Paradoks dunia pendidikan;
Artificial intelligence-AI, membuat siswa menulis esai sangat rapi, menjawab soal dengan akurat, dan menyelesaikan laporan penelitian tampak profesional. Pertanyaannya: apakah mereka benar-benar pintar, atau sekedar nampak “pintar” tapi kosong, karena karyanya hasil polesan mesin kecerdasan?
Penelitian Robert Bjork dan Nicholas Soderstrom dari UCLA mengingatkan: performa tinggi, kerap tidak sejalan dengan pembelajaran jangka panjang. “Siswa bisa mendapat nilai 90 saat dites, tetapi ketika diulang seminggu kemudian nilainya bisa jatuh ke angka angka 60.
Ini disebut fenomena “illusion of competence”, terlihat paham, tetapi tak benar-benar memahami. Neurosains pendidikan Barbara Oakley bilang; otak hanya belajar saat proses berjuang, berpikir keras, dan membuat kesalahan, lalu menemukan kebenaran.
Proses ini memindahkan substansi dari memori “deklaratif” ke memori “prosedural”, membuat seseorang benar-benar ahli. Ketika AI mengambil alih proses itu, otak tak membangun nalar pengetahuan, tapi sekedar membuat ilusi.
Studi internal berbagai kampus menyebut, 64 persen mahasiswa yang mengerjakan soal dengan AI, hanya 18 persen yang benar-benar memahami materi.
Mereka menghasilkan karya lebih baik, tetapi kehilangan proses berpikir, lemah dalam membangun ide baru.
Studi di Harvard University terhadap 2.500 mahasiswa pengguna AI, ditemukan; “AI tutor” dirancang dengan prinsip pedagogis, mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dua kali lipat. Di Nigeria, program “AI berbasis instruksi” menghasilkan kemajuan setara 1,5 tahun pembelajaran klasik.
Artinya, teknologi yang sama dapat menghasilkan dua kutub pendidikan berbeda: satu sisi di mana siswa tampak pintar tapi kosong; sisi lain di mana AI benar-benar membuat mereka lebih pintar.
Pendidikan kita tak boleh berdiri di dua persimpangan itu. Mengapa? Karena ia rentan terjebak dalam “kepintaran palsu”. Alasan lain; dosen belum cukup kuat menghadapi disrupsi AI, masih perlu literasi dan numerasi memadai.
Survei pada Kementerian Pendidikan; menunjukkan 72 persen pengajar belum mendapatkan pelatihan tentang penggunaan AI. Sebagian besar hanya mengenal AI sebagai alat membuat soal atau menemukan teori, bukan “instrumen pedagogik” yang menguatkan memori.
Daniel Willingham mengatakan; memori itu “residu pemikiran” logis, tanpa proses itu, proses belajar tak menguatkan ingatan dan kecerdasan. Bagaimana AI dapat mengambil peran itu?
Perlu, desain pembelajaran kognitif berbasis AI, dimana hasil rekayasa AI bukan hasil akhir, melainkan proses “productive struggle with guidance”. AI hanya pemandu cara baru, mahasiswa tetap berpikir keras, pengajar harus memahami pedagogik berbasis AI”.
Mampu menciptakan prompt cerdas, mendorong proses berpikir kritis, bersandar pada etika dan moral serta statuta pendidikan, sehingga peran AI sebagai tutor, bukan mesin penjawab. Tanpa itu pendidikan hanya ruang menciptakan ilusi, tak memberi arti.
Perlu evaluasi “face to face” sehingga meyakini mahasiswa bukan hanya nampak cerdas “di atas kertas”, tetapi benar-benar menguasai substansi secara kontekstual dan konseptual. Kita menilai apa yang ada di kepala, bukan apa yang keluar dari mesin AI.
Ingat, pendidikan berbasis AI, tanpa sentuhan kognitif hanya menghasilkan generasi ‘smart output” tetapi “shallow thinking”.
Yogyakarta, 27 November 2025









