Kita berjalan di atas serpihan batu bata tua yang pernah menopang istana kata, di mana leluhur menulis doa dengan tinta yang terbuat dari sabar dan penghayatan.
Di tangan kita, kini gawai yang lebih cepat dari kilat, lebih nyaring dari genderang perang, namun sering lebih sunyi dari kubur masa depan.
Apa yang tersisa bila kita buang semua yang lama? Manuskrip rapuh, pahatan batu, lukisan gua, yang dulu jadi peta arah, kini ditinggalkan, dibiarkan jadi debu, atau dipajang di etalase kaca yang hanya disentuh mata, bukan hati. Kita bagai sosok manusia di persimpangan: setengah badan disinari cahaya kuning pudar dari kitab, suling bambu, dan tawa leluhur; setengah lagi tertelan nyala palsu dari layar retak dan gedung yang menggigil di angin. Kita berdiri di sumbu waktu, di antara akar yang memanggil dan arus yang menyeret.
Bukankah begitu? Melangkah cepat, tapi bertanya: ke mana? Mengejar sinyal, tapi kehilangan suara sendiri. Membangun kota, tapi lupa menanam arti.
Modernitas seharusnya bukan kuburan masa lalu, melainkan jembatan antara kemarin dan esok. Artefak bukan hanya benda, melainkan ingatan yang menasihati kita dalam diam: tentang sabar, tentang harmoni, tentang manusia yang dulu menulis, memahat, menari— bukan untuk viral, tapi untuk merasa hidup.
Mungkin kita tak harus memilih: bukan masa lalu atau masa depan, tapi keduanya: memijak tanah yang menyimpan nama para leluhur, sambil menatap cakrawala baru dengan keberanian.
Karena di atas sumbu waktu, hidup tak sekadar soal cepat atau canggih— tapi tentang punya arah, dan tahu dari mana kita berasal agar tak lupa ke mana kita hendak pulang. ***
Yoyo C. Durachman lahir di Bandung 21 September 1954. Sejak lahir sampai sekarang tinggal di Kota Bandung dan Cimahi- Jawa Barat, meskipun tahun 1977 pernah tinggal di Jakarta selama enam bulan untuk menimba/mengamati pengalaman menjadi penulis dan aktivis teater.
Tahun 1978 menjadi Mahasiswa angkatan pertama Jurusan Teater ASTI (kini ISBI) Bandung dan sekaligus pada waktu itu juga bergabung dengan Studiklub Teater Bandung (STB) dengan kapasitas sebagai Aktor, Asisten Sutradara dan Sutradara, sampai sekarang. Di STB terlibat dalam pementasan pementasan; Lingkaran Kapur Putih, karya: Bertold Brecht; Antigone, karya: Sophokles, Egmont, karya: Goethe; Burung Camar, karya: Anton Chekov dan Impian di Tengah Musim, karya: W. Shakespeare. di STB pun pernah menyutradarai; Nyanyian Angsa, karya: Anton Chekov; Tiga Kehidupan Karya: Yasmina Resa dan Macbeth, karya: W. Shakespeare. Selain di STB aktif dalam pementasan Sanggar Kita Bandung, Jurusan Teater ISBI Bandung dengan kapasitas sebagai Aktor, Sutradara dan Produser.
Dunia kepenulisan meskipun tidak produktif, diakrabinya dengan menulis Cerpen, Puisi, Esai yang dimuat di Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Suara Karya, Gala, Bandung Pos, Prioritas dan Mandala, dan Jurnal Panggung serta dalam buku bunga rampai tulisan.
Sebagai Dosen Teater pernah mengajar di ISBI Bandung (1983-2019), IKIP (kini UPI- 1990-1995) dan IKJ (2002-2014).
Aktivitasnya sebagai penulis diperkaya dengan penelitian yang hasilnya dibukukan dengan Judul; Enam Teater/1996, Teater Tradisi dan Baru/2009, Perkembangan Konsep Penyutradaraan/2008.
Aktif menjadi Jury dan narasumber work shop dan seminar di Perguruan Tinggi dan beberapa Event dan Festival. Selain daripada itu pernah menjadi pengurus Dewan Kesenian Kota Bandung/2019-2023 dan kini menjadi Pengurus Dewan Kesenian Kota Cimahi (DKKC)2016 SD Sekarang.
Di Negeri dimana keberagaman menjadi fondasi ideologis, kini sedang menghadapi problem komunal. Hegemoni mayoritas meminggirkan minoritas. Keberagaman yang diagungkan dalam…