Di sebuah warung seblak pengkolan yang lakunya kebangetan. Bagaimana tidak kebangetan, saban hari buka dari jam delapan pagi dan tutup pada jam sepuluh malam. Dalam satu hari minimal seribu porsi keluar dengan rata-rata harga yang membeli sepuluh ribu perak. Meski memang ada juga yang membeli seblak lima ribu perak. Rata-rata yang beli lima ribu perak adalah anak-anak di sekitaran alias warga setempat.
Secara kebetulan rumahku tak jauh dari warung seblak tersebut, hanya terhalang oleh aspal hitam saja yang membentang laju berbelok. Di belokan itulah tepat posisi warung seblak berada dan rumahku ada di seberangnya, tentu saja. Baru juga papan warung yang berderet dibuka satu persatu pembeli sudah antre. Minimal paling sedikit di saban pagi harinya ada lima puluh orang yang sudah antre.
Apakah fenomena laris-manis tanjung kimpul ini disebabkan orang-orang sudah tidak doyan lagi makan nasi alias sudah berganti selera makanan pokok dari beras ke aci? Aci kalau sudah jadi adonan memang elastis mirip karet. Jangan-jangan orang-orang yang antre di warung seblak itu terinspirasi oleh tokoh D. Luffy si manusia karet adalah Monkey D. Luffy, tokoh protagonis utama serial manga dan anime One Piece, yang mendapatkan kemampuan tubuh elastis seperti karet setelah tidak sengaja memakan Buah Iblis Gomu Gomu no Mi saat kecil.
Analisa ini bukan tanpa alasan, bukankah pepatah berkata: Tak ada rotan akar pun jadi. Kalau dilarikan pada makna dari diksi suuzan, bisa jadi fenomena laris manisnya warung seblak yang satu ini memakai bumbu magik, tak ubahnya slogan lama: Kala cinta ditolak dukun pun bertindak. Bukankah di negeri ini profesi paranormal dan atawa dukun itu tumbuh subur sampai menduduki gedung-gedung penting.
Bayangkan saja, banyak sudah permainan sulap di sana melebihi David Copperfield yang hanya mampu menghilangkan sebuah pesawat terbang dan gedung megah saja dari pandangan kasat mata. Sedangkan di gedung-gedung penting sana permainan sulapnya bisa membeli pesawat terbang dan gedung megah yang dihilangkan oleh pesulap ternama sampai menjadi asset pribadi dan tidak terindikasi korupsi.
Fantastisnya, bukan hanya relasinya saja yang bisa mengayomi alias terstruktur dan massif, tetapi diperlukan juga potensi diri sepertihalnya kekuatan super power D. Luffy. Kekuatan ini memungkinkannya meregangkan tubuhnya untuk bertarung, meskipun ia juga kebal terhadap petir dan tidak bisa berenang karena Buah Iblisnya. Berdasarkan survey kecil-kecilan tidak menutup kemungkinan bahwa praduga ini benar, soalnya sederhana saja: Rata-rata yang membeli seblak ke warung sana itu orang-orangnya tak bisa berenang.
Hal ini sudah dibuktikan langsung kala aku pernah menjajakan tiket renang dengan cara asongan yang didiskon jor-joran sampai sembilan puluh persen. Akan tetapi kemungkinan kedua selalu ada, barangkali mereka atawa orang-orang yang membeli seblak tersebut tak doyan mandi seperti kucing atau kecoa, meski anti air tetap saja tubuhnya mengkilap. Ah, terlalu porno ini peristiwa dalam merangkai kisah jika terus dituliskan. Padahal cerita aslinya begini:
Di warung seblak itu, ada seorang anak lelaki berusia sembilan tahun sedang asyik ngobrol dengan seorang anak perempuan dewasa berusia sekitar dua puluh lima tahun. Aku yang tengah dalam antrean tanpa mau ketinggalan ikut menguping juga percakapan mereka, bukan sebab apa dan mengapa, serta bukan disebabkan bahwa nona muda itu parasnya mirip sekali dengan mantan terkasih serta terindah di usia remajaku kala itu:
“Oh… baru kelas tiga esde?”
“Iya. Kalau kakak?”
“Baru lulus kuliah eS.3. Setahun lalu. Kemarin nyoba nyalon dan lolos jadi anggota dewan. Makanya adek harus pintar seperti kakak. Kakak itu dari sejak esde sudah dapat beasiswa. Tiga bulan di teka. Tiga tahun di esde. Dua tahun di esempe dan satu tahun setengah di esemea. eS.1 dua tahun. eS.2 setengah tahun. Dan eS.3 satu tahun.”
Anak itu tak menjawab. Barangkali dia bingung harus menjawab apa atau bisa jadi juga tak mengerti tentang jenjang sekolah. Dan kemungkinan terakhirnya itu ia tak mengerti maksud arah ucapan nona muda itu ke mana. Ia hanya fokus pada makan seblak yang ada di hadapannya:
“Kok diam sih dek?”
“Bingung!”
“Bingung akan kepintaran kakak?”
“Bukan!”
“Terus?”
“Tadi itukan kakak bilang … kemarin nyoba nyalon tapi kok lolos jadi anggota dewan?”
“Iya, terus?”
“Kan, kalau aku pergi nyalon, ya kak … yang ada mamah suka marah-marah pada tukangnya, kurang pendek, harus dipangkas ulang. Apa karena mamahku suka marah-marah pada tukang nyalon, jadinya aku tidak pernah lolos jadi anggota dewan seperti kakak. Eh … anggota dewan itu apa sih kak?”
“Hem … begini: Adek masih punya bapak?”
Anak itu mengangguk penanda sebuah jawaban yang tak perlu lagi untuk dipertegas:
“Pekerjaan bapak adek itu apa?”
“Tukang kebun!”
“Tukang kebun? Serius?”
Lagi-lagi jawaban anak itu hanya mengangguk:
“Boleh kakak kenalan dengan bapakmu? Siapa tahu nanti kakak bisa jadi mahmud-mu!”
“Kok kakak tahu nama bapakku Mahmud?”
“Mahmud? Ah, tepat! Begini dek, ketika kakak berani nyalon itu ingin jadi tukang kebun. Adek harus tahu bahwa yang diimpikan oleh semua orang di dunia ini jadi tukang kebun. Ya, minimalnya jadi istrinya tukang kebun itu sudah prestasi yang membanggakan dek. Dan adek harus tahu sejak dini, bahwa demokrasi itu menjanjikan pluralitas, tetapi siapa yang berkuasa selalu tergoda menjadi tukang kebun tunggal!”
“Pantesan kalau bapakku sedang bekerja, tak mau ada yang lain membantu!”
“Tepat. Sebab kontradiksi adalah gangguan yang harus segera diperbaiki. Bila perlu dipangkas dan dirabut dari tanah biar tak menjadi wabah!”
“Maksud kakak?”
“Bunga-bunga di taman itu ibarat pikiran yang menawarkan ragam wangi. Akan tetapi ketika terlalu banyak wangi maka bunga-bunga itu tidak berumur lama!”
“Bapak juga selalu bilang begitu. Bahkan suka rugi kalau tak bisa panen bunga, akibat cuaca buruk!”
“Tepat! Sebab kekuasaan tukang kebun itu seringkali mengubah janji jadi perangkap. Taman yang tampak sebagai ruang kebebasan, ternyata hanya menjadi sarana untuk mengontrol dan memanipulasi.”
“Pantesan … kata bapak … mereka para pelanggan itu bisa pindah ke taman yang lain.”
“Tepat. Sebab mereka yang berani menebarkan wanginya hanya akan diidentifikasi, ditandai dan kemudian disingkirkan. Kebebasan untuk mekar di taman itu hanya diberi ruang sekadar untuk tumbuh sebentar, hanya untuk mengetahui siapa yang harus dikontrol dan disingkirkan dari taman.”
“Pantesan … bapakku pernah bilang juga … bahwa pohon bunga yang berhama itu harus dimusnahkan!”
“Tepat. Sebab sejarah seringkali menunjukan ironi pahit bahwa slogan kebebasan itu terkadang hanya menjadi pintu menuju penindasan baru!”
Tiba-tiba saja anak itu tersenyum dengan pandangan fokus pada seorang lelaki tua yang baru saja datang, di tangan kirinya menengteng gunting besar dan di bahu kanannya sebuah cangkul yang dipikul dengan pertahanannya itu ada pada genggaman tangan kanannya:
“Nah … itu bapakku, kak … Kakak bisa kenalan.” ucap anak tersebut dengan sorot mata bersinar penuh makna. []










Cerpen epik cerdas tingkat dewa ini mah
Bernas
Sukaaaaaa
Nice