Saponda Laut: Pulau Buntung di Laut Banda

adr scaled

Laut tak pernah menanyakan berapa tanganmu, hanya seberapa tabah engkau mendayung.

Air asin bukan hanya dari laut. Kadang ia berasal dari mata, dan mengering di pipi anak perempuan yang tak pernah bicara itu.

Ia duduk di buritan, memeluk kaki ibunya. Tak menangis, tak tersenyum. Tapi siapa pun tahu, jika kail yang dilempar tak dapat tangkapan, ia akan menangis dalam diam. Dan kalau sang ayah, dengan tangan buntungnya yang kasar, mengusap pipi kecilnya, ia akan tertawa seperti riak kecil di perairan tenang.

Anak itu lahir empat tahun lalu, tak lama setelah sang ayah kehilangan tangan kanannya. Warga Saponda Laut tak banyak bertanya soal masa lalu itu. Mereka tahu, kadang laut tak hanya mengambil ikan atau jarring, ia juga bisa menelan bagian tubuh, dan membawa pulang rasa bersalah yang tak bisa dikeringkan waktu.

Hari-hari nelayan buntung itu dimulai saat embun belum jatuh dari atap terpal rumahnya. Ia menyiapkan tombak gurita, bukan tombak teripang. Tombak gurita pendek, tajam, dan dililitkan karet di pangkalnya agar bisa ditembakkan dari jarak dekat. Tak seperti tombak teripang yang panjang, tombak gurita harus digenggam lebih dekat ke laut. Tapi justru karena itulah, ia mengandalkan tangan kiri sepenuhnya. Ia meluncur ke laut dengan tubuh miring, satu tangan menggenggam tombak, mata kirinya menerobos bayang-bayang karang. Mata kanannya mengabur, mungkin karena katarak atau garam yang terlalu sering menempel. Kata nelayan lain, “Kalau menyelam, dia seperti gasing di dalam air.”

Tak ada air bersih di Saponda Laut. Mereka menadah hujan di ember bekas, dan sisanya dibawa dari daratan, dari kampung induk. Rumah-rumah terbuat dari papan bekas, botol plastik, seng robek, dan jaring rusak yang diikat jadi dinding. Atapnya terpal biru atau daun cemara yang sudah mengering. Pulau ini hanya ditumbuhi pinus dan cemara laut. Tak ada bakau, tak ada sumur, tak ada lensa air tanah. Tapi lautnya jernih, seperti mata bayi yang belum mengenal luka. Justru karena tak ada bakau dan limbah, air di Saponda Laut seperti kaca bening yang menyimpan napas dalam setiap hembus ombak.

Pada 4 Agustus 2025, kecepatan angin mencapai 18–21 knot di pagi hari. Ombak mulai dari 1 meter, naik jadi 1.5 sampai 2.5 meter menjelang siang. Tapi nelayan buntung itu tak peduli. Ia justru menyelam saat gelombang mulai tumbuh, karena gurita lebih sering keluar dari sarang ketika arus mulai bergerak.

Ia tak pernah menyelam sendiri. Istrinya ikut ke laut, meloncat dari perahu di perairan dangkal, menyusuri dasar laut mencari kerang. Seringkali mereka diam, hanya saling menoleh untuk memberi tanda. Tangannya yang buntung tak jadi beban. Justru itulah yang diandalkan anaknya untuk mengenal dunia: ia akan meraba bekas luka itu, kadang mengusap dengan bibir, kadang memeluknya seolah itu satu-satunya kebenaran dari tubuh ayahnya.

Saya pertama kali duduk di rumahnya setelah kembali dari laut. Beberapa warga berkumpul. Rokok dilinting dari kertas koran, baunya bercampur dengan asin badan yang belum kering. Seutas celana dalam tergantung di tali jemuran yang membentang di beranda rumah. Tak ada rasa malu. Di tempat seperti ini, kain yang kering adalah kemewahan. Ada anak kecil tertidur di lantai, kepalanya menyandar pada karung bekas yang dijadikan bantal. Mereka bicara tentang cuaca, tentang perahu yang kemarin terbalik, tentang istri yang mulai mengidam mangga muda padahal tak ada pohon mangga di pulau ini.

Saya memilih duduk di lantai, dekat tiang tengah rumah. Dari situ saya bisa melihat laut. Rumah ini dibangun dari kayu bekas dermaga, digabung dengan papan reklame tua, dan tiangnya disangga karung pasir yang ditumpuk. Lantainya tidak rata, tapi bersih. Bau asap rokok dan ikan asin menempel di baju saya. Tapi saya tak ingin pergi.

Mereka tidak menyebut diri mereka miskin. Tak ada yang merasa kekurangan di sini, kecuali jika air hujan tak turun lebih dari seminggu. Tapi bahkan di hari paling kering pun, senyum masih ada di bibir perempuan-perempuan tua yang menjemur ikan, dan anak-anak masih berenang telanjang sambil menjerit kegirangan ketika perahu motor melintas.

adrc

Saya duduk lama di rumah itu karena satu alasan sederhana: tubuh nelayan buntung itu tidak menyalahkan laut. Ia kehilangan tangan kanannya di laut, tapi ia tak menyimpan dendam. Laut tetap ia cintai. Setiap gurita yang ia tangkap, ia bisikkan terima kasih sebelum ditusuk tombak. Istrinya akan membersihkan hasil tangkapan dengan lembut, dan anaknya akan menatap mata gurita sebelum ia tahu bahwa makhluk itu tak bisa hidup lebih lama di dunia yang kering.

Pernah, sebelum kehilangan tangan, ia menyelam terlalu dalam mengejar ikan. Di situ ia sadar bahwa tubuh manusia memang bukan untuk laut. Tapi laut juga bukan untuk dilawan. Ia tak ingin bicara tentang insiden yang membuatnya buntung. Tapi dari cara ia menatap ujung lengan kirinya yang kini jadi pusat hidupnya, saya tahu ia tak ingin mengingatnya sebagai kecelakaan. Ia hanya berkata, “Tuhan menyisakan satu tangan agar saya bisa tetap menunjuk arah pulang.”

Pulau ini kecil. Hanya sekitar 30 rumah singgah. Beberapa bukan rumah tetap hanya bangunan seadanya untuk berteduh selama musim tangkap. Tapi pulau ini menyimpan napas laut Banda yang dalam dan tenang. Ya, laut Banda. Secara geografis, Saponda Laut berada di gugusan kepulauan bagian timur Kendari, Sulawesi Tenggara, dan secara ekosistem laut, ia terhubung langsung dengan wilayah utara Laut Banda: lautan dalam, tua, dan penuh arus bawah yang tak bisa dibaca hanya dengan mata telanjang.

Saya akan meninggalkan pulau ini sebentar lagi. Ketika saya kembali, rumah itu mungkin masih berdiri dengan papan yang berbeda. Anak itu mungkin sudah mulai bicara, atau mungkin belum. Tapi wajah nelayan buntung itu, dan tangan kirinya yang selalu siap mengusap pipi anaknya, akan tetap sama.

Sebelum saya pamit, ia sempat berkata pelan, seperti doa atau peringatan:

“Tetaplah mencari rezeki di laut sebab Tuhan selalu bersama orang yang tabah mencari meski laut tak pernah melihatmu utuh.” []


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *