat penonton bebas mengisi maknanya sendiri.

Justru ketidakpastian itulah yang membuat tongkat menjadi kuat secara simbolik. Ia bukan jawaban, melainkan undangan.

Tongkat yang Kembali ke Tangan Penonton

Ketika pertunjukan ditutup dengan selebrasi penuh lampu sorot, tongkat itu telah bertransformasi dari benda sederhana menjadi sarana perjalanan emosional. Ia mengantar penonton dari kesunyian ritual menuju gelak tawa, dari rutinitas menuju pemberontakan, dari beban menuju permainan.

Seperti etos kerja Jepang sendiri—disiplin, melelahkan, penuh humor tak sengaja, dan di baliknya mengandung kegelisahan eksistensial—tongkat itu menyimpan banyak lapisan yang hanya bisa diungkap pelan-pelan, lewat gerak tubuh dan dialog yang tidak pernah diucapkan.

Pada akhirnya, makna tongkat itu bukan hanya milik Yamato, Wataru, atau Jo. Ia kini milik siapa pun yang pernah berdiri di antara kelelahan hidup dan tawa kecil untuk bertahan.*** [Rika Rostika Johara]


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *