Sumbu Waktu

essai dramatik yoyo

Kita berjalan di atas serpihan batu bata tua
yang pernah menopang istana kata,
di mana leluhur menulis doa
dengan tinta yang terbuat dari sabar dan penghayatan.

Di tangan kita, kini
gawai yang lebih cepat dari kilat,
lebih nyaring dari genderang perang,
namun sering lebih sunyi dari kubur masa depan.

Apa yang tersisa bila kita buang semua yang lama?
Manuskrip rapuh, pahatan batu, lukisan gua,
yang dulu jadi peta arah,
kini ditinggalkan, dibiarkan jadi debu,
atau dipajang di etalase kaca
yang hanya disentuh mata, bukan hati.
Kita bagai sosok manusia di persimpangan:
setengah badan disinari cahaya kuning pudar
dari kitab, suling bambu, dan tawa leluhur;
setengah lagi tertelan nyala palsu
dari layar retak dan gedung yang menggigil di angin.
Kita berdiri di sumbu waktu,
di antara akar yang memanggil dan arus yang menyeret.

Bukankah begitu?
Melangkah cepat, tapi bertanya: ke mana?
Mengejar sinyal, tapi kehilangan suara sendiri.
Membangun kota, tapi lupa menanam arti.

Modernitas seharusnya bukan kuburan masa lalu,
melainkan jembatan antara kemarin dan esok.
Artefak bukan hanya benda,
melainkan ingatan yang menasihati kita dalam diam:
tentang sabar, tentang harmoni,
tentang manusia yang dulu menulis, memahat, menari—
bukan untuk viral,
tapi untuk merasa hidup.

Mungkin kita tak harus memilih:
bukan masa lalu atau masa depan,
tapi keduanya:
memijak tanah yang menyimpan nama para leluhur,
sambil menatap cakrawala baru dengan keberanian.

Karena di atas sumbu waktu,
hidup tak sekadar soal cepat atau canggih—
tapi tentang punya arah,
dan tahu dari mana kita berasal
agar tak lupa ke mana kita hendak pulang. ***


Apakah artikel ini membantu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *